Maverick beserta Olivia pergi menuju hutan yang ada di belakang istana. Hutan itu bernama Hutan Tessitura, persis seperti nama kerajaan.
Dahulu, istana itu adalah tempat romantis yang selalu menjadi saksi untuk kisah cinta Ezra dan juga Marie. Dan setelah kepergian Ezra dan Marie, hutan itu hanya dijadikan hutan kosong dan tak berpenghuni.
Meski Morrigan sering kali sesekali pergi ke area hutan untuk sekedari mengulang memori dan ingatannya akan keluarganya dahulu, tetapi hal itu sekarang tak lagi terjadi karena Fin tak memiliki memori yang sama dengan milik Morrigan.
Bahkan beberapa kenangan Fin pun dihapus, termasuk kenangan indah saat liburan berdua dengan Lara dan Morrigan.
Maverick melangkahkan kakinya sembari membawa pedang miliknya, begitu juga dengan Olivia yang memiliki pedang yang diberikan oleh Maverick barusan.
Maverick tampak mengedarkan pandangannya, menyebarkan aura sihirnya untuk mencari jejak dimana Oriel itu berada.
"Tuan Maverick," panggil Olivia.
Maverick pun menoleh ke arah Olivia yang kini membelakanginya dan tercengang saat mendapati sebuah Oriel yang berdiri di belakang mereka.
Oriel itu adalah sejenis kuda namun dengan kepala dan sayap elang.
Kooaaakk !
Hewan itu berteriak hingga memekik telinga Maverick dan juga Olivia.
"Akh!" pekik Olivia saat merasakan telinganya yang terasa sakit karena menerima teriakan dari hewan Oriel di hadapannya dalam volume yang cukup keras.
"Menjauh darinya," titah Maverick kemudian menarik Olivia agar berdiri di belakangnya.
Hewan itu menatap Maverick dengan mata elangnya, sedangkan Maverick tampak bersiap menebaskan pedang miliknya ke leher hewan di hadapannya.
Set ! Set !
Blasss !
Dengan 2 kali langkahan kaki dan kecepatan yang luar biasa, Maverick langsung menebas leher Oriel elang setengah kuda di hadapannya.
Kepala berbentuk hewan elang yang besar itu langsung jatuh ke tanah dan sesaat kemudian tubuh hewan itu menghilang bagaikan debu.
Olivia bergidik ngeri melihatnya. Tidak pernah ia melihat kemampuan Maverick saat akademi. Mungkin karena mereka berada di angkatan yang berbeda dan Maverick berada di level yang sama dengan Fin.
Membuat tak sembarang orang yang bisa menemui Fin dan Maverick begitu saja.
Belum selesai melamun dan terkesima dengan kemampuan Maverick, instin Olivia kembali menangkap sosok lain.
"Tuan, sebelah sini!" pekik Olivia kemudian berlari meninggalkan Maverick.
Merasa tertinggal, Maverick segera berbalik dan menyusul Olivia.
Langkahan kaki mereka yang menginjak setiap dedaunan kering sepertinya membuat hewan yang mereka kejar semakin menjauh. Alhasil Maverick berlari lebih cepat sampai berhasil menyentuh bahu Olivia.
"Olivia, tunggu," ujar Maverick kemudian berhenti di hadapannya.
Olivia terkejut karena Maverick tiba - tiba saja menyusulnya dan langsung berhenti seketika sebelum tubuhnya menabrak tubuh Maverick.
"Ada apa, Tuan?" tanya Olivia.
"Jangan berlari," ujar Maverick kemudian mengedarkan pandangannya sembari mempertajam indra pendengarannya.
"Dengarkan," sambung Maverick.
Olivia turut mendengarnya suara yang dimaksud oleh Maverick. Mereka mendengar suara kepakan sayap.
"Sepertinya ini bukan hewan yang sama dengan yang barusan," ujar Maverick.
Olivia menganggukan kepalanya dan menyetujui ucapan Maverick, "Saya merasakan aura panas. Apakah ini burung phoenix?" tanya Olivia.
Maverick tak begitu yakin, karena tidak selalu phoenix yang mengeluarkan hawa panas.
Phoenix adalah hewan Oriel yang dulu paling disukai oleh Raja Ezra. Bahkan hewan itu pernah dipelihara oleh Raja Ezra sebelumnya dan dimusnahkan oleh Morrigan.
Bukan tanpa alasan Morrigan menghilangkan Oriel yang ada di sekitar Pulau Amadea. Melainkan karena hewan - hewan itu mampu digunakan oleh bangsa dark elf untuk menyebarkan kekuatannya kepada bangsa elf lain.
Karena mudah digunakan, alhasil hewan - hewan Oriel yang ada di Pulau Amadea dimusnahkan atas perintah Raja Morrigan.
"Aku merasakan hawa panasnya tapi aku tak begitu yakin. Aku juga sedikit terheran kenapa hewan - hewan ini kembali, bukankah ada selubung yang menjaga hewan - hewan ini agar tidak masuk?" ujar Maverick.
Olivia menaikkan sebelah alisnya karena tak tahu maksud dari ucapan Maverick.
"Selubung?" tanya Olivia.
Maverick kembali melangkahkan kakinya dan diikuti dengan Olivia di sampingnya. Kedua orang itu melangkahkan kakinya perlahan sembari mencari sosok Oriel yang mereka cari.
"Ya, Raja Ezra memasangkan Amethyst atau selubung untuk mencegah bangsa dark elf dan bangsa Oriel datang ke Pulau Amadea," ujar Maverick.
"Aku baru tahu," ujar Olivia.
"Aku juga baru tahu setelah aku menjadi ajudan kerajaan."
Maverick pun teringat sebenarnya ia tahu dari Ayahnya dan selubung itulah yang menjadi penyebab Morrigan kehabisan energi sihirnya dan memilih untuk tidur selamanya.
Langkahan kaki mereka terhenti, saat tiba - tiba melihat sebuah sinar cahaya berwarna kemerahan yang ada di hadapan mereka. Bahkan Maverick dan Olivia sampai memicingkan matanya.
"Hewan itu...." ucap Olivia terhenti.
Hewan di hadapan mereka tampak menoleh ke arah Maverick kemudian terbang ke arah Maverick dan langsung hinggap di bahu Maverick.
Maverick tak lagi merasakan aura panas, bahkan hewan itu tampak tenang di bahu Maverick dan membuat Olivia yang melihatnya terkesima.
"Aku tidak merasakan aura berbahaya dari hewan ini. Dan hewan ini adalah... Phoenix," ujar Olivia.
Maverick mengulurkan tangannya dan dengan cepat phoenix itu menyeka kepalanya di tangan Maverick sembari memejamkan matanya.
"Aku akan membunuhnya sekarang," ujar Maverick.
Saat tangan Maverick hendak meraih pedangnya, Olivia dengan cepat menahan tangan Maverick, "Jangan," ujar Olivia.
"Kenapa?" tanya Maverick.
Olivia mengulurkan tangan kepada phoenix itu dan ikut mengusap kepalanya.
"Dia sama sekali tak berbahaya. Apa tidak sebaiknya dipelihara saja?" tanya Olivia.
"Aku tidak mau mencari masalah dengan Fin dan juga Ayahku karena memelihara Oriel yang sudah jelas dilarang di Pulau Amadea," ujar Maverick.
"Kalau begitu aku akan memeliharanya dan memasang sangkar anti sihir agar kekuatannya tidak bisa dirasakan oleh siapapun," ujar Olivia.
Maverick menatap burung api itu, ia pun merasa iba menatap tatapan burung phoenix itu. Meski ia tak tahu dari mana asal hewan itu, bagaimana hewan itu masuk, tetapi Maverick tahu jika phoenix sama sekali tak berbahaya. Bahkan air mata phoenix dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
"Baiklah," ujar Maverick.
Olivia tersenyum senang.
Dengan satu kali sinar kekuatan sihirnya, Olivia mengubah ukuran phoenix itu menjadi ukuran kantung bajunya dan memasukannya ke dalam sana. Maverick melihat gerak - gerik Olivia dan menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tidak tahu ada sihir yang bisa merubah bentuk seperti itu," ujar Maverick.
"Aku mempelajarinya secara otodidak," balas Olivia.
"Jangan bahas hewan ini dengan siapapun. Jika ketahuan, kau akan dikeluarkan sebagai pekerja istana dan hewan itu akan dibunuh," ujar Maverick kemudian berjalan keluar dari hutan karena tak lagi merasakan kekuatan sihir Oriel dari dalam sana.
Yang jelas Maverick harus membuat laporan kehadiran Oriel yang muncul di hutan istana kepada Fin dan menjadi pencariannya bagaimana hewan - hewan itu bisa menembus masuk ke dalam hutan.
* * * * *
Maverick dan Olivia berpisah setelah keluar dari hutan, Olivia kembali pulang untuk menaruh burung phoenix itu sedangkan Maverick membuat laporan di istana dan diserahkan kepada Fin atas kejadian hari ini.
Maverick langsung bergegas menuju ruangan Fin dan mendapati Fin yang sedang meminum secangkir tehnya sembari membaca buku milik Ezra.
Tok ! Tok ! Tok !
Fin menoleh ke arah Maverick yang berdiri di ambang pantu kemudian berjalan ke arahnya.
"Sepertinya kau tidak pernah bosan mebaca catatan itu," ujar Maverick.
Fin meletakkan buku itu di atas meja.
"Tidak pernah bosan, aku akan mengulangnya sampai mengingat setiap bagiannya," jawab Fin.
Maverick duduk di depan Fin.
"Ada apa?" tanya Fin.
"Aku menemukan bangsa Oriel di hutan belakang istana," ujar Maverick.
"Oriel?"
"Ya. Oriel. Kau ingat kan hewan - hewan itu sudah dimusnahkan dari Pulau Amadea 100 tahun yang lalu?"
"Ya aku ingat. Tapi, bagaimana bisa?"
"Entah. Apa kita harus melakukan penyusuran lagi? Aku minta pihak keamanan kerajaan untuk menyusuri setiap daerah agar hewan - hewan itu tidak masuk dan berkeliaran di Pulau Amadea," ujar Maverick.
Fin menatap buku itu dan teringat akan sesuatu.
"Apa mungkin penyebab buku ini jatuh dan pecahan kaca adalah Oriel?" tanya Fin.
Maverick menggidikan kedua bahunya, "Entah, tapi bisa saja."
"Ya sudah, nanti aku akan minta kepada pihak keamanan kerajaan untuk menyusuri setiap daerah di Pulau Amadea agar tak ada hewan - hewan itu lagi."
"Apa perlu aku pergi juga?" tanya Maverick.
"Tidak. Biar mereka saja. Terima kasih atas laporannya. Ngomong - ngomong kau sudah dapat anggota baru di bagian pendataan kan? Aku dengar dia adalah pendengarmu sewaktu di akademi," ujar Fin kemudian melipat kakinya dan menatap Maverick.
"Ya, Olivia."
"Oh jadi Olivia namanya. Kau menyukainya?"
"Fin, aku bahkan baru pertama kali bertemu dengannya, mana mungkin bisa semudah itu."
"Ya mungkin saja. Kenapa tidak."
"Pikirkanlah dirimu dahulu, kau harus menikah dan mencari seorang Ratu. Aku lelah menjalani tugasku sebagai Ratu dan ajudan di waktu yang bersamaan."
Fin menahan tawanya mendengar ucapan Maverick yang ada benarnya.
"Mungkin sebaiknya kita membentuk divisi keamanan kerajaan, Fin," ujar Maverick.
"Keamanan? Untuk?" tanya Fin.
"Tentu saja untuk menjaga kerajaan. Selama ini kerajaan hanya dijaga oleh Raja sendiri dan Raja yang turun tangan. Tapi akan lebih baik jika membuat pasukan khusus, bukan?"
Ada benarnya ucapan Maverick. Terlebih akhir - akhir ini sering kali ada saja hal - hal yang tidak terduga terjadi.
"Nanti kita rapatkan. Sekaligus aku akan menunjuk pemimpinnya. Akan ada perubahan tertentu," ujar Fin.
"Baiklah, aku akan menantikannya."
Maverick pun beranjak dari duduknya dan memberikan salamnya kepada Fin, "Aku permisi."
Fin menganggukan kepalanya menatap kepergian Maverick yang keluar dari ruangannya.
Sembari menatap tubuh Maverick yang kekar, Fin pun terpikirkan sesuatu.
"Apa sebaiknya ia di divisi keamanan saja ya? Proporsi tubuh, kekuatan dan sihirnya cocok di bidang itu," gumam Fin sembari melihat kepergian Maverick yang hilang di balik pintu.
Karena memang jika secara fisik Maverick memiliki kemampuan di atas rata - rata yang bahkan diakui secara langsung oleh Fin dan juga Kaiden.
Morrigan dan Atlas juga terkesima dengan kekuatan Maverick.
Di sisi lain, tepatnya di rumah milik Olivia, wanita itu baru saja tiba di rumahnya.
Ia tinggal seorang diri tanpa orang tua dan juga kerabat. Sesaat setelah ia memasuki pintu, penampilan Olivia seketika berubah.
Rambutnya yang semula kebiruan berubah menjadi merah. Begitu juga dengan pakaiannya.
Kakinya melangkah ke arah sebuah ruangan dan mengeluarkan burung phoenix tadi dari dalam sakunya dan ia letakkan di atas sana.
Tangan Olivia terulur dan seketika ukuran phoenix itu kembali seperti sedia kala. Seolah merasa senang, burung itu pun mengusapkan kepalanya ke arah tangan Olivia sembari memejamkan matanya.
"Aku sakit hati karena kau salah mengira pemilikmu yang sebenarnya, Alexa," ujar Olivia sembari mengusap kepala burung phoenix bernama Alexa itu.
Olivia tersenyum, "Tapi tidak apa - apa, setidaknya kau berhasil masuk kemari. Aku takut kau akan dibunuh tapi nyatanya kau berhasil. Tuan Ezra pasti akan bangga kepadamu karena reinkarnasimu berhasil sampai detik ini," ujar Olivia kepada Alexa.
Alexa, burung phoenix berusia belasan ribu tahun. Merupakan burung phoenix yang pernah dipelihara oleh Ezra sebelumnya. Rupanya burung itu selama ini dikirim oleh Morrigan ke bangsa blood elf dalam kondisi tak bernyawa. Dan setibanya di rumah Oliver, burung itu kembali bereinkarnasi.
Olivia, dengan rambut merah dan mata cokelatnya yang tajam, menandakan jika ia adalah seorang bangsa blood elf yang dikirimkan secara khusus ke dalam Pulau Amadea untuk misinya.
Sudah lebih dari 1000 tahun wanita itu menetap di Pulau Amadea dan berulang kali juga berpindah tempat demi bisa masuk ke akademi elf dan menembus kerajaan.
Dan usahanya dan penyamarannya pun berhasil, Olivia, putri tunggal dari Oliver sang ketua blood elf berhasil memasuki kerajaan tanpa diketahui oleh siapapun.
"Aku mandi dulu ya, Alexa. Jangan bersuara," ujar Olivia kepada Alexa dan meninggalkan burung phoenix itu sendiri di kamarnya.