BAB 11

1042 Kata
Kembali ke masa sekarang . . . . Masa pemerintahan Raja Fingolfin Sie Amblaibh * Hari yang ditunggu - tunggu pun akhirnya tiba. Para bangsa elf dari berbagai daerah yang tersebar di Pulau Amadea berdatangan mengisi salah satu pulau tempat dimana Hutan Avalon berada. Hutan yang selalu menjadi tempat perayaan setiap 100 tahun kehidupan baru bangsa elf serta hutan yang menjadi saksi atas penobatan Raja pertama, Raja kedua sampai dengan Raja yang ketiga. Karena Morrigan memutuskan untuk tidur abadi lebih dulu sebelum memberikan tahtanya secara resmi kepada anaknya, alhasil Atlas pun mengganti Morrigan untuk memberikan mahkota beserta tongkat Raja secara simbolis kepada anak semata wayang Morrigan. Satu persatu bangsa elf mulai berdatangan, sedangkan di sisi lain Fin justru tampak gugup sembari melihat ke arah pantulan cermin yang ada di hadapannya. Fin mengatur napasnya berulang kali, mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan. "Fyuuuuh!" suara deru napas Fin terdengar melambat dan mulai teratur seperti sedia kala. Tak lama kemudian suara ketukan pintu menggema dan membuat Fin yang sudah merasa tenang justru kembali tersentak. "Astaga!" pekik Fin. Pintu kamarnya pun terbuka dan Maverick muncul dari balik sana sembari tersenyum. "Maverick, kau mengejutkanku," ujar Fin sembari memegangi d**a kirinya, tempat dimana jantungnya berdegup cukup kencang. Maverick melangkahkan kakinya sembari membawa sesuatu di tangannya kemudian menyampirkannya ke leher Fin. "Maaf mengejutkanmu, tadi salah satu pelayan istana membawakan ini untukmu tetapi sepertinya dia malu," ujar Maverick. Fin melihat jubah yang disampirkan oleh Maverick ke bahunya, bahannya terasa sangat lembut, nyaman dan memberikan kesan hangat. "Sangat nyaman, aku menyukainya," ujar Fin. Maverick menoleh ke arah pintu kemudian mengacungkan jempolnya. Rupanya pelayan Istana Tessitura yang memberikan jubah itu kepada Fin berada di ambang pintu. Sebenarnya pelayan itu ragu tetapi akhirnya Maverick mencegahnya untuk mengurungkan niatnya dan membantu pelayan itu untuk memberikannya kepada Fin. Sebuah jubah dari bahan wool dengan warna putih yang memberikan kesan indah serta gagah bagi Fin. Ditambah dengan setelan jas Fin yang membuatnya semakin terlihat tampan. "Apa terlihat cocok denganku?" tanya Fin. "Sangat. Kau sebaiknya berkenalan dengannya, tak ada salahnya mulai membuka hati dan memikirkan penerus," ujar Maverick. Fin mengangkat sebelah alisnya, "Apa kau berbicara tentang wanita sekarang?" tanya Fin. "Tidak juga, tapi kalau kau menganggap demikian silakan saja," balas Maverick sembari menyeringai. Setelah selesai bersiap, Fin dan Maverick bersama - sama keluar dari Istana. Dengan menggunakan kereta kuda, mereka pergi menuju ke pelabuhan untuk menyebrangi lautan agar bisa tiba di Hutan Avalon. Selama perjalanan di tengah laut, Fin tak henti - hentinya memegangi dadanya yang terus berdegup kencang. Seolah sadar, Atlas pun menepuk bahu Fin perlahan dan memberikan semangat kepada Raja baru bangsa elf, Fin. "Tidak perlu khawatir, Tuan. Saya tahu, Tuan pasti akan merasa gugup, persis seperti Ayah anda dulu," ujar Atlas. Fin menoleh ke arah Atlas, "Terima kasih. Aku bahkan tidak terlalu ingat saat penyerahan tahta dari Kakek kepada Ayah dahulu. Mungkin karena aku terlalu muda, sampai melupakan hal sepenting itu," balas Fin. "Jika Tuan ingin mengetahuinya, saya bisa menceritakannya," balas Atlas. Maverick menaikkan sebelah alisnya kemudian bergeser mendekati Atlas, "Aku juga mau," sahut Maverick. "Baiklah nanti aku akan ceritakan lagi," ujar Atlas. Perahu yang ditumpangi oleh Atlas, Fin dan juga Maverick akhirnya tiba di Hutan Avalon. Mereka berjalan masuk ke dalam sesuai dengan arah jalan setapak yang terlihat membekas karena dilewati oleh bangsa elf selama menuju ke arah acara. Tepat sebelum Fin melangkahkan kakinya ke tengah acara, Atlas menoleh dan menatap Fin. "Tuan, saya tahu jika Ayah anda pasti akan bangga dengan Tuan sekarang," ujar Atlas. "Apa aku bisa menjadi Raja bijak seperti Ayahku?" tanya Fin. Atlas menganggukan kepalanya, "Tentu saja bisa Tuan. Apakah Tuan mau tahu? Dulu Tuan Morrigan pun menanyakan hal yang sama di hari dan di detik beliau menjadi seorang Raja. Dan sekarang Tuan Morrigan telah membuktinya." Fin tersenyum, "Baiklah. Aku siap. Fin melangkahkan kakinya ke tengah - tengah sebuah panggung yang memiliki tinggi lebih tinggi dari pada permukaan tanah. Di belakangnya, Atlas mengekor. Sedangkan Maverick menunggu gilirannya untuk dipanggil ke atas. Para bangsa elf bertepuk dangan dengan meriah menyambut kedatangan Fin, Raja mereka. Fin tampak mengedarkan pandangannya dan menemuni beberapa bangsa elf yang tampak mengasingkan diri dan berjaga jarak. "Itu siapa?" tanya Fin sembari melirik ke arah elf yang tampak sedang berbincang namun menjaga jarak dengan kerumunan bangsa elf yang lain. Atlas mengikuti arah penglihatan Fin, kemudian mengerti dengan siapa yang dimaksud oleh Fin. "Mereka bangsa blood elf, perwakilan atas penobatanmu hari ini, Tuan. Namun sepertinya Tuan Oliver tidak bisa datang," ujar Atlas. "Oliver?" "Iya, ketua bangsa blood elf." "Sepertinya aku pernah mendengarnya. Nanti aku akan banyak membaca lagi agar pengetahuanku semakin meluas." "Tentu, Tuan." Atlas memajukan kakinya beberapa langkah dan meminta semua bangsa elf yang hadir untuk tenang. "Selamat datang di Hutan Avalon, White Festival yang diselenggarakan setiap 100 tahun sekali. Di sini, saya, Atlas selaku mentan ajudan Tuan Morrigan Sie Amblaibh akan mewakili Raja sebelumnya untuk memberikan mahkota dan tongkat Raja secara simbolis dan secara resmi yang akan diberikan kepada Tuan Fingolfin Sie Amblaibh yang akan memulai kepemimpinannya sekarang," ujar Atlas. Semua bangsa elf bersorak tanpa terkecuali. Maverick bahkan ikut bertepuk tangan karena senang jika temannya sekarang adalah seorang Raja yang akan dihormati oleh seluruh bangsa elf. Atlas berbalik kemudian mengambil mahkota dan tongkat Raja, "Dengan ini, aku akan memberikan tahta Tuan Morrigan secara penuh kepada anaknya dan anakku Maverick yang akan membantu Raja ketiga kita untuk menjadi Raja yang bijak dan bisa diandalkan," ujar Atlas. Atlas mulai memasangkan mahkota ke atas kepala Fin, kemudian memberikan tongkat kepada Fin. Setelahnya Atlas memberikan sebuah minuman dari sari bunga yang hanya ada di Hutan Avalon dan membiatkan Fin meminumnya sebagai tanda ia menerima tanggung jawabnya sebagai Raja bangsa elf. Fin pun mengulurkan tangannya dan meminumnya perlahan. Setelahnya barulah Maverick naik ke atas dan ikut menerima sebuah pedang dan juga jubah berwarna merah yang melambangkan keberanian. "Berdasarkan permintaan terakhir Tuan Morrigan, beliau menginginkan Maverick sebagai ajudan dan juga penjaga pribadi Tuan Fin selama menjabat menjadi Raja," ujar Atlas sembari memberikan jubah itu kepada Maverick dan membantu memasangkannya. Barulah setelahnya memberikan pedang itu kepada Atlas. Setelah acara penobatan selesai, Maverick dan Fin bisa melihat dengan jelas dari atas panggung bagaimana bangsa elf yang tampak bahagia menyambut mereka sebagai pemimpin yang baru. "Hidup Tuan Fin!" "Hidup Raja Fin!" "Hidup Raja baru bangsa elf!" Para bangsa elf terus bersorak merayakan Raja baru mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN