Maverick melangkahkan kakinya memasuki area Istana Tessitura. Dengan seragam dan jubah berwarna hijau dengan beberapa tambahan dan sentuhan warna putih, menambah kesan tampan bagi elf berusia 5500 tahun itu.
Maverick adalah salah satu elf yang dihormati oleh elf lainnya. Selain berhasil menjadi teman dekat Fin, kemampuan Maverick pun dalam bertarung dan menggunakan kekuatan sihir tidak bisa dianggap sepele.
Di semester pertama pelatihan akademi elf, Maverick berhasil meraih nilai tertinggi dan mengalahkan Fin yang notabene adalah anak dari Morrigan dan memiliki kekuatan sihir yang berada di atas bangsa elf lainnya.
Tak hanya itu saja, kekuatan Maverick juga mampu menenggelamkan sebuah kapal tanpa menyentuhnya sama sekali. Membuatnya mendapat predikat sebagai elf yang tampan dan cerdas.
Pertemanannya dengan Fin dikenal oleh seluruh akademi, termasuk salah satu pengajar elf mereka Kaiden. Salah satu bangsa elf berusia 7000 tahun yang juga lulus dengan predikat terbaik di masa angkatannya.
Akademi elf memang dibuka setiap 1000 tahun sekali, elf yang berumur 1000 tahun pun bisa ikut masuk ke dalam pelatihan akademi selama 300 tahun, tetapi itu semua kembali ke dalam kemampuan mereka masing - masing.
Sebelum memasuki pelatihan di akademi, semua elf diwajibkan untuk mengikuti serangkaian tes sebelum akhirnya bekerja di kerajaan.
Akademi elf sendiri menjadi jalan Maverick untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi rekan dan partner Fin. Bahkan Fin yang sudah menganggap Maverick seperti saudara sendiri akhirnya ikut bergabung ke dalam akademi elf dan mereka secara bersama - sama lulus dari akademi tepat di tahun ke - 300 mereka.
Sebelum dilanjutkan ke cerita selanjutnya, mungkin ada baiknya untuk menjelaskan tentang usia bangsa elf dalam Lacoste Universe sendiri.
Di Lacoste memang terdapat beberapa bangsa dan makhluk tersendiri, salah satunya adalah bangsa elf yang dikelompokkan menjadi 4 jenis. Bangsa high elf umumnya berusia hingga 20 ribu tahun, akan tetapi Ezra justru tidur di usianya yang ke 15000 tahun.
Sedangkan blood elf mampu bertahan hidup sampai 15 ribu tahun lamanya, dan bangsa elf biasa berusia paling lama setengah dari usia bangsa blood elf.
Tidak ada istilah tua. Semua bangsa elf tetap tampak muda meski berada di penghujung usia mereka. Penampilan mereka sama saja, sejak mereka berusia 30 tahun, penampilannya tidak pernah berubah.
Hanya saja persediaan dan pasokan ilmu magis mereka akan meningkat, dan di 100 tahun kehidupan terakhirnya, sihirnya akan berkurang dan bangsa elf akan mati. Tak hanya sihirnya saja, beberapa elf juga rambutnya akan kian memutih dan memanjang tanpa henti.
Namun beberapa pekerja di istana menambahkan ilmu sihir tambahan yang mereka dapatkan saat kelulusan akademi. Ilmu sihir itu yang membuat mereka bisa panjang umur seperti para bangsawan elf atau high elf. Bukan tanpa alasan, tambahan usia itu tentu saja agar para bangsa elf biasa yang bekerja untuk Istana bisa hidup lebih lama dan mengabdikan dirinya sampai menemukan pengganti selanjutnya.
Sekarang kita kembali kepada Maverick yang menjadi pusat perhatian bangsa elf dengan kedatangannya yang kini sudah menjabat sebagai ajudan atau pengawal pribadi Raja.
Dengan gagahnya ia masuk ke dalam ruangan tempat Fin berada.
Tok ! Tok ! Tok !
Maverick mengetuk pintu ruangan itu dan tak lama pintu kayu berukuran 10 kali lipat dari tinggi tubuhnya terbuka lebar. Dan Maverick pun segera melangkahkan kakinya ke dalam sana.
Rupanya di dalam sana, Fin tidak sendirian. Melainkan bersama dengan Kaiden, mentor sekaligus pemimpin akademi elf tempat dimana mereka berlatih.
"Kaiden?" sapa Maverick.
Kaiden menoleh mendengar suara yang terasa tak asing di telinganya.
"Maverick. Akhirnya kau datang," ujar Kaiden.
Maverick berjalan ke arah Kaiden dan memeluknya.
"Sudah lama?" tanya Maverick.
"Tidak, aku baru saja tiba," balas Kaiden.
Fin yang semula sedang membaca buku kemudian beranjak dan menghampiri Maverick serta Kaiden.
Kaiden menatap Fin sembari tersenyum cerah, "Apa sudah tahu bagian mana yang mau kau kunjungi, Tuan?" tanya Kaiden kepada Fin.
"Aku sudah bilang jangan panggil aku Tuan. Panggilah aku seperti biasa, Kaiden," balas Fin.
"Tapi anda sekarang adalah seorang Raja," ujar Kaiden.
Kaiden sebenarnya merasa tidak enak jika Fin selalu meminta dipanggil namanya. Bahkan sejak dulu Kaiden sangat menghormati Fin sebagai penerus tahta bangsawan elf.
Namun Fin selalu menolak.
"Hanya ada kita bertiga, tidak akan ada yang menginterupsi, kok. Anggap aku selayaknya muridmu dahulu di akademi, oke?"
"Baiklah, Fin. Gimana? Sudah ada bagian yang mau kau kunjungi? Aku siap mengantarkanmu."
"Memang mau kemana?" tanya Maverick.
"Oh ya, Maverick. Aku lupa memberitahu. Tadi pagi aku merasakan ada kekuatan magis yang tidak biasa, jadi siang ini aku akan pergi ke sana dan memeriksanya," ujar Fin.
Maverick pun teringat dengan kejadian tadi pagi dimana keberadaan sihir bangsa dark elf muncul. Bahkan indra Maverick yang sangat sensitif itu juga menangkapnya walu dalam jumlah yang kecil dan sedikit.
"Kita ke Tobias saja, Kaiden. Jika dari peta yang aku baca, sepertinya ada di dekat sana," ujar Fin.
"Tobias? Bukankah itu pemakaman Kakekmu?" tanya Kaiden.
"Ya, tapi perasaanku merujuk ke tempat itu. Ayo kita ke sana," ajak Fin kemudian keluar dari ruangannya lebih dulu meninggalkan Maverick dan juga Kaiden.
Kaiden dan Maverick saling bertatapan.
"Ayo kita susul," ajak Kaiden.
Baru saja Kaiden melangkahkan kakinya beberapa langkah meninggalkan Maverick, Maverick langsung menahan lengan Kaiden dan membuat pria itu berbelok menatap ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Kaiden sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Apa tadi pagi kau juga merasakan perasaan yang aneh seperti yang Fin ucapkan barusan?" tanya Maverick.
Kaiden tampak berusaha mengingat kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, memang kenapa, Maverick?"
"Ah tidak, aku hanya penasaran saja," ujar Maverick kemudian pergi dari sana.
Maverick dan Kaiden pun menyusul Fin yang sudah masuk ke dalam kereta kuda. Kemudian setelah Fin masuk ke dalam, Maverick juga ikut masuk dan duduk di samping Fin, sedangkan Kaiden sendiri duduk di samping Fin.
Kereta kuda yang mereka tumpangi berjalan meninggalkan area Istana Tessitura menuju ke Tobias.
Tobias sendiri adalah nama salah satu daerah di penghujung Pulau Amadea yang berdekatan dengan Hutan Avalon yang berada di seberangnya. Jika orang - orang akan pergi ke Hutan Avalon, maka mereka pasti akan melewati Tobias.
Tobias berbentuk seperti bukit dan dijadikan sebagai tempat peristirahatan raja - raja yang pernah memimpin. Seperti Ezra dan juga Morrigan. Bahkan tak hanya itu saja, Lara dan juga Marie juga ditempatkan di tempat itu.
"Sepertinya aku harus memastikan lebih dulu apakah disana aman untuk didatangi oleh Fin secara langsung atau tidak," gumam Maverick di dalam hatinya yang sebenarnya khawatir dengan keselamatan Fin.
Terlebih itu adalah bangsa dark elf.
Maverick pun menatap Fin dan berkata, "Sebelum turun di Tobias, biarkan aku memeriksa lokasinya."
Fin pun tidak bisa menolak, terlebih saat melihat wajah Maverick yang dengan penuh keseriusan menatapnya.
"Oke. Aku tunggu di dalam kereta sampai kau memastikan aman," ujar Fin.
"Mau aku bantu?" tanya Kaiden menawarkan diri.
"Tidak, aku saja. Biar lebih cepat."
"Aku akui kau memang lebih hebat dariku, Maverick."
"Berarti aku tidak, ya?" sahut Fin.
Kaiden menatap ke arah Fin, "Aku membandingkan diriku dengan Maverick. Jika ditambah olehmu, tentu saja kita berdua kalah," ujar Kaiden.
Fin tertawa, "Maaf aku hanya bercanda. Tidak perlu terlalu serius seperti itu."
"Kau membuat jantungku kempes sesaat," ujar Kaiden.