BAB 20

1055 Kata
Beberapa bulan kemudian . . . . Langit yang cerah untuk mengawali hari. Seperti halnya yang dilakukan oleh Maverick hari ini. Pria bernama lengkap Matthew Evans Frederick itu tampak berlari dengan kaus putih dan celana hitam. Langkahan kakinya tertuju pada tempat pelatihan yang terletak di sisi barat istana. Tempat yang semula tak digunakan karena berdekatan dengan hutan istana, akhirnya digunakan atas izin Fin tentunya. Maverick sengaja meminta tempat itu sebagai tempat pelatihan bagi tim keamanan. Selain tempat yang luas, mereka bisa berlatih tanpa perlu mempedulikan akan merusak properti istana. "Pagi, Maverick," sapa Fin saat melihat Maverick yang masuk ke tempat pelatihan divisi keamanan. Maverick berhenti dan melihat Fin saat melihat pria itu yang ada di sana. Sambil berkacak pinggang dan menyeka peluh keringatnya, Maverick pun menatap Fin, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maverick. Fin menahan tawanya, "Memang apa salahnya jika aku di tempat ini? Lagi pula kan aku yang membangun tempat ini, bukan begitu?" tanya Fin. "Benar. Maksudku sedang apa kau disini?" tanya Maverick. "Aku ingin berlatih dan melawanmu hari ini," jawab Fin sembari memegangi pedangnya dan memperlihatkan di depan Maverick. Maverick mengangkat sebelah alisnya, "Melawanku?" "Ya, kegiatan tentang kerajaan membuatku merasa bosan. Jadi aku memutuskan untuk berlatih denganmu saja hari ini," ujar Fin. "Boleh saja. Tetapi sebentar lagi anak - anak dari divisi keamanan kerajaan akan datang," ujar Maverick. Fin tersenyum kemudian berjalan ke arah tengah dari tempat pelatihan dan mengatur posisi, "Baguslah. Biar mereka menjadi saksi siapa yang akan menang." Maverick menggelengkan kepalanya kemudian melangkah mendekati Fin dan ikut mengeluarkan pedangnya. "Baiklah jika itu maumu," ujar Maverick kemudian mulai mengayunkan pedangnya. Fin dengan cepat menangkis gerakan Maverick. Swooshh ! Ting ! Tring ! Suara aduan pedang yang begitu nyaring menarik perhatian seluruh penghuni istana. Bahkan Levi yang sedang berada di ruangan pendataan langsung tertarik saat mendengar suara aduan pedang itu. Levi keluar dari ruangannya begitu juga beberapa orang lainnya termasuk Evans yang sedang asik memasak dan Luna dengan sapunya yang menatap Maverick dan Fin sedang beradu pedang di tengah - tengah tempat pelatihan divisi keamanan kerajaan. "Apa yang mereka lakukan?" tanya Evans. "Entah, mungkin sedang berlatih," balas Levi. Tatapan mata kedua orang itu bahkan tak lepas dari Fin dan Maverick. Olivia yang baru datang langsung menjatuhkan tasnya saat melihat Maverick yang asik beradu pedang dengan Fin. Pertama kali baginya melihat momen langka seperti ini. Sing ! Sing ! Sing ! Suara pedang saling mengadu, membuat semakin banyak orang yang berdatangan. Karena divisi keamanan pun sudah jalan beberapa bulan, cukup banyak lulusan baru akademi elf yang diterima. Ada sekitar lebih dari 40 orang yang diterima. Salah satu dari mereka yang menonjol tampak berjalan ke arah Olivia dan berbisik kepadanya. "Bukankah ini momen sangat langka, melihat Tuan Maverick dan Raja Fin beradu pedang di tengah - tengah sana," ujar Xavier, salah satu anggota divisi keamanan kerajaan yang baru diterima beberapa bulan yang lalu. Olivia menganggukan kepalanya tanpa menoleh karena tak mau kehilangan momen berharga di depannya, "Benar sekali. Aku juga baru pertama kali melihatnya," balas Oliver. Maverick dan Fin terus beradu pedang, tak ada yang tampak kalah dan unggul, kedua pria itu justru sama - sama kuat dan mempertahankan posisi mereka. Membuat hasilnya pun terlihat imbang. "Apakah kau kehabisan ide menghabiskan hari ini sampai memilih bertarung pedang denganku?" tanya Maverick di sela - sela aduan pedangnya. Fin menepisnya kemudian membalasnya, "Tidak juga," "Bagaimana dengan wanita yang aku kenalkan? Apa cukup menarik untuk menjadi Ratu atau dia akan menjadi wanita ke 18 yang kau tolak karena merasa tak cocok?" tanya Maverick lagi. Saat ini memang Maverick sedang menjadi juru comblang untuk memperkenalkan Fin dengan beberapa wanita elf yang menurutnya cantik. Tentu saja para wanita itu akan menjadi Ratu dan istri bagi Fin. Serta melahirkan keturunan kerajaan yang bisa menjadi penurus Kerajaan Tessitura nantinya. "Sepertinya begitu. Kau harus mencari wanita ke 19 untukku, Maverick," ujar Fin kemudian menebas pedangnya dan Maverick pun mundur dengan menangkisnya. "Aku harus mencari yang lebih anggun lagi sepertinya," balas Maverick. Tiba - tiba saja, suara ricuh datang dari depan istana, membuat perhatian Fin teralihkan dan Maverick hampir saja menebas leher Fin. Untung saja refleks Maverick cukup baik dan dengan cepat Maverick menjatuhkan dirinya daripada mengenai pedangnya ke leher Fin. Bruk ! Olivia membulatkan matanya dan berlarian ke arah Maverick saat melihat pria itu tersungkur ke tanah. "Tuan!" pekik Olivia. Maverick duduk dan menatap Olivia, "Aku tidak apa - apa tenang saja," ujar Maverick. Fin melihat ke arah Maverick dan memberikan pedangnya, "Sepertinya ada sesuatu, tolong pegang ini," ujar Fin kemudian keluar dari arena pelatihan divisi keamanan. Benar saja, seorang penjaga pintu gerbang berlarian ke arah Fin dengan matanya yang membulat seolah terjadi sesuatu. "Ada apa?" tanya Fin. "T - Tuan! Ada rakyat dari Clivis yang d - datang!" ujar penjaga gerbang itu. Maverick yang penasaran kemudian membawa 2 pedang dan berjalan ke arah Fin serta penjaga gerbang itu. Tepat saat Maverick datang, penjaga gerbang yang satunya juga datang dan kali ini di belakangnya terdapat 2 orang elf yang sedang menggendong seorang elf lainnya. Fin berjalan menghampiri elf yang digendong dan membuka penutup kepala. Mata Fin membulat saat melihat tubuh elf yang kurus kering dan menghitam. "Astaga!" pekik Olivia saat melihat tubuh elf yang sudah tak bernyawa itu. "Apa yang terjadi?" tanya Fin. "Tuan, tadi pagi kami sedang asik menanam jagung di Clivis seperti biasanya, lalu tiba - tiba ada makhluk aneh dan menerkam rekan kami. Saat itu kami tak mampu menghadapinya dan kami bersembunyi, kami pikir rekan kami akan baik - baik saja dan hanya terluka sedikit, tetapi ternyata tubuhnya menjadi kering dan menghitam seperti kekuatan sihirnya dihisap sepenuhnya," ujar salah satu elf yang membawa temannya itu ke hadapan Fin. Fin menoleh ke arah Maverick seperti mengisyaratkan sesuatu kemudian Maverick pun menganggukan kepalanya. "Olivia dan Xavier tolong antarkan mereka ke ruangan kita, aku akan memeriksa mayat ini. Lalu Bella akan pergi ke Clivis dengan Julian. Kalian silakan periksa ke tempat kejadian," titah Maverick. Bella dan Julian langsung menganggukan kepalanya kemudian pergi bersama dengan 2 elf yang datang tadi, sedangkan mayat elf yang barusan dibawa pun diambil alih oleh Olivia dan juga Xavier untuk dibawa ke ruangan bagian divisi keamanan. Semua orang tampak tercengang dengan apa yang terjadi. "Maverick, tolong panggilkan Atlas kemari. Aku butuh kesaksiannya, barang kali hal ini pernah terjadi sewaktu kita di akademi," titah Fin kepada Maverick. "Baik," balas Maverick dan segera pergi ke rumahnya untuk menjemput Atlas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN