BAB 12

1152 Kata
Hari ini adalah hari tepat dimana Fin telah menjabat sebagai Raja selama 1 minggu. Selama 1 minggu juga Fin telah mengerjakan beberapa tugas Raja yang sebelumnya pernah dikerjakan oleh Morrigan saat masih menjabat sebagai Raja. Kepergian Morrigan yang memilih tidur abadi tanpa pemberitahuan lanjut dan alasan dibaliknya membuat Fin sering kali bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah Morrigan juga mengalami hal yang sama dengan yang terjadi kepada Kakeknya? Yaitu kehabisan energi sihir sehingga dari pada memilih untuk memulihkan sihirnya, Morrigan juga memilih untuk tidur selamanya, menyusul Ezra Sie Tessitura yang sudah lebih dulu pergi sejak 5000 tahun yang lalu. Di pagi hari, Fin terbangun lantaran merasakan suara energi sihir yang tak biasa. Meski terasa terasa cukup jauh, namun Fin tahu jika energi sihir itu berasal bukan dari bangsa elf biasa yang selama ini tinggal di Pulau Amadea. "Rasanya sangat aneh, kekuatan sihir apa ini?" gumam Fin kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela. Satu tangan Fin terulur dan membuka jendela yang menutupnya, menatap ke arah luar, dimana langit masih cukup gelap untuk mulai beraktifitas. "Apakah ini energi sihir dark elf? Atau mungkinkah ada bangsa Oriel yang menembus Pulau Amadea? Tapi bukankah Oriel sudah disingkirkan dari Pulau Amadea?" gumam Fin lagi sembari menatap ke luar jendela dengan memfokuskan dirinya untuk merasakan perasaan aneh yang bahkan sampai mengusik tidur lelapnya. Ya benar, sejak 5000 tahun yang lalu, tepatnya saat Morrigan menjabat sebagai seorang Raja, Morrigan mengutus bawahannya untuk menyingkirkan para Oriel yang tinggal di Pulau Amadea. Tak peduli seberapa bahaya atau jinaknya hewan itu, Morrigan ingin seluruh hewan dengan kekuatan magis diasingkan dan dibunuh jika diperlukan. Mulai dari hewan magis atau Oriel sebangsa dengan Aul, Phoenix, Unicorn, Sphinx, Naga dan beberapa hewan Oriel lainnya yang bahkan hanya sebesar kepalan tangan pun disingkirkan dan dibunuh atas perintah Raja Morrigan. Para Oriel itu pun selanjutnya dipindahkan ke Pulau Throne dan Pulau Katara, tempat dimana para bangsa dwarf tinggal. Bangsa dwarf sendiri adalah bangsa dengan bentuk perawakan tubuh kecil namun ototnya yang kekar sehingga bangsa dwarf tidak bisa diremehkan begitu saja. Selama ini, bangsa dwarf adalah satu - satunya bangsa yang tidak pernah lepas dari bangsa elf karena mereka lah yang membantu bangsa elf membuat beberapa s*****a andalan dan persenjataan untuk keamanan baik untuk bangsa elf biasa, bangsawan elf dan bangsa blood elf sekali pun. Bangsa dwarf tidak memiliki kekuatan magis yang besar selayaknya bangsa elf, namun mereka bisa menggunakan persenjataan mereka dengan handal meski didalamnya hanya dimasukan sebuah kekuatan magis dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Di ujung pegunungan yang jauh di tengah lautan, Fin bisa melihat sebuah bulan purnama yang bulat dan menyinari kegelapan Lacoste di malam hari. Setelah merasa cukup dengan instingnya yang mencoba membaca setiap kekuatan sihir yang ada di Pulau Amadea, tempat dimana ia tinggal, Fin pun kembali menutup jendela kamarnya dan beranjak dari sana. "Mungkin sebaiknya aku tidur lagi, ini masih terlalu pagi untuk mulai beraktifitas," gumam Fin kemudian kembali menidurkan dirinya ke atas tempat tidurnya dan memejamkan matanya. Perlahan kesadarannya pun menghilang dan yang ada di hadapannya hanyalah beberapa mimpi yang memang ingin ia rasakan, ia temui dan ia lakukan di hari - harinya. * * * * * Di sisi lain, di sebuah rumah yang terletak di dekat Istana Tessitura, tempat dimana Maverick dan Atlas tinggal, Maverick pun turut terbangun dari tidurnya. Meski kekuatan sihirnya tidak sehandal para bangsawan elf, tetapi insting dan indranya mungkin 2 kali lebih bagus dari pada milik Fin sendiri. Maverick pun turut terbangun saat merasakan sesuatu yang aneh. Bahkan Maverick sampai keluar dari rumah untuk merasakan energi sihir yang terasa asing itu. Tanpa ia sadari, Atlas pun terbangun. Sembari mengusap matanya, Atlas menghampiri Maverick yang berdiri di depan rumah sembari menatap ke arah langit dan memejamkan matanya. "Maverick," panggil Atlas. Maverick tersentak dan menoleh, mendapati Ayahnya yang berdiri di ambang pintu dengan kondisi setengah tersadar. "Ayah? Apa aku membangunkanmu?" tanya Maverick kemudian melangkah menghampiri Atlas yang berdiri di ambang pintu. "Tidak. Hanya saja sepertinya aku juga merasakan hal yang sama denganmu," jawab Atlas. "Aku pikir hanya aku saja merasakan kekuatan aneh ini. Apa mungkin ini kekuatan dari bangsa Oriel?" tanya Maverick. Kesadaran Atlas kembali sepenuhnya. Ia pun menatap Maverick dan menggelengkan kepalanya, "Bukan. Ini kekuatan milik bangsa dark elf. Namun dari intensitasnya sangat kecil dan jauh dari sini. Sepertinya bangsa dark elf berkeliaran di luar Pulau Amadea," ujar Atlas. "Dark elf?" tanya Maverick. "Sebaiknya kita masuk ke dalam, mereka kurang senang jika tahu ada bangsa elf yang penasaran dengan keberadaan mereka," ajak Atlas. Maverick pun mengikuti ucapan Atlas dan masuk ke dalam rumah. Di dalam, Atlas mengambil 2 gelas air putih untuk dirinya dan juga Maverick kemudian duduk bersama di meja yang ada di tengah - tengah rumah, yang menjadi meja makan sekaligus tempat dimana Atlas berbincang bersama dengan Maverick seperti yang mereka lakukan sekarang. "Nak, jika kau tidak salah ingat atau pernah mengingatnya, Raja Ezra pernah melakukan tidur abadi karena kehabisan energi sihir, bukan?" tanya Atlas yang memulai perbincangannya. "Iya, Ayah. Aku ingat dengan hal itu, aku sangat menyayangkannya mengapa beliau tak memilih untuk memulihkan sihirnya di Hutan Avalon saja," balas Maverick. "Karena kekuatan sihirnya yang digunakan sangat besar. Ia membangun selubung pelindung sihir untuk mencegah bangsa dark elf masuk ke Pulau Amadea. Bahkan setiap rumah diberikan pelindung sihir yang kuat." "Aku baru tahu tentang itu. Mengapa demikian?" "Ayah juga tak tahu, Raja Ezra sampai melakukan hal seperti itu. Dan kejadian itu kembali terulang kepada Raja Morrigan..." "Apa bangsa dark elf berhasil masuk?" "Tidak. Melainkan ada bangsa Oriel yang dikirim oleh bangsa dark elf, bangsa dark elf sepertinya melakukan berbagai cara. Alhasil Raja Morrigan kembali memperkuat selubung yang kian melemah hingga kondisinya berakhir mengenaskan." "Aku baru tahu. Fin sepertinya belum tahu tentang hal ini." "Karena Raja Morrigan tidak ingin anaknya tahu. Ia menghabiskan 2 kali sihir yang lebih banyak dari pada Tuan Ezra." Maverick terdiam mendengar ucapan Ayahnya, "Baiklah aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada Fin." "Biarkan Fin menganggap Morrigan tidur abadi atas pilihannya. Jika Fin tahu bagaimana Morrigan susah payah membangun selubung bahkan sampai mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, Fin pasti akan sangat sedih." "Ayah benar. Lebih baik seperti ini. Fin sudah cukup sedih atas keputusan Tuan Morrigan tapi Fin pasti akan lebih sedih jika ia tahu tentang Ayahnya." Atlas mengusap kepala Maverick kemudian beranjak sembari menghabiskan air terakhir yang ada di dalam gelasnya. "Ayah tidur lagi. Sebaiknya kau juga tidur, percayalah bangsa dark elf tak akan menembus selubung itu meski mereka menaruhkan seluruh kekuatan dan nyawanya," ujar Atlas kemudian masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Maverick seorang diri. Selama 5000 tahun terakhir, sejak dimana semua orang dihapus ingatannya tentang Rodion, Morrigan sering berkeliling dan memastikan agar tak ada seorang pun yang mendapatkan buku dark elf itu. Meski sudah dimusnahkan dan dibakar dengan api biru yaitu api yang melambangkan kesucian bangsa high elf, tetap saja, buku itu bisa muncul kapan pun. Entah siapa yang mencipatkan itu, siapa yang memulai dark elf, tetapi kekuatannya tidak bisa dianggap sepele.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN