Ezra, Morrigan, Fin dan juga Galnariel akhirnya tiba di Istana Tessitura. Beberapa pelayan langsung menyambutnya dengan ramah dan mengucapkan selamat kepada Morrigan yang kini telah manjadi Raja bagi Kerajaan Tessitura.
"Selamat atas kedatanga anda kembali, Tuan Morrigan," sapa Atlas, seorang bangsa elf yang diangkat oleh Ezra dan ditunjuk menjadi orang kepercayaan Morrigan nantinya.
Ezra menoleh dan menepuk bahu Morrigan, "Morrigan, dia adalah Atlas, yang akan membantumu sebagai Raja ke depannya. Melakukan hal yang sama persis seperti dilakukan oleh Galnariel kepadaku," ujar Ezra.
Morrigan menganggukan kepalanya kemudian menyapa Atlas, "Mohon bantuannya," ujar Morrigan.
"Saya dengan senang hati akan membantu Tuan menjadi seorang Raja yang bijaksana," balas Atlas sembari menundukan kepalanya.
"Oh ya, Atlas juga mempunyai seorang anak laki - laki. Sepertinya seumuran dengan Fin," ujar Ezra sembari melirik ke arah Fin yang berdiri di belakangnya.
Atlas menganggukan kepalanya, "Benar, Tuan. Saya memiliki seorang anak laki - laki dan usianya berbeda 10 tahun dari Tuan Fin," ujar Atlas.
"Sesekali ajaklah anakmu ke Istana agar bisa menemani Fin bermain dan menghabiskan waktunya. Dia pasti merasa kesepian setelah kehilangan Ib- maksudku kehilangan aku, aku menjadi Raja dan otomatis menjadi sibuk. Dia butuh teman bermain," titah Morrigan yang hampir saja keceplosan mengenai Lara.
Morrigan harus menjaga pembicaraannya mulai sekarang. Susah payah Ezra menghapus ingatan Fin, tidak mungkin dia harus kembali membuka luka tentang Lara sekali lagi.
"Ayah benar, mungkin akan lebih baik jika aku ada teman dekat dan bisa masuk bersama ke akademi," ujar Fin.
Setelah menyapa Atlas, barulah Ezra beserta yang lain masuk ke dalam istana.
Ezra tampak masuk ke dalam kamar. Di sana Marie duduk terdiam di depan balkon kamarnya sembari menatap pegunungan dan hutan - hutan yang lebat di depan sana. Matanya menatap kosong ke arah matahari yang perlahan terbenam.
"Sayang," panggil Ezra.
Sang mantan Raja elf itu bisa merasakan hawa kesedihan dari Marie akibat kehilangan anaknya. Meski itu adalah kesalahan anaknya, tetapi Marie tetap saja merasa bersalah. Terlebih dia adalah Ibunya, otomatis ia merasa gagal menjadi seorang Ibu yang mendidik anaknya dengan baik.
Ezra berjalan ke arah Marie dan memeluk Marie dari belakang.
Marie tersentak dan menoleh dengan mata sembapnya, "Apa tadi acaranya berjalan dengan baik?" tanya Marie.
"Ya, berjalan dengan baik," jawab Ezra.
Ezra membalik tubuh Marie dan mencium keningnya perlahan kemudian menatap wanita yang ia cintai selama ribuan tahun itu.
"Aku sudah memberikan seluruhnya kepada Morrigan. Maaf aku tidak bisa menolong anak kita, aku pikir aku bisa menolongnya, tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Rodion menggunakan sihir itu jauh lebih lama dan lebih sering dari yang aku kira," ujar Ezra.
Marie hanya menganggukan kepalanya pasrah.
"Aku tahu. Maaf aku sudah gagal menjadi Ibu yang baik dan gagal dalam mendidik anakku sendiri."
"Jangan salahkan dirimu seperti itu, Marie."
"Maafkan aku."
Perasaan sakit hati, kecewa, sedih, marah dan semua hal yang buruk terasa memancar dari dalam hati Marie. Membuat Ezra yang ikut merasakannya pun merasa pedih yang mendalam.
Sebelum ia menghapus ingatan Rodion, Ezra menatap lekat ke arah Marie.
Seolah tahu, Marie pun hanya menganggukan kepalanya dan berkata, "Aku siap. Lakukan seperti janjimu tadi pagi."
Tadi pagi, sebelum Ezra pergi, ia memang mengatakan akan menghapus ingatan semua orang tentang Rodion dan menjadikan kejadian bangsawan elf yang menggunakan sihir hitam sebagai rahasia terdalam yang tidak akan diketahui oleh siapapun.
Tetapi Marie menolak, dan itu membuat Ezra frustasi. Apa lagi Marie memang sangat menyayangi kedua anaknya. Akhirnya berkat kesepakatan mereka berdua, Ezra tak akan sepenuhnya menghapus Rodion dari dalam ingatannya.
Melainkan merekayasa dan membuat ulang ingatan Marie yang menunjukan jika Rodion tewas setelah pergi berperang melawan Hydra dan Kraken.
"Ya, aku melakukannya seperti yang kamu minta," ujar Ezra.
Marie pun memejamkan matanya kemudian Ezra meletakkan tangannya dan sebuah sinar keluar dari sana. Tak lama, Marie kembali membuka matanya dan kini ingatannya tentang Rodion yang menggunakan sihir hitam hilang begitu saja.
Marie menatap Ezra dan tersenyum senang, "Sebaiknya malam ini aku masak untuk merayakan Morrigan yang mejadi Raja bukan? Maaf tiba - tiba aku teringat dengan Rodion. Anak itu memang keras kepala tapi setelah kepergiannya aku jadi merindukannya," ujar Marie kemudian pergi meninggalkan Ezra seorang diri.
Ingatan Marie tentang anaknya pun telah berubah.
Setelahnya, Ezra pun ikut keluar dari kamar kemudian menyebarkan sihirnya ke seluruh penjuru istana dan memastikan bangsa elf serta pelayan yang lain tidak ada yang mengingat Rodion.
Kini ingatan mereka pun direkayasa, dan yang mereka ingat adalah Ezra hanya memiliki seorang anak laki - laki. Kemudian di ingatan Marie, karena Rodion mati di tangan hewan magis, Marie meminta agar semua orang melupakan Rodion agar tidak bersedih. Benar - benar sebuah rekayasa ingatan yang membutuhkan banyak energi sihir.
Ezra melangkahkan kakinya ke dasar penjara bawah tanah yang terletak di paling bawah. Sebelum masuk, Ezra bertemu dengan 2 orang penjaga.
Mereka tampak menyapa Ezra, sebelum Ezra minta pergi, tak lupa Ezra menghapus ingatan kedua orang itu dan merubahnya jika mereka selama ini hanya menjaga seekor burung phoenix yang lepas dan menyakiti beberapa penghuni istana.
"Saya ambil alih dari sini," ujar Ezra.
Kedua pengawal elf itu menganggukan kepalanya dan pergi dari sana.
Ezra kembali melangkahkan kakinya ke arah penjara Rodion.
Setibanya di depan penjara, Galnariel tampak mendekat ke arah Rodion dan membuka pintu itu.
Sadar dengan kehadiran Ayahnya, Rodion menoleh, begitu juga dengan Esme.
"Ayah!" pekik Rodion.
Saat ia hendak memeluk Ezra, Galnariel segera memasang penyekat agar Rodion tidak bisa mendekati Ezra.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" pekik Rodion.
Dengan keduda tangan yang terikat dengan sebuah tali dengan sihir yang kuat, Rodion hanya menatap ke arah Ezra dengan wajah memelas dengan penuh permintaan ampunan atas apa yang ia lakukan.
"Rodion," panggil Ezra.
"Ya, Ayah? Maafkan aku. Aku tak akan lagi melakukannya. Sampaikan juga permintaan maafku kepada Morrigan, maaf sudah menyakitinya dan bahkan membunuh Lara," ujar Rodion.
Ezra berjalan mendekat ke arah Rodion.
"Mulai detik ini, kau bukan anakku lagi," ujar Ezra.
"Apa? Tapi- tapi kenapa?!" pekik Rodion.
"Dari sini, Galnariel dan Atlas akan mengirimkan kalian ke Hellion. Kalian bisa memilih akan tetap hidup atau mati," ujar Ezra.
"Ap- apa?!" pekik Esme.
Esme mendekat ke arah Ezra dan menatap pria itu.
"Maksud Ayah?" tanya Rodion.
"Aku sudah menghapus ingatan semua orang tentang kalian. Termasuk keluargamu, Esme. Mereka tak akan ingat ada Esme di dunia ini. Ini adalah hukuman kalian. Kalian akan dilupakan dan tidak diperkenankan untuk menginjakkan kaki lagi di Istana Tessitura," ujar Ezra.
Rodion mencelos mendengarnya, ia tak menyangka jika Ayahnya memberikan hukuman itu.
"Aku lebih baik mati," ujar Rodion.
"Jika aku membunuhmu, energi sihir hitam dalam tubuhmu akan menyebar. Lebih baik kau bunuh diri di Hellion," balas Ezra.
Rodion menyeringai mendengar perkataan Ayahnya. Ia merasa geram. Saat tangannya mencoba mengeluarkan sihir, usahanya sia - sia saja, karena gelang yang mengikat tangannya itu menahan seluruh kekuatan sihirnya termasuk sihir hitam yang selama ini ia pelajari.
"Galnariel, tolong antarkan mereka malam ini. Pastikan tak ada siapapun yang melihat dan tidak perlu beritahu Atlas, siapa mereka," titah Ezra kemudian keluar dari sana setelah mendapatkan anggukan kepala dari Galnariel.