Istana Tessitura, Lacoste
Fin melangkahkan kakinya menyusuri istana kerajaan. Setelah kejadian tentang ditemukannya 1 orang elf yang mati akibat diserap habis energi sihirnya secara misterius, Fin langsung memerintahkan Maverick untuk membentuk sebuah tim bernama Vadazs yang digunakan untuk memberantas makhluk misterius itu.
Karena makhluk itu bukanlah salah satu dari bangsa Oriel dan bahkan tidak teridentifikasi bukan dari dark elf yang menyamar, akhirnya Vadazs menamakan makhluk aneh dan asing itu sebagai Netvor.
Maverick memilih sekitar 20 orang untuk ikut bersamanya termasuk Olivia. Tentu saja Maverick orang - orang dengan kemampuan sihir serta penggunaan pedang yang handal. Tak hanya itu saja, beberapa di antara mereka juga pandai dalam menggunakan anak panah.
"Aku ke atas dahulu," pamit Fin yang segera pergi dari ruang makan, meninggalkan Maverick, Olivia, Kaiden, Atlas dan beberapa orang lainnya yang makan bersama dengannya.
Sebelum Fin pergi, Maverick tampak mengucapkan salamnya dan dibalas dengan Fin.
Tubuh Fin terasa lemas melihat 3 orang yang menjadi korban dalam 1 hari. Bahkan kasus yang tak biasa ini membuat Fin ragu apakah ia bisa menjadi Raja yang baik? Meski ia tahu Maverick akan membantunya untuk menjadi Raja yang baik dan dipandang bijak oleh bangsanya.
Kaki Fin terus melangkah ke arah lantai 3, kemudian mengarah ke sebuah pintu yang sudah lama tertutup. Dengan perlahan Fin membuka pintu usang yang tertutup debu tipis itu dan masuk ke dalamnya.
Ruangan itu adalah kamar milik Morrigan. Sekaligus kamar yang pernah digunakan oleh Ezra. Seharusnya Fin menempati kamar itu tetapi ia memilih menempati kamarnya sendiri dari pada harus berpindah ke kamar Morrigan.
"Setiap kali aku ke kamar ini, aku selalu merindukan sosokmu, Ayah," ujar Fin di dalam hatinya kemudian duduk di tepi tempat tidur sembari melihat sebuah lukisan besar dengan foto wajah Morrigan yang terpampang jelas di sana.
Lukisan itu dibuat secara khusus untuk Morrigan tepat setelah Morrigan 1 tahun menjadi Raja. Semua orang mencintainya dan itu menjadi ketakutan sendiri bagi Fin.
Karena sudah hampir satu tahun ia menjabat sebagai Raja, ia merasa belum banyak bangsa elf yang mencintainya.
"Ayah, apa aku bisa sepertimu? Apa aku bisa menjadi Raja yang bijak? Kenapa yang ada dalam benakku hanyalah sebuah ketakutan belaka?" ujar Fin sembari menatap lukisan Morrigan yang terpampang.
Di sudut kamar, Fin menoleh dan menatap ke arah lukisan Lara di sana. Fin bahkan tidak terlalu ingat dengan jelas bagaimana wajah Lara saat hidup dahulu.
Karena ingatannya perlahan memudar tentang Lara dan yang ia lakukan hanya menatap foto Lara berharap wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia tidak pernah ia lupakan.
"Ayah, doakan aku untuk menjalankan misi ini dengan baik. Aku berharap misi yang akan dikerjakan Maverick bisa berjalan dengan lancar. Kau tahu kan? Ini misi pertama kerjaan yang dipimpin olehku selaku Raja," ujar Fin sembari menyunggingkan senyumannya.
Ia berusaha menguatkan dirinya. Tanpa contoh, tanpa pembimbing, Fin harus bisa menjadi Raja yang baik di hadapan semua orang.
Setelah selesai mengunjungi Morrigan dan juga Lara, Fin pun ikut menyapa Ezra. Melihat buku yang diletakkan di atas meja yang ditempatkan tepat berada di bawah lukisan Ezra.
"Doakan aku ya, Kakek," ujar Fin kemudian keluar dari ruangan itu.
Sudah menjadi hal biasa Fin datang ke kamar Morrigan hanya untuk merenungkan langkah dan keputusan yang ia ambil. Meski seorang diri di dalam sana, Fin tetap merasa seperti ada sosok Morrigan yang membantunya di dalam sana.
Kakinya melangkah dan hendak menuju ke lantai 4, tempat dimana kamarnya berada. Ia harus beristirahat setelah lelah menjalani hari ini. Meski ia tak bertindak apapun, tetapi perasaannya lelah, apalagi seluruh strategi dibuat olehnya.
Selain karena baru kembali bertarung pedang, tubuhnya memang benar - benar terasa lelah. Saat kakinya melangkah, tiba - tiba saja Fin berhenti di depan sebuah kamar yang juga terletak di dekat bawah tangga menuju ke lantai 4.
Kamar itu berwarna hitam, pengait pintunya hilang seolah sengaja dicabut dan yang membuat Fin heran, kamar itu selalu tertutup.
"Kamar apa itu?" tanya Fin.
Meski ia sudah sering lantai 3, entah kenapa rasa penasarannya baru muncul sekarang. Mungkin karena ia baru memperhatikan kamar itu, karena selama ini Fin sama sekali tak pernah melewati kamar itu sama sekali.
Fin mengulurkan tangannya, berusaha membuka pintu itu dengan sihirnya namun nihil.
Bertepatan dengan Fin yang berusaha membuka pintu, secara kebetulan Winter melintas di depannya.
"Winter," panggil Fin.
Winter yang hendak menuju ke lantai 4 langsung tersentak dan menoleh, mendapati Fin yang berada di depan sebuah kamar kosong istana.
"Ya, Tuan?" balas Winter setelah berdiri tepat di depan Fin.
"Bisa tolong bukakan ruangan ini? Sepertinya kau menyimpan banyak kunci ruangan, kan?" titah Fin.
Winter menganggukan kepalanya kemudian mengeluarkan puluhan kunci dan mencari kunci itu satu persatu. Butuh waktu lama bagi Winter bekutat dengan kunci - kunci itu.
Satu persatu kunci diperhatikan oleh Winter, dan terus berulang sebanyak 3 kali, membuat Fin yang kehabisan kesabaran langsung bersuara.
"Gimana?" tanya Fin.
"Mohon maaf, Tuan. Sepertinya tidak ada di daftar kunci yang saya pegang. Sebentar saya ke kamar Ibu saya di lantai 1, mungkin Ibu saya menyimpannya," ujar Winter.
"Ya silakan."
Winter pun segera turun menuju ke lantai 1. Memang khusus bagian divisi kebutuhan Raja, disediakan tempat tinggal di dalam Istana. Jadi tak heran jika Karina dan juga Winter masih tinggal di dalam Istana bersama dengan Fin.
Setibanya Winter di kamarnya, Winter tampak mencari kunci - kunci lainnya kemudian beralih ke meja milik Karina. Dan saat Winter membuka laci itu, Karina masuk ke dalam kamar sampai membuat Winter tersentak.
"Apa yang kamu lakukan, Winter?" tanya Karina.
Winter kembali tersentak, "Aku mencari kunci kamar bawah tangga di lantai 3, Bu," ujar Winter dan kembali mencarinya.
Karina membulatkan matanya dan langsung meraih tangan Winter agar menghentikan pencarian, "Apa yang kamu lakukan? Bukankah Ibu sudah katakan kepadamu bahwa ruangan itu tidak boleh dibuka?" ujar Karina dengan matanya yang melotot menatap Winter.
"Memang kenapa tidak boleh, Bu?" tanya Winter.
"Kamar itu adalah kamar terlarang. Ibu mendapatkan perintah langsung dari Raja Ezra, sebaiknya jangan kamu buka, Winter," ujar Karina.
Rupanya Fin tidak menunggu di depan kamar itu melainkan ikut dengan Winter dan mengekor, sehingga ia mendengar seluruh pembicaraan Winter dan Karina.
Satu tangan Fin terulur dan membuka pintu kamar, "Memang kenapa? Apa jika aku yang meminta kamar itu untuk dibuka juga harus jangan dibuka?" sahut Fin yang membuat Karina langsung menoleh.
Karina langsung tertunduk, "Maafkan saya, Tuan, tetapi perintah Raja Ezra dan Raja Morrigan-"
"Mereka sudah mati. Sekarang aku Raja kalian. Siapa yang harus kau turuti ucapannya, Karina?" tanya Fin.
Karian tak berkutik, ia menelan ludahnya susah payah. Karena ucapan Fin memang ada benarnya.
"Tuan apakah anda tidak tahu jika kamar itu tidak boleh dibuka dan lebih baik ditinggalkan saja?" tanya Karina.
Fin melipat tangannya di depan d**a, "Aku ingin melihatnya. Sedari kecil aku tak pernah masuk ke sana. Tak ada susahnya untuk membuka kamar itu kan? Jika memang kotor, aku akan meminta Luna membersihkannya," ujar Fin.
Winter yang sedari tadi mencari kunci itu akhirnya menemukannya. Kunci itu disimpan di dalam sebuah kotak dan bahkan debu pun mulai hinggap.
"Ayo kita ke atas," ajak Fin saat melihat Winter yang berhasil menemukan kunci itu.
Saat Winter melintas di hadapan Karina, wanita itu berbisik kepada anaknya, "Sebaiknya kamu hati - hati jika berada di sana, Winter," titah Karina.
Seolah tak peduli, Winter hanya terus berjalan dan bersama dengan Fin, mereka berdua pergi kembali ke kamar yang ada di bawah tangga lantai 4 itu.
"Buka," titah Fin.
Winter menganggukan kepalanya dan membuka kamar itu dengan kunci. Rupanya Ezra memasangkan keamanan ganda hingga kamar itu hanya bisa dibuka dengan kunci yang dibuat oleh Ezra.
Treeeek !
Pintu kamar terbuka, puluhan debu menyambut Fin dan Winter.
Tangan Fin menebas debu - debu yang berterbangan ke arah wajahnya.
Uhuk !
Setelah beberapa kali terbatuk, Fin baru masuk ke dalam kamar itu. Kondisi kamar itu tampak gelap gulita, hingga akhirnya Fin menggunakan sihirnya untuk menyalakan lampu yang ada di sana.
Tring !
Seketika pencahayaan pun kembali. Suasana kamar itu menjadi terang.
Fin berjalan masuk ke dalam diikuti dengan Winter di belakangnya. Tak ada apapun di sana, bahkan lukisan pemilik kamar pun tak ada.
"Ruangan apa ini?" gumam Fin sembari mengitari ruangan itu.
Winter melirik ke sekitar dan tak menemukan apapun, "Mungkin ini kamar Tuan Morrigan dulu, Tuan?" ujar Winter.
Fin tak begitu ingat. Seingatnya Ayahnya hanya menempati kamar yang sama tanpa berpindah. Sebelum menjadi Raja pun kamar Morrigan di lantai 2, bukan lantai 3.
"Di sini hanya ada sampah. Buang saja semua barang - barang ini," titah Fin.
Winter membulatkan matanya, "Ya?"
"Buang semua barang - barang ini dan kosongkan saja. Dari pada hanya menyimpan barang - barang rusak dan berdebu seperti ini," ujar Fin.
Setelah puas melihat bagian dalam kamar itu, Fin pun keluar. Sedangkan Winter tertinggal di dalam sana.
Wanita itu menutup hidungnya sembari melihat sekitarnya kemudian langkahan kakinya terhenti saat menginjak seperti selembar kertas di atas lantai.
"Apa ini?" gumam Winter sembari membalik kertas itu.
Di baliknya, rupanya terdapat sebuah lukisan namun Winter tak bisa mengingat siapa yang ada di sana, yang jelas itu bukanlah Morrigan, Ezra apa lagi Fin. Winter membalik kertas itu dan menyeka debu yang menutupi tulisannya.
"Ro - ro di on?" gumam Winter sembari berusaha mengingat nama itu.
Winter menggidikan bahunya dan menggulung kertas itu kemudian memasukan ke dalam tempat sampah yang ada di kamar itu, "Sebaiknya aku minta Luna yang membersihkannya, disini sangat berdebu, aku tidak kuat. Uhuk!" gumam Winter sembari terbatuk akibat debu kemudian keluar dari dalam sana tanpa menutup pintu kamar itu.
Tanpa Winter sadari, kertas yang tadi ia baca dan menggambar rupa Rodion saat muda terbakar begitu saja dan menghilang tanpa jejak. Hal itu karena sihir Ezra yang ada di sekitar Istana mempengaruhi memori kamar itu.
Segala sesuatu tentang Rodion, anak pertama Raja elf itu, dilupakan dan akan menghilang tanpa jejak. Bahkan siapapun yang melihatnya akan merasa asing dan tak akan mengenalinya.