Harusnya Aku
*****
Di sebuah ruangan cukup luas, namun gelap, tanpa pernah ada cahaya masuk ke dalamnya. Seorang pria dewasa tengah terduduk di lantai dengan tatapannya yang kosong. Rupa tampannya berantakan, tangan kanan dan kirinya dipenuhi bekas luka sayatan. Sudah kurang lebih 10 tahun dia seperti ini. Bahkan dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menuntut ilmu di jenjang perkuliahan. Sebuah insiden mengerikan 10 tahun lalu membuatnya berujung menyesal dan menjadi seperti ini.
Entah sudah berapa puluh juta rupiah yang sudah orangtuanya keliarkan agar dapat membuat dia kembali normal seperti dulu. Dia bahkan tidak bersekolah lagi seperti teman sebayanya. Dia sibuk dengan penyesalan akan apa yang sudah berlalu.
Wajahnya yang tampan terlihat muram dan tampak kurus kering. Makan pun jika tidak dipaksa oleh Ibunya, mungkin dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Seharusnya aku yang mati," lirihnya dengan suara rendah nan parau. Pandangannya kosong menatap ke depan. Berulang kali dia berkata seperti itu. Dia terus menganggukan kepalanya seolah ada yang mengajaknya berbicara.
"IYA! AKU TAHU BETUL MEMANG SEHARUSNYA YANG PANTAS MATI ITU AKU!! BUKAN ARGA!!!" teriaknya dengan suara yang seraknya. Kedua orang tuanya tentu mendengar teriakan kencang dari Arya dari luar.
"Kenapa? Kenapa harus dia?" Suaranya melemah seiring dengan air matanya yang sudah meluncur tanpa permisi.
"Arya buka pintunya nak, ini Bunda!!" teriak seseorang wanita paruh baya dari luar kamarnya dengan nada yang khawatir.
Merasa tak ada sahutan, wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam dengan kunci cadangan yang dimilikinya.
"Sayang, Bunda bawakan makanan. Kamu udah seminggu gak mau makan loh. Cuman minum doang," bujuk Farisa—sang Ibunda dengan lemah lembut. Arya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu, pandangannya beralih pada nampan yang dibawa oleh Ibunya. Dia tidak menyentuh secuil pun makanan yang dibawa Farisa.
"Bun, kenapa harus Arga yang pergi?" tanya Arya. Lagi-lagi tentang Arga. Ibunya sudah merelakan kepergian anaknya itu, tapi dia kembali merasakan kesedihan tatkala anaknya yang lain malah seperti ini.
"Arya, dengarkan Bunda sayang, kamu seharusnya itu jadi lebih baik demi Arga. Kalo kamu kayak gini terus Bunda takut kamu juga pergi seperti Adik mu Arga," ucap Farisa sambil mengelus rambut Arya yang sering dia cuci setiap harinya. Farisa merasa seperti mengurus Arya kecil. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya tak terurus, ya walaupun kondisi anaknya sekarang terbilang tidak normal mentalnya. Tapi, seorang Ibu tetaplah seorang Ibu.
"Engga Bun, harusnya Arya yang pergi dari dunia ini." Selalu saja seperti ini, Farisa lantas memeluk Arya dengan penuh kasih sayang. Dia menggeleng sambil mengecup pucuk kepala anaknya berkali-kali. Dia sungguh merasakan kesedihan yang mendalam tatkala melihat Arya yang sekarang.
"Kamu gak boleh ngomong gitu, sudah suratan takdirnya begini sayang. Kamu harus ikhlas," cakap Farisa sambil mengurai pelukan pada Arya. Tangannya sibuk mengusap air matanya yang hendak turun. Dia tidak mau terlihat menyedihkan dihadapan anaknya.
"Cih! Semua orang mau Arya mati Bun!! takdir macam apa ini? Bahkan, Ayah mengirim Arya ketempat mengerikan itu! Bukankah akan lebih baik jika aku mati juga? Semua orang pasti senang Bun kalo Arya mati," tutur Arya dengan tatapan kosong, ditemani air mata yang mengalir tanpa permisi.
Farisa menggelengkan kepalanya lagi untuk kesekian kalinya. Arya selalu begini. Memang 2 tahun lalu, Arya dikirim ke panti rehabilitasi oleh Ayahnya. Karena Ardi sang Ayah merasa pasrah membawakan Arya seorang psikiater.
Sayang, bukannya membuat Arya membaik, tapi malah semakin parah. Bahkan tak jarang dia menyakiti tubuhnya sendiri sampai percobaan bunuh diri. Penyesalan selalu datang diakhir, Ardi menyesal telah mengirimkan anaknya ke panti rehabilitasi. Ternyata mereka memperlakukan Arya dengan buruk dan tidak manusiawi. Pulang dari sana, tubuh Arya dipenuhi lebam sana sini. Dan kembali mengurung diri seperti sebelumnya. Bahkan memperburuk keadaan mentalnya yang sudah terganggu.
"Arya kamu gak boleh ngomong gitu sayang, ada bunda di sini. Bunda sayang Arya, Bunda gak mau lihat Arya kaya gini. Arya mau kan sembuh demi Bunda? Ayah kamu juga menyesal udah bawa kamu kesana. Dia juga sayang kamu. Buktinya, Ayah minta maaf kan? Dengar sayang, gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya," bantah Farisa akan perkataan Arya tadi dan berusaha meluruskan pandangan Arya atas tindakan Ayahnya 2 tahun lalu.
"Arya gak mau! Mereka jahat! Bun, tolong! Pergi sana kalian!" teriak Arya sambil melemparkan piring yang ada di nakas, yang tadi dibawa oleh Ibunya.
BRAK!!
Piringnya pecah berkeping-keping, makanan yang ada di atasnya pun ikut terjatuh berserakan dilantai. Arya turun dari atas kasurnya dia mengambil salah serpihan piring itu yang berukuran berukuran cukup besar dan runcing. Tangannya bergerak untuk menggoreskan benda itu pada tangan kirinya. Melihat hal itu, Farisa tak tinggal diam, dia dengan cekatan menepis tangan Arya. Hingga serpihan piring pecah itu pun terlempar jauh. Dia melakukan itu supaya anaknya itu tidak menggoreskan serpihan piring pada tangannya. Sedetik kemudian Farisa memberikan obat penenang secara paksa pada anaknya yang masih emosi.
"Maafkan Bunda nak," kata Farisa sambil mengangkat badan ringkih Arya. Dan merindukannya di atas kasur. Farisa dengan cepat keluar kamar untuk mengambil sapu. Dia perlu membereskan serpihan piring tadi yang pecah dan makanan yang berserakan dilantai kamar Arya. Setelah selesai dan benar-benar bersih, Farisa meninggalkan kamar Arya dengan wajah sendu.
*************
Farisa menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang dia kenakan.
"Gimana? Apa Arya berhasil dibujuk?" tanya Ardi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya sedang menangis sambil melihat layar monitor yang memperlihatkan Arya yang tertidur di kamarnya. Mereka sengaja memasang CCTV untuk mengawasi Arya dari kamar mereka.
"Arya gak mau Mas, dia masih trauma, karena waktu itu kamu bawa dia ke panti rehabilitasi," jawab Farisa dengan jujur.
"Aku juga nyesel, aku gak tau kalo di sana pelayanannya kayak gitu," sesal Ardi sambil memeluk Istrinya.
"Sekarang kita mesti gimana? Mas, aku gak mau kehilangan anak lagi. Hiks ... bahkan dia gak pernah ngerasain kuliah seperti teman sebayanya. Mas, apa kita carikan lagi psikiater buat Arya?"
Ardi melepaskan pelukannya, lantas dia menggeleng pelan. Bukannya tak mau anaknya kembali normal, tapi, mereka sudah membayar puluhan juta rupiah dan nyatanya sampai sekarang hasilnya nihil. Arya masih tetap saja seperti itu.
"Aku gak yakin Risa. Kamu tahu sendiri kan? Udah kita berapa kali bayar psikiater, tapi gak ada hasil kan?" kata Ardi.
"Terus, Mas mau biarin Arya kayak gini gitu? Sampe akhir hidupnya? Ternyata bener! Cuma aku aja yang sayang dan peduli sama Arya," ujar Farisa sambil melengos pergi keluar dari kamarnya meninggalkan Ardi sendirian dengan segala kemelut di hatinya.
Ardi memakai dulu bajunya karena dia habis mandi dan dia juga akan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. Barulah setelah itu dia menyusul Farisa keluar.
"Gak gitu Ris, aku sayang sama kamu, sama semua anakku juga. Yaah, orang tua mana sih yang tega biarin anaknya menderita? Aku juga gak mau Arya begini terus," papar Ardi dengan suara rendahnya. Dia mencoba menenangkan hati istrinya. Setiap mereka membahas tentang pengobatan Arya makan mereka akan selalu berakhir seperti sekarang.
"Kalo gitu, ayo kita carikan lagi psikiater untuk Arya. Aku yakin, pasti ada harapan untuk anak kita sembuh seperti sebelumnya. Ya, setidaknya, aku pengen Arya gak terlalu kayak gini," tukas Farisa yang tetap bersikukuh ingin anaknya sembuh dan kembali normal kondisi kesehatan mentalnya.
"Iya, nanti akan aku antar. Sekarang, aku mau ada rapat sama klien. Kamu baik-baik di sini, kalo ada apa-apa telepon aku oke?" pesan Ardi pada sang istri sebelum pergi keluar rumah untuk bersiap-siap bekerja.
"Iya siap mas. Nanti aku hubungin kok, hati-hati ya," balas Farisa sambil tersenyum dan meraih punggung tangan Ardi untuk dia cium.
****************
'Akankah ada harapan untuknya kembali normal?'
Pertanyaan itu terus menghantui Farisa sepanjang malam. Arya sudah dia beri obat tidur jadi dia bisa dengan leluasa bekerja mengerjakan pekerjaan rumah yang terbengkalai. Butik miliknya pun dia suruh asistennya untuk menjaganya selagi Farisa menjaga Arya.
"Kenapa belum tidur Risa?" tanya Ardi yang menyadari bahwa istrinya itu masih terjaga.
"Aku kepikiran sama Arya, Mas," jawab Farisa dengan jujur apa adanya pada suaminya itu. Perlahan Ardi terduduk dan memeluk Farisa untuk menenangkan pikirannya.
"Jangan terlalu dipikirkan, sekarang mending kamu tidur," perintah Ardi. Tapi, melihat sang Istri yang tidak bergerak sedikit membuat kesabaran Ardi terkuras.
"Mas, kan kata kamu kemarin mau cariin psikiater lagi buat Arya," kekeh Farisa.
"Besok aku libur Risa, nanti aku bantu cari lagi deh. Sekarang udah larut malam. Mendingan kamu istirahat," kata Ardi dengan lembut. Farisa pun menurut setelah mendengar jawaban yang meyakinkannya dari Ardi tadi.
Baru saja hendak menutup matanya, suara dering telepon mengganggu mereka. Ternyata itu berasal dari ponsel Farisa.
"Dari siapa? Malam-malam begini?"
"Dari temen lama aku. Mas, tidur aja duluan. Aku mau jawab telepon dulu," kata Farisa sambil keluar dari kamarnya. Ardi menurut saja, karena badannya sudah lelah seharian dia gunakan untuk bekerja.
*******
"Risa, kita mau cari psikiater kemana lagi? Hampir seluruh rumah sakit kejiwaan sudah kita telusuri," kata Ardi sambil mengemudikan mobil di keramaian kota kembang. Mereka sedang dalam perjalanan mencari klinik psikiater.
"Aku kemarin dapat informasi dari temen lamaku. Katanya, keponakannya buka klinik psikiater gitu. Katanya mereka beda, jarang pake obat-obatan gitu," jawab Farisa
"Apa kamu yakin? Berkali-kali aku sering denger beda-beda inilah itulah, tapi nyatanya? Arya gak ada perubahan sedikit pun kan? Psikiater aja kebanyakan pada nyerah buat ngobatin Arya. Apalagi itu klinik," timpal Ardi sambil menilik dalam pengalaman sebelum-sebelumnya. Dia tak ingin melakukan hal yang sia-sia lagi.
"InsyaaAllah, aku yakin mas. Lagian kan kita belum mencobanya," sahut Farisa dengan mantap dengan keputusannya. Ardi menuruti saja apa yang istrinya putuskan. Semoga saja kali ini psikiaternya tidak kabur saat menghadapi Arya nanti. Mereka tidak membawa serta Arya, karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Ardi tidak ingin membuat keributan di tempat orang. Apalagi tempatnya adalah sebuah klinik.
Mobil yang dikemudikan oleh Ardi berhenti di depan sebuah klinik psikiater yang cukup besar dan terlihat sangat rapi.
"Bentar, kamu yakin ini tempatnya?" tanya Ardi lagi.
"Iya mas, ikutin aku aja ayo," tukas Farisa sembari berjalan di depan suaminya itu. Tangannya menarik pelan tangan milik suaminya agar mengikutinya dari belakang.
Langkahnya terhenti kala mereka melihat ada meja resepsionis. Farisa dan Ardi menghampirinya untuk menanyakan letak ruangan dokternya.
"Assalamu'alaikum," kata mereka dengan serempak mengucapkan salam sebagai sapaan sekaligus pembuka percakapan.
"Wa'alaikumussalam ... Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?" tanya seorang wanita yang mengenakan atasan putih dan celana panjang berwarna biru langit.Tak lupa kerudung putih menutupi mahkota indahnya.
"Saya ingin berkonsultasi dengan dokter. Bisakah mbak menunjukan di mana ruangannya," jawab Farisa.
"Oh, ruangan konsultasi ya. Mari saya antarkan," jawab resepsionis itu dengan ramah sambil memimpin Farisa dan Ardi untuk menunjukan di mana letak ruangannya.
Tak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar.
"Maaf sekali Pak, Bu, saya hanya bisa mengantar sampai depan. Karena saya harus kembali bekerja," pamit resepsionis itu dengan sopan sambil tersenyum. Kemudian dia sedikit membungkuk sebelum pergi dari sana.
"Iya tidak apa-apa. Terima kasih banyak ya," jawab Farisa sebelum dia mulai pergi.
Ternyata klinik nya sesuai yang diharapkan oleh mereka. Pegawainya pun ramah dan tempatnya bersih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah dokternya sendiri membukakan ruangannya dan mempersilahkan Farisa juga Ardi untuk masuk.
"Silahkan duduk, Pak, Bu," katanya dengan sangat sopan pada pasangan suami istri yang sudah paruh baya itu. Yang Tak lain adalah Farisa dan Ardi. Dia terlihat cantik dan bercahaya. Pakaian yang dikenakannya hampir sama dengan seorang resepsionis tadi, hanya saja, yang membedakan adalah jas yang dikenakannya.
"Sebelumnya, perkenalkan, saya Arumi pemilik klink ini. Saya sudah mendengar dari tante saya, bahwa kalian sedang mencari seorang psikiater betul?"
Pasangan suami istri di hadapan Arumi mengangguk dengan kompaknya.
"Ini yang mau konsultasi sama saya itu Bapak atau Ibunya?" tanya Arumi.
"Bukan salah satu diantara kami Dok. Tapi anak kami. Cuman kami tidak membawanya. Karena takut membuat keributan di sini. Saya juga berharap kalo pengobatannya di rumah sayaDok. Bisa gak kalo dokter yang datang langsung ke rumah saya?" tanya Ardi dengan sedikit ragu, dia takut jika Dokter di depannya ini menolak. Meski kemungkinannya kecil, tetap saja Ardi masih menghargainya sebagai seorang psikiater yang nantinya akan mengobati anaknya, Arya.
"Bisa kok, Pak, lagipula saya punya asisten yang bisa bantu saya jaga klinik selagi saya menangani pasien. Ngomong-ngomong bisa beri tau saya kondisi pasien yang akan saya tangani?" tanya Arumi pada sepasang suami istri yang sudah paruh baya itu. Dan mereka pun mulai memberitahukan pada Arumi keadaan Arya.
Arumi menyimak dengan baik, hatinya tersentuh mendengar perjuangan orangtua kliennya yang gigih ingin anaknya kembali normal layaknya anak sebaya mereka.
"Jadi begitu Dok, bahkan kami hampir putus asa dengan keadaannya. Dokter bisakan bantu anak kami jadi normal kembali? Setidaknya bantu dia agar tidak terlalu terpuruk," ujar Farisa dengan nada sedikit terpukul.
Arumi bisa merasakannya melalui nada bicaranya, dia menghela nafas sejenak, sebelum mulai berkata, "anak Ibu ini mengalami depresi psikotis yang cukup serius. Baiklah, sepertinya hanya itu saja. Besok, saya akan melihatnya langsung ke rumah Ibu dan Bapak."
Farisa sangat senang sekali mendengar perkataan Arumi barusan. Sampai-sampai dia memeluk Arum dengan erat sebelum pergi dari ruangannya.
"Terima kasih banyak Dok sudah bersedia mengobati anak kami. Kalau begitu, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam, tidak sungkan Bu, karena itu sudah tugas saya sebagai seorang dokter," jawab Arumi.
***
Setelah Farisa dan Ardi pergi dari ruangannya, datanglah sesosok manusia yang sudah familiar bagi Arumi. Dia menenteng tas selempangnya. Dan terlihat sudah sangat rapi.
"Siapa pasutri tadi?" Interogasinya dengan penuh selidik pada Arumi.
"Orag tua pasien baru aku, kenapa emang? Mau ngapain kesini? Bukannya kamu gak ada tugas jaga ya?" berondong Arumi pada rekannya.
"Owalahhh, gue kira calon mertua lo wkwkwk," katanya sambil tertawa meledek Arumi. Mara memang sifatnya seperti itu, dan Arumi tidak terlalu mengambil hati atas ucapannya.
"Calon mertua apaan, eum sombongnya, mentang-mentang bentar lagi mau nikah," balas Arumi.
"Wesss jelas dong hahha, seorang Dokter psikiater sekaligus calon dokter anak yang cantik membahana ini bentar lagi bakalan sold out," ucapnya dengan berbangga diri. Seraya mengibaskan hijabnya ke depan. Tingkahnya Mara sungguh membuat Arumi menggelengkan kepalanya.
"Astagfirullahh Mara, heran aku sama kamu, masih aja narsis," komentar Arumi.
"Narsis sudah menjadi kewajiban bagi cewek cantik. Eh by the way ... gue denger di rumah sakit ada dokter baru. Kenapa gak lo pepet aja tuh. Mumpung masih baru tapi udah berpengalaman, mana ganteng, soleh katanya, masih muda, apalagi yang kurang coba?" Arumi mengerlingkan matanya. Dia sudah jengah menghadapi rekan kerjanya ini.
"Bukannya su'udzon ya Ra, di luar kelihatan ganteng, baik, inilah itulah, tapikan kita gak tau aslinya gimana? Lagian, aku mau selesaikan dulu tesis aku," jawab Arumi dengan jujur.
"Mantap lah! Lanjutkan! Emang keknya susahh ngomong sama lo mah. Gue mau ke rumah sakit nih. Semoga sukses!!" katanya menyemangati Arumi. Dengan dua tangan dikapalkan di depan dadanya. Arumi tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Mereka dulu satu kuliahan, dan kembali bersama lagi tatkala mereka di tempatkan di satu rumah sakit yang sama. Yakni rumah sakit jiwa milik Om-nya Arumi.
Lebih tua Mara sebetulnya, sebab Arumi mengenyam pendidikan saat 5 tahun. Jadinya usia Arumi lebih muda 2 tahun dari Mara.
*****
Cakrawala biru membentang, mulai memancarkan cahaya indah dari sang Mentari pagi, mengintip dicelah-celah jendela kamar. Nampak seseorang masih meringkuk lemah di atas ranjangnya. Dia agaknya sedang berusaha mencoba mengumpulkan kesadarannya. Tenggorokannya terasa kering. Tangannya berusaha menggapai segelas air putih yang entah sejak kapan sudah ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Dia bergerak dengan perlahan untuk duduk. Dia masih tidak menyadari kehadiran Arumi di kamarnya. Setelah selesai minum, Arya mendongakkan kepalanya dan dia bertemu pandang dengan seorang wanita cantik.
Saat matanya bertemu dengan mata teduh itu membuatnya membeku di tempat dengan seketika. Lalu kemudian, dia mundur perlahan sampai punggungnya mengenai kepala ranjang. Wajahnya berubah jadi ketakutan. Arya takut wanita yang sedang menatapnya adalah orang jahat atau orang yang akan membawanya ke penjara menyiksa. Penjara yang Arya maksudkan adalah rumah sakit jiwa yang dulu pernah dia tempati. Lebih tepatnya itu rumah sakit penyiksaan.
"K–kamu siapa?" tanya Arya dengan suara lirihnya. Arumi tersenyum manis mendengar Arya akhirnya mengeluarkan suaranya. Wajah Arya begitu tirus, tatapan matanya terlihat kosong, dia teringat akan cerita Farisa yang mengatakan Arya mengidap penyakit mental setelah lulus SMA. Dan itu artinya dia sudah hampir 5 tahunan menderita penyakit mental. Dan jika di hitung-hitung Arya seumuran dengan Arumi.
Arumi memberanikan diri untuk berbicara terus terang. Karena bingung harus dimulai dengan berbicara apa dan membahas apa.
"Aku seorang psikiater. Aku akan membantumu mengatasi masalah kamu," jawab Arumi dengan langsung ke intinya. Namun sebenarnya dia ingin tahu bagaimana dia bereaksi.
"Apa kau juga akan memberikan aku obat-obat sialan itu?" kata Arya lagi. Mendengar itu membuat Arumi sedikit terkejut. Pasalnya, dia menggunakan metode terapi bukan obat-obatan.
"Ah~ soal itu, eumm kita bicarakan nanti. Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu bisa jadi kayak gini?" tanya Arumi dengan hati-hati. Jujur saja sorot mata yang menyiratkan luka hati yang mendalam itu membuat Arumi harus bertanya dengan hati-hati. Ditambah karena yang dia hadapi ini adalah seorang yang punya masalah mental.
Jujur, kemarin Arumi sudah mendengar semua ceritanya dari Farisa dan Ardi. Tapi, sekali lagi, Arumi berusaha mengajak Arya bicara dan akrab dengannya. Maka dengan begitu akan lebih mudah untuk Arumi.
Saat mendengarkan pertanyaan Arumi, Tiba-tiba
wajahnya berumah menyendu, Arya menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita. Arya biasanya selalu diam, dan sedikit bicara jika dibawa atau didatangkan psikiater. Farisa yang mengawasi dari pintu kamar Arya pun sedikit lega, karena anaknya mau bercerita.
Arumi berusaha mendengarkan dengan baik, dia menelaah sedikit demi sedikit dari apa yang Arya ceritakan. Hingga setitik air mata Arumi ikut turun saat mendengar bagian cerita yang Arya katakan sangat menyentuh hatinya. Entah kenapa saat diceritakan oleh Arya sendiri lebih menyentuh dibandingkan dengan versi Farisa kemarin. Arumi tidak kuasa menahan air matanya. Dia bisa membayangkan sekarang bagaimana perasaan orangtua Arya. Karena dia yakin Arya sebenarnya bukan orang seperti yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu kenapa jadi ikut nangis?" tanya Arya yang menyadari Arumi ikut meneteskan air matanya. Dengan segera Arumi menyekanya menggunakan kerudung yang ia kenakan.
"Maaf, aku barusan terbawa suasana, silahkan lanjutkan," kata Arumi.
"Aku gak mau lanjut kalo kamu nangis, kesannya kayak aku itu orang yang paling menyedihkan," tutur Arya sembari menatap nanar Arumi. Dia ikut menyeka air matanya.
"Oke, aku gak bakalan kebawa suasana lagi, lihat kan?Aku gak nangis lagi," ujar Arumi.
Setelah semua selesai diceritakan, Arumi jadi paham betul dimana letak masalahnya. Susah memang, karena yang membuatnya depresi seperti ini adalah kejadian traumatis dimasa lalu. Sebetulnya itu bukan sepenuhnya salah Arya.