Sedih atau bahagia?

990 Kata
Keluarga Arya pun akhirnya mulai berangkat menuju ke kediaman Keluarga besar Arumi. Farisa terus menyemangati sang anak agar tidak terlalu gugup karena dia takut jika sewaktu-waktu Arya kembali lagi menjadi sedikit lebih ganas seperti kemarin. "Bunda kalo Arya ditolak gimana?" "Gak akan sayang. Bunda yakin kok nak Arumi juga suka sama kamu. Bunda tahu karena sudah punya pengalaman. Udah jangan khawatir. Kan Bunda sama Ayah ada buat dukung kamu." Seperti sihir ajaib, kata-kata Faris berhasil membuat Arya sedikit lebih percaya diri. Dia terus menyingkirkan segala pikiran buruk yang terus berkecamuk dalam pikirannya. Saat sampai di depan gerbang rumah Arumi. Ternyata mereka disambut hangat oleh Keluarga Arumi. Arya bahkan terkejut kala melihat kedekatan Ayahnya dengan Ayah Arumi. Tapi mungkin itu bisa jadi mereka adalah teman bisnis. "Ayo silahkan Masuk," kata Bachri pada Arya dan keluarganya. Penampilan Arya sangat jauh berbeda dari biasanya. Dia sebelum pergi ke rumah Arumi diajak ke salon terlebih dulu. Rambut gondrong Arya pun di cukur begitu pula dengan rambut yangbada disekitar dagu dan mulut. Farah juga menangani adik tersayangnya dengan kemeja yang berwarna biru muda yang kalem. Dan jas yang tampak casual berwarna biru langit. Farah sangat puas dengan hasilnya. Karena melihat reaksi Arumi yang sampai membekunditempat saat melihat perbedaan drastis Arya. Arya dan keluarganya duduk di ruang tamu keluarga Bachri. Kakak dari Arumi juga nampak hadir. Point off view di malam hari tadi... "Sayang," panggil Asyalie seraya mengetuk pintu kamar Arumi. Gadis itupun segera menutup Al-qur'an yang sedang dia baxa dengan khusyuk. Dia mengakhiri bacaannya. Dan membuka mukena yang dia kenakan. Dia merapikan dulu bekas salatnya. Barulah dia membukakan pintu untuk Ibunya. "Iya, Mi?" "Sayang, Abi mau bicara sama kamu dibawah. Nanti turun ya. Tapi kita makan malam dulu sebelumnya." "Baiklah. Arumi akan segera turun." Arumi sudah menebak pasti ini perihal perjodohan lagi. Bachri memang sangat suka menjodohkan Arumi. Bahkan Arumi sudah sangat hafal bagaimana dan apa yang akan terjadi jika Arumi menolaknya. Arumi tidak bisa berontak, mungkin orangtuanya tidak ingin melihat bahwa anak perempuannya masih melajang. Padahal Kakaknya juga masih belum menikah. Entahlah, Arumi hanya bisa menurut saja. Arumi merapikan alat salat itu ke tempatnya semula. Dia juga menutup pintu kamarnya. Dan segera turun untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan. Makan malam tidak berisik dan sangat hening dan sepi. Suara dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar. Hingga makan malam selesai, inilah yang Arumi tunggu. Dia penasaran dengan siapa lagi Ayahnya akan menjodohkan Arumi. "Jadi begini nak. Ada teman lama Abi tadi telpon. Dia mau jodohkan anaknya sama kamu. Apa kamu bersedia?" "Teman lama?" "Iya nak. Besok teman Abi akan datang dengan anaknya dan istrinya." Point off view selesai Arumi tercenang dengan apa yang dia lihat. Itu Arya, Pasien yang selama ini dia tangani. Arumi tidak bisa berkata banyak. Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan sepatah katapun. "Loh? nak Arumi?" Ardi sendiri kaget saat melihat keberadaan Arumi. Dia kira Arumi anak Barchri adalah Arumi yang lain. Ternyata Arumi si wanita cantik yang sudah menolong anaknya. Entah ini kebetulan atau apa tapi Ardi memang tidak tahu jika Arumi anak Bachri. "Iya. Ini anak bungsu saya Di. Kamu pasti udah lupa ya hehe. Wah apa anak muda itu yang mau dijodohkan dengan Arumi?" tanya Bachri. Ardi hanya mengangguk kecil. Dia tersenyum lalu berkata, "dia ini mantan pasien nak Arumi." Kini giliran Bachri yang terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ternyata pekerjaan anaknya ini luar biasa. "Oh? sekarang sudah sembuh?" "Iya Alhamdulillah. Karena nak Arumi, anak saya kembali normal. Maka dari itu saya senang setelah tahu bahwa Arumi anak sahabatbsaya dulu. Jadi, apakah nak Arumi berkenan untuk menerima perjodohan ini?" Arumi sedari tadi menunduk. Dia bingung harus bagaimana. Tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong jika ini adalah yang dia inginkan. Arumi menahan air mata bahagianya. Dia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "Iya saya bersedia." "Kamu bersedia? Meski aku punya banyak kekurangan. Apa kamu gak akan malu? Aku ini bahkan kuliah pun tidak selesai. Aku juga punya banyak kekurangan untuk wanita hebat seperti kamu. Apa kamu masih bersedia?" Arya bertanya seperti itu dihadapan semuanya. Dia ingin menanyakan itu sedari tadi. Arumi pun tak kuasa menahan tangisannya. semuanya terheran heran akan Arumi yang malah menangis. Tapi Arya bisa merasakan bagaimana jadi Arumi. "Ya, aku bersedia. Aku gak peduli kamu kuliah atau tidak. Bukankah pasangan itu bisa saling melengkapi. Aku akan menerima semua kekurangan kamu." Bachri sampai ikut meneteskan air matanya. Dia sekarang tahu kenapa anaknya terus menolak setiap pria yang datang untuk memenangkan hatinya. Ternyata ada satu pria yang sudah memenangkan hatinya. Dan dia bisa melihat bahwa Arya sangat tulus. "Baiklah. Nanti urusan tanggal pernikahan biar kami yang menentukan. Oh iya, nak Arumi ingin mahar apa?" tanya Ardi. "Saya tidak perlu yang mewah saya hanya ingin mahar surah Al-fatihah." Farah jadi terbawa suasana haru. Dia tidak pernah melihat betapa indahnya sebuah lamaran antar pasangan seperti ini. Farah juga bahagia melihat adiknya akhirnya bisa menikah dengan gadis pujaanya. Akhirnya dia bisa memberanikan diri. "Saya izin keluar sebentar." Arya berpamitan untuk pergi keluar. Dia ingin menangis, tapi malu dengan Arumi dan keluarganya. Yuka turun dari pangkuan Farah. Dia mengikuti kemana pamannya pergi. Arya menangis dalam diam sambil menatap rembulan dengan tabungan bintang dihamparan gelapnya langit malam. Yuka menyeka air mata Arya dengan tangan mungilnya. Arya buru-buru menyekanya. Dan melayangkan senyuman manis pada keponakannya itu. "Uncle kenapa nangis?" tanya Yuka dengan sangat polos. "Gak apa-apa. Uncle lagi bahagia." "Tapi kenapa menangis?" "Iya karena saking bahagianya." "Uncle, apa Aunty sama Uncle mau menikah?" Pertanyaan yang membuat Arya sedikit kaget. Bagaimana anak lima tahun bisa tahu kata 'menikah?'. Mungkin dia mendengar kata-kata kakeknya tadi. "Iya nanti Aunty bakalan tinggal bareng sama kita." Perkataan Arya mampu membuat Yuka berbinar senang. "Nanti Yuka bisa main tiap hari sama Aunty?" "Iya bener. Tapi Aunty juga punya kerja. Mungkin kamu bisa ketemu tiap hari." "Kerja?" "Iya. Pekerjaan Aunty sangat mulia." "Aku nanti kalau besar mau jadi kayak Aunty. Dia keren banget." Yuka berkata dengan penuh tekad. Arya mengelus kepalanya dengan lembut. "Iya makannya Yuka belajar yang bener." . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN