BAB 16

1300 Kata
Beberapa bulan pun berlalu, Selama waktu yang terlewati, Fin tampak membaca dan mempelajari seluruh tulisan Ezra. Bahkan sekali pun Fin telah menyelesaikan bacaannya, ia akan kembali membacanya saat senggang. Maverick yang telah resmi menjadi ajudan kerajaan dan pengawal pribadi Fin, tampak mulai mempelajari tugasnya dengan baik. Atlas pun tak langsung lepas tangan, ia tetap mengajarkan hal - hal yang tidak dan harus dilakukan oleh anaknya sebagai ajudan kerajaan. Seperti hari ini, Atlas akan mengajarkan bagaimana pembukuan kerajaan untuk Maverick sekaligus pelatihan untuk pembukaan pendaftaran bagi bangsa elf yang akan bekerja di Istana Tessitura. Seluruh kepentingan kerajaan akan dipegang secara langsung oleh Maverick. Maverick melangkahkan kakinya, ke sebuah ruangan yang terletak di lantai 1 dan berada tepat di area belakang istana. Tempat itu tidak terlalu besar, namun berisikan beberapa orang yang biasa membantu Maverick dalam menyelesaikan tugasnya. "Selamat pagi, Tuan Maverick," sapa seorang elf dengan tubuh pendek dan juga rambut cepaknya yang berwarna merah. Maverick menoleh dan menaikan sebelah alisnya, "Kau dipindah tugaskan kemari?" tanya Maverick seolah sudah mengenal dekat orang itu. Pria itu tersenyum sembari menggaruk kepalanya, "Sepertinya aku tidak cocok di bagian dapur. Pak Evans sang ketua dapur memintaku pindah ke bagian ajudan untuk membantumu," balasnya. "Ya sudah, duduklah disana. Kau beruntung karena meja itu masih kosong, Levi," titah Maverick sembari melirik ke arah tempat meja kerja yang masih kosong. "Terima kasih, Tuan," balas Levi. "Berhenti memanggilku Tuan. Aku bukan Tuanmu, Levi," ujar Maverick dan hendak kembali duduk ke tempatnya. "Tapi kau atasanku disini. Meski kita berteman dari kecil, tetap saja kan." Maverick menghela napasnya, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Levi barusan. Meski mereka adalah teman sejak kecil, Levi tidak bisa bersikap seenaknya. "Panggil namaku saat tak ada siapapun," titah Maverick, persis seperti yang Fin lakukan kepada Kaiden waktu itu. "Baiklah, Maverick," balas Levi kemudian duduk di tempatnya. Levi sendiri adalah teman masa kecil Maverick. Rumah Levi terletak persis di seberang rumah Levi. Keluarga Levi pun secara turun temurun menjadi pembuat kue, namun entah mengapa Levi tidak pandai memasak. Ia justru ahli dalam hal lain, sampai akhirnya Evans memutuskan untuk memindahkan Levi. Sedangkan Levi memiliki seorang kakak perempuan bernama, Karla yang berada di bagian dapur dan ahli dalam meracik minuman kesukaan Raja. Di ruangan itu hanya terdiri dari beberapa meja yang tiap mejanya berisikan tumpukan kertas tugas kerajaan dan beberapa tugas lainnya yang pastinya harus diproses oleh bagian tim pendataan kerajaan. Di Kerajaan Tessitura, untuk tetap bergerak seperti sekarang, terdapat beberapa bagian di dalamnya. Yang pertama adalah pemimpin yang memang bertugas untuk memberikan keputusan dan tentunya memimpin para bangsa elf, yaitu Raja. Raja akan memiliki permaisuri yang disebut sebagai Ratu dan biasanya akan membantu pekerjaan Raja dengan mengamati perkembangan bangsa elf, pergi ke rumah - rumah dengan melakukan survey dan melihat kebutuhan apa yang sedang dibutuhkan kemudian memberitahukan kepada Raja. Namun karena Fin selaku Raja tidak mempunyai istri, alhasil Maverick yang bertugas demikian. Posisi Maverick sendiri adalah ajudan kerajaan, atau bisa dibilang tangan kanan Fin. Dia bertugas dalam merundingkan segala keputusan serta mengawal Fin dari segala macam bahaya yang sering kali disebut sebagai pengawal pribadi Raja. Lalu di posisi lain di bagian dapur, tentu ada bagian juru masak. Posisi kepala dapur saat ini dipimpin oleh Evans, elf yang ahli dalam memasak dan telah berusia 3000 tahun. Kemudian di bagian taman, ada kepala taman sekaligus kepala kebersihan kerajaan bernama Luna. Luna yang mengatur seluruh tata ruang dan menjaga kebersihan kerajaan. Terakhir yang paling penting adalah bagian pendataan kerajaan, yang dikepalai oleh ajudan kerajaan yakni Maverick. Bagian pendataan beranggotakan paling sedikit namun dengan tugas menumpuk. Hanya sedikit orang yang mampu bertahan di bagian pendataan kerajaan. Kebanyakan dari mereka sudah menyerah dan memilih dipindahkan ke bagian dapur dan kebersihan karena tidak kuat dengan urusan data - data kerajaan yang menggunung. Dan bagian lainnya adalah pembantu Raja sendiri. Mereka adalah orang - orang yang menyiapkan kebutuhan Raja mulai dari persiapan mandi, tempat tidur bahkan sampai pakaian. Dipimpin langsung oleh Winter, seorang elf wanita berusia 2800 tahun dan merupakan anak dari Karina, seorang elf yang juga bekerja sebagai pemimpin bagian urusan pribadi Raja. Bisa dibilang keluarga mereka memang selalu turun temurun menjadi pemimpin bagian urusan pribadi Raja. Kebanyakan bagian pimpinan memang diisi oleh anak - anak pengurus sebelumnya, seperti bagian dapur Evans yang merupakan anak dari Ella, bagian ajudan Maverick yang merupakan anak dari Atlas dan juga bagian taman dan kebersihan Luna yang merupakan anak dari Iris. "Selamat pagi Tuan Matthew," sapa seorang wanita yang baru saja masuk. Baru saja Maverick hendak meletakkan bokongnya di tempat duduk, ia langsung kembali berdiri saat melihat seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangan pencatatan kerajaan. "Ya silakan masuk, selamat pagi juga," ujar Maverick sembari melihat ke arah wanita yang baru saja masuk itu. Wanita itu masuk dan berjalan ke arah Maverick kemudian menyerahkan sebuah kertas hitam dengan tinta emas di atasnya. Yang menandakan jika wanita itu baru saja masuk ke kerajaan dan lulus saringan ujian akademi elf. "Oh anggota pendataan kerajaan yang baru?" tanya Maverick. "Benar, Tuan Matthew. Saya Olivia," ujar Olivia memperkenalkan dirinya. Sejujurnya Maverick terasa asing ketika Olivia memanggilnya dengan nama Matthew, meski nama depannya sebenarnya adalah Matthew, tetapi ia lebih nyaman dipanggil dengan Maverick yang merupakan gabungan dari Matthew Evans Frederick, nama lengkapnya sendiri. "Panggil aku Maverick saja," ujar Maverick. "Ah, baik Tuan Maverick," balas Olivia. "Kau baru diterima atau baru masuk?" "Sebenarnya saya baru lulus tadi pagi." Uhuk ! Levi tersedak mendengar ucapan Olivia. Buru - buru Levi menyeka mulutnya dan mengalihkan fokusnya pada hal lain, meski sia - sia saja ia lebih tertarik untuk menguping pembicaraan antara Olivia dan juga Maverick. "Baru lulus dari akademi dan langsung mau masuk hari ini?" tanya Maverick. "Iya, Tuan. Saya mau bekerja hari ini," jawab Olivia. "Kamu yakin bisa bekerja di bagian pendataan? Kamu baru lulus, Olivia. Bahkan usiamu kurang dari 2000 tahun. Apa kau baik - baik saja?" tanya Maverick memastikan. Olivia menganggukan kepalanya semangat. "Sebenarnya saya menyukai Tuan Maverick, jadi kemana pun Tuan berada, saya ikut," ujar Olivia. Uhuk ! Kali kedua Levi tersedak, Maverick langsung menoleh dan memasang tatapan mematikan seolah menyuruh Levi untuk tetap tenang. "Oh begitu. Ya sudah. Silakan duduk di manapun," titah Maverick. "Terima kasih," balas Olivia. Sebelum duduk, Olivia tampak mengedarkan pandangannya dan mencari tempat meja yang bisa melihat Maverick dengan leluasa. Sifat Olivia yang langsung terbuka seperti itu membuat Maverick salah kaprah dan tak tahu harus berbuat apa. Dalam hidupnya, ini adalah hal pertama kalinya ada seorang wanita yang menyukainya. "Sepertinya tidak ada orang lain lagi," sahut Levi. "Ya, Wilson dan Emily sedang mengitari kerajaan atas perintah Raja Fin," balas Maverick sembari melihat beberapa berkas di sana. Sebetulnya bukan itu keahlian Fin, ia bahkan lebih memilih bermain dengan pedang dibandingkan harus mengangkat pena dan menulis di atas kertas dengan tinta. Tiba - tiba saja Olivia berdiri dari tempatnya dan sontak saja membuat Levi serta Maverick tersentak. "Ada apa?" tanya Maverick. "Aku merasakan kehadiran Oriel di hutan kerajaan, Tuan," ujar Olivia. Maverick terdiam, ia belum merasakannya tetapi Olivia sudah lebih dulu merasakan kehadirannya. Maverick pun memperkuat instingnya dan memperluas jaringan sihirnya, seketika ia merasakan kehadiran Oriel. Maverick segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pedangnya yang ia letakkan di sudut ruangan. Olivia membuntuti setiap gerak gerik Maverick hingga Maverick sadar ia kini menjadi pusat perhatian wanita itu. "Mau ikut?" tanya Maverick. Tanpa menjawab, Olivia segera bangkit dan menganggukan kepalanya, "Tentu!" Di sisi lain, Levi justru merasa bulu kuduknya naik saat merasakan keberadaan Oriel. Padahal Oriel sudah lama dihilangkan dari Pulau Amadea dan Levi sendiri tidak memiliki keahlian dalam bertarung. "Kau ikut atau tidak, Levi?" tanya Maverick kepada Levi. Levi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kalian berdua saja, aku akan menunggu Wilson dan Emily disini," balas Levi. Sebelum keluar, Maverick memberikan sebuah benda kepada Olivia, "Aku harap kau bisa menggunakan pedang," ujar Maverick dan keluar dari ruangan mendahului Olivia. Olivia tersenyum senang, karena mengibaskan pedang juga keahliannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN