BAB 8

1071 Kata
Usai mengadakan acara White Festival, Ezra, beserta Morrigan dan juga Fin kembali ke istana dengan menggunakan kereta kuda yang disupiri langsung oleh ajudan kepercayaan Ezra, Galnariel. Sepanjang perjalanan Fin tak berhenti bertanya apakah ia bisa menjadi seorang Raja yang bijak dan apakah dia memiliki kemungkinan tertentu untuk menjadi seorang Raja. Mendengar hal itu, Ezra hanya tertawa kemudian mengusap kepala Fin dengan lembut. "Cucuku yang paling tampan, masuklah ke akademi elf terlebih dahulu, bertemanlah dengan bangsa elf biasa yang kau percaya bisa membawamu ke arah yang bijak. Maka dengan begitu, kelak kau akan lebih memahami situasi serta menjadikanmu seorang Raja elf yang lebih hebat dari aku dan juga Ayahmu," jawab Ezra. Fin tertawa mendengarnya, "Aku akan berusaha sebaik mungkin dan membuat Ayah sertat Kakek bangga kepadaku," balas Fin. Hutan Avalon yang menjadi tempat perayaan White Festival terletak di sebuah pulau tersendiri yang memang tak berpenghuni. Karena itu juga yang menjadikan Hutan Avalon tampak asri. Meski tak berpenghuni, hutan itu berada di bawah pengawasan penuh bangsawan elf. Karena khasiatnya yang mampu menyembuhkan dan mengembalikan kekuatan sihir bangsa elf, alhasil hutan itu tidak dibuka untuk ditinggali lebih dari waktu 1 tahun. Setiap orang boleh datang ke Hutan Avalon atas seizin Raja dan setiap bulan harus melakukan laporan apakah kekuatannya telah kembali dan kapan masa pulihnya selesai. Hutan Avalon sendiri terletak di sebelah barat Pulau Amadea. Pulau Amadea adalah pulau paling besar berisikan bangsawan elf dan rakyat elf biasa di dalamnya. Pada bagian tengah Pulau Amadea sekaligus bagian paling besar yang bahkan sampai menyentuh sisi barat Pulau Amadea adalah Istana Tessitura. Kerajaan utama bangsa elf. Kemudian pada bagian utaranya terdapat Kota Elysian, sebelah timurnya Kota Clivis dan sebelah selatannya adalah Kota Uisdean. Ketiga kota itu tentu saja dihuni oleh bangsa elf biasa. Sedangkan bangsa blood elf tinggal secara terpisah di bagian pulau lain. Yang jauh lebih utara dan berbatasan langsung dengan Laut Vihaan, sebuah perairan yang memisahkan antara kehidupan bangsa elf beserta bangsa manusia, noblesse serta bangsa vampire yang seluruhnya tinggal di Pulau Phaedra, tempat dimana Kota Adarlan, Kota Wendlyn, Kota Eyelwe dan Kota Terassen berada. Ukuran Pulau Phaedra bisa dibilang 3 kali lebih besar dibandingkan Pulau Amadea. Namun meski begitu, jika dihitung berdasarkan populasi, populasi bangsa elf jauh lebih banyak dari pada manusia, vampire dan juga noblesse yang bahkan noblesse sendiri hanya berjumlah 1 orang. Pulau Saga menjadi tempat tinggal para bangsa blood elf. Mereka menjadi gerbang pertama tempat melintas orang - orang yang hendak masuk ke dalam daratan maupun wilayah perairan bangsa elf. Tak hanya itu saja, Pulau Saga sering kali disebut sebagai pulau tak berpenghuni lantaran bangsa blood elf yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam hutan, tidak pernah meninggalkan jejak. Rumah - rumah yang dibangun pun disihir menyerupai dan berkamuflase dengan pepohonan. Tak heran jika bangsa manusia tidak pernah melintasi Pulau Saga. Bahkan manusia yang masuk ke Pulau Saga sekali pun berhasil kembali akan lupa dan tidak akan ingat dengan apa yang mereka lakukan di dalam pulau itu. Di tepi pantai, Ezra, Morrigan serta Fin berbalik ke arah hutan. Kemudian Ezra tampak mengulurkan tangannya sembari menghela napas. "Semua bangsa elf yang tahu tentang Rodion sudah kami pusatkan di tengah hutan ini, Tuan," ujar Galnariel. "Bagus. Aku akan mulai menghapus tentang Rodion dari ingatan mereka," balas Ezra. Morrigan dan Fin menoleh. "Ayah? Apa yang Ayah lakukan?" tanya Morrigan. Ezra menatap Morrigan kemudian mengusap kepala anaknya. "Aku hanya ingin melindungi keluarga kita. Tak perlu ada yang mengingat Rodion sebagai anakku. Jika hal ini diingat oleh banyak bangsa elf padahal Rodion adalah anak pertamaku yang sebenarnya bahkan seharusnya menjadi penerus tapi malah mempelajari sihir dark elf, maka semua elf akan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Aku tak mau itu terjadi," ujar Ezra. "Tapi kenapa harus-" "Morrigan, ini adalah upaya terakhirku untuk melindungi bangsawan elf," potong Ezra cepat. Galnariel tampak menerima sinyal kemudian berbisik kepada Ezra. Sejurus kemudian Ezra menganggukan kepalanya dan memejamkan matanya. Sebuah cahaya putih kebiruan keluar dari tangannya. Sihirnya mulai bekerja dan menyebar ke seluruh bangsa elf yang ada di dalam hutan. Mereka menghapus ingatan para bangsa elf tentang Rodion. Tak ada lagi bangsa elf yang mengingat siapa Rodion bahkan hari - hari mereka yang pernah dilewati seperti menyapa Rodion pun hilang. Dengan bantuan kekuatan sihir di dalam Hutan Avalon, sihir Ezra menyebar dengan cepat dan tidak memberikan efek apapun namun menghapus setiap memori kecil tentang Rodion yang ada dalam ingatan mereka. Usai menghapus ingatan para bangsa elf yang hadir di sana, dan sudah dipastikan oleh Galnariel jika semua bangsa elf hadir. Ezra pun menatap Fin dan memegang pelipisnya. "Maaf aku harus mengambil ingatan ini. Karena ini pasti akan menyakitimu di masa yang akan mendatang," ujar Ezra kemudian turut menghapus ingatan Fin dengan mudahnya. Ezra mereka ulang jika Morrigan adalah anak tunggal Ezra dan kematian Lara bukanlah karena sihir hitam milik Rodion, melainkan karena melahirkan Fin. Itulah ingatan yang dihapus dan diubah oleh Ezra. Fin tampak menatap Ezra seolah tak ada yang terjadi. Perasaan sakitnya atas kehilangan Lara jauh lebih baik dari sebelumnya setelah ia sempat menangis selama beberapa jam karena tahu jika Ibunya meninggalkannya. "Ayo kita pulang," ujar Ezra kemudian naik ke atas perahu dan diikuti dengan Morrigan serta Fin. Ezra menatap ke arah lautan lepas di atas kapal. Dengan Galnariel sebagai orang terakhir mereka pun akhirnya meninggalkan Pulau Hutan Avalon. Keputusan ini adalah keputusan terakhir Ezra sebagai Raja. Ia sengaja menghapus ingatan semua orang dan sesampainya di istana nanti, dia juga akan menghapus ingatan para pelayan istana tentang Rodion termasuk Rodion yang menggunakan sihir hitam di dalam istana. Hanya ada 4 orang yang mengingat tentang Rodion, yang pertama adalah Ezra, kedua adalah Morrigan, ketiga Galnariel dan terakhir adalah Oliver, sang ketua bangsa blood elf. Ezra sengaja menghapus memori tentang Rodion juga dari ingatan Marie. Mengingat Marie yang bahkan tidak bersemangat sampai tidak mau ikut dalam acara White Festival karena kehilangan anaknya. Sedangkan Morrigan pantas mengingatnya karena dia adalah Raja, lalu Galnariel dan Oliver disisakan karena mereka mungkin akan hidup jauh lebih lama dari pada Ezra dan mungkin saja bisa menjadi sumber informasi di masa yang akan datang jika saja keturunan atau Raja selanjutnya membutuhkannya. "Morrigan, nanti susulah dia ke tempatnya lebih dulu. Aku mau menemui Ibumu," ujar Ezra. Seolah mengerti jika Ayahnya akan menemui Marie untuk menghapus ingatannya juga tentang Rodion, Morrigan pun mengangguk. Sedangkan Fin justru tampak bingung dengan kemana Morrigan akan pergi. Tapi ia pun tak mau ambil pusing, karena Morrigan kini seorang Raja yang sudah pasti akan sibuk dan memiliki tugas kerajaan serta mengurus rakyat bangsa elf.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN