Mayat elf yang tubuhnya mengering itu dibawa oleh Maverick menuju tempat ruangan divisi keamanan. Di sana, Kaiden pun hadir untuk ikut melakukan pemeriksaan.
Saat Kaiden baru saja datang, ia terkejut melihat tubuh yang kering seperti sebatang pohon yang tak pernah disiram air selama berhari - hari dan bahkan menghitam seolah membusuk.
Meski tak ada bau yang keluar dari tubuh elf itu, tetapi semua orang yang menatapnya merasa ngeri.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Maverick kepada Kaiden yang melihat kondisi mayat elf tersebut.
Kaiden melangkah mendekati mayat itu dan menyentuhnya, "Tubuhnya kering seolah - olah seluruh energi kehidupan dan sihirnya dihisap oleh sesuatu," ujar Kaiden.
Fin berjalan mendekati mayat elf yang tergeletak di atas meja kemudian menyentuhnya, "Aku juga tak merasakan ada energi sihir yang tersisa. Sepertinya dia mati seperti terhisap oleh sesuatu," ujar Fin.
Olivia bergidik ngeri mendengarnya.
"Apa kau pernah mendengar kasus seperti ini sebelumnya?" tanya Fin.
"Tidak pernah," balas Kaiden.
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Atlas yang baru saja datang. Atlas langsung mendekati mayat elf itu dan tersentak serta matanya bahkan membulat.
"Ada apa, Ayah?" tanya Maverick.
Atlas menggelengkan kepalanya, "Apakah ini yang kau maksud kasus baru itu?" tanya Atlas.
"Iya, Tuan Atlas. Apakah anda pernah melihat kasus seperti ini sebelumnya?" tanya Fin kepada Atlas berharap Atlas pernah melihat kasus seperti ini di masa pemerintahan Morrigan dahulu.
Tapi sayangnya Atlas menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak pernah melihat kasus yang seperti ini. Sepertinya ini kasus baru," ujar Atlas.
Maverick berpikir sejenak kemudian teringat akan sesuatu, "Ini tak ada hubungannya dengan hal itu kan?"
"Hal apa?" tanya Fin.
"Kau ingat dengan perasaanmu yang aneh waktu itu di hari saat kita bertiga ke Tobias?" tanya Maverick.
"Ya aku ingat."
"Dark elf?" sahut Kaiden.
"Tidak. Kekuatan dark elf sepertinya tidak seperti ini. Mereka menghilangkan bangsa elf seperti debu, bukan dengan cara seperti ini," sahut Atlas.
Kaiden teringat dengan catatan Ezra, "Apa kasus ini ada di dalam buku saku milik Raja Ezra?" tanya Kaiden.
Fin menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku hafal betul isinya dan tidak pernah ada hal seperti ini," jawab Fin.
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini seorang penjaga gerbang berlarian dengan wajah paniknya dan menghampiri Maverick serta Fin dengan napas yang terengah - engah.
Fin melangkahkan kakinya mendekati sang penjaga gerbang, "Ada apa?" tanya Fin yang turut khawatir dengan berita yang akan disampaikan oleh sang penjaga gerbang.
"Bella dan Julian, mereka berdua berakhir tragis seperti ini, Tuan!" pekiknya.
Olivia membulatkan matanya, "Apa?!" pekik Olivia.
"Kau yakin?" tanya Maverick.
Sang penjaga gerbang itu menganggukan kepalanya.
Padahal Bella dan Julian cukup ahli dalam bertarung kemudian mereka justru berakhir seperti orang yang ada di hadapan mereka.
Setelah pemberitaan itu, 3 orang elf membawa tubuh Bella dan Julian yang tadi dikirim oleh Maverick untuk pergi ke Clivis.
"Memangnya mereka sudah sampai Clivis? Bukankah butuh waktu 1 malam untuk tiba di Clivis?" tanya Atlas.
Karena di luar istana adalah kebanyakan hutan dan jarak antara tiap tempatnya cukup jauh, untuk berpergian dengan kereta kuda biasanya memerlukan waktu sampai lebih dari 1 malam.
"Mereka naik kuda - kudaku yang memang bisa berlari cepat dan bisa tiba di Clivis dalam waktu yang cepat," sahut Fin.
Atlas menganggukan kepalanya, ia teringat jika kuda - kuda milik kerajaan memiliki asupan gizi yang tinggi sehingga mampu bergerak dengan cepat. Terlebih Bella dan Julian pergi tanpa membawa barang bawaan apapun.
"Dimana kalian menemukan mereka?" tanya Kaiden.
"Di Clivis, Bella dan Julian kebetulan akan menyelematkan salah seorang elf yang tertangkap oleh makhluk itu. Para warga berdiam di dalam rumah karena takut hewan itu menyerap energi mereka sampai mati," ujar salah satu elf yang rupanya menemukan Bella dan Julian.
Ketiga orang itu rupanya diselamatkan oleh Bella dan Julian. Mereka bersembunyi dan saat kembali Bella dan Julian telah habis dan kering seperti batang pohon yang tidak mendapatkan asupan air.
Setelah makhluk itu pergi dan aman, barulah ketiga elf dari Clivis itu segera membawa Bella dan Julian menggunakan kuda mereka.
"Jika terus dibiarkan korban akan bertambah banyak , Fin. Kau harus melakukan sesuatu," ujar Atlas.
"Betul, apa lagi sudah ada 3 korban sekarang. Kita tak tahu makhluk apa itu. Apakah Oriel atau entahlah," sahut Kaiden.
Fin tampak berpikir. Belum sempat ia selesai berpikir, Maverick pun mengajukan dirinya.
"Kalau begitu biar aku yang periksa. Aku akan menggunakan pedang kerajaan yang dibuat dengan baja untuk melawan makhluk itu. Mungkin saja bisa ditebas dengan benda itu," ujar Maverick.
"Baja? Bukankah pedang baja itu untuk Oriel?" tanya Olivia.
"Sebaiknya bawa juga pedang silvermu, Maverick. Itu pedang pemberian Raja Morrigan, bukan?" usul Atlas.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan pasukan untuk ke Clivis. Kalian akan berangkat besok pagi, bagaimana?" ujar Fin.
"Boleh. Nanti aku siapkan persenjataannya," sahut Kaiden.
"Aku ikut," sahut Olivia.
"Ya lakukan apapun maumu asal kembalilah dengan hidup," ujar Maverick.
Fin menoleh ke arah ketiga mayat elf yang ada di hadapannya.
"Perintahkan Luna untuk mengubur mereka di hutan belakang istana, mereka layak mendapatkan tempat terbaik. Lalu tutup gerbang istana dan jangan biarkan orang lain masuk," titah Fin kepada penjaga gerbang.
"Baik Tuan!" balas sang penjaga gerbang.
Tiga elf yang terdampar di istana kebingungan, "Lalu bagaimana dengan kami?" tanya salah satu pria itu.
Maverick menepuk bahunya, "Kalian akan pulang bersamaku besok. Besok aku akan ke Clivis. Sementara, bermalam lah di Istana atau di rumahku juga boleh," ujar Maverick.
Ketiga elf laki - laki itu tersentak. Mereka merasa segan jika harus bermalam di Istana, apa lagi mereka bukan siapapun. Mereka hanya orang beruntung yang ditolong oleh Julian dan juga Bella sehingga bisa mengantarkan kedua orang yang menolongnya kembali ke Istana.
"Ti - tidak. Kami menginap di rumah anda saja, Tuan. Saya merasa tidak enak jika harus tinggal disini. Benar begitu, Jasper?" tanya elf benama Shane itu.
Jasper yang ditanyai pun menganggukan kepalanya.
"Benar, Tuan. Izinkan kami tidur di rumahmu saja," ujar Jasper.
"Baiklah, kalian tidur di rumah kami. Nanti setelah makan malam kita akan pulang, tetaplah bersama kami," sahut Atlas.
"Baik, Tuan," balas Bradley, salah satu dari ketiga elf yang berasal Clivis itu.
Fin keluar bersama Kaiden dari sana. Sang penjaga, turut keluar untuk memanggil Luna agar membersihkan ruangan itu dan memakamkan ketiga elf itu di belakang hutan istana.
Sedangkan Maverick, Olivia beserta Atlas pergi mengumpulkan pasukan keamanan yang akan pergi ke Clivis.