Maukah?

1030 Kata
Orang tua Vernon menyunggingkan sebuah senyuman kala mendengar jawaban dari Arumi. Mereka senang dengan sifat Arumi. "Ekhem! Jadi, nak Arumi apakah Ananda mau menerima ajakan baik anak saya?" tanya Ayah Vernon dengan raut wajah yang serius. Arumi menghela nafas sebentar sebelum menjawab. "Bismillah ... Saya sangat tersanjung dengan niat baik Vernon dan keluarga untuk datang ke kediaman saya. Tapi, saya masih ingin menuntaskan kuliah saya. Jujur, saya belum siap untuk berubah tangga. Masih banyak yang harus saya perbaiki," jawab Arui dengan secara tidak langsung dia menolak lamaran Vernon dengan halus. Hati Arumi tidak bisa menerima Vernon. Entah kenapa Arumi malah terpikirkan dengan Arya. Tidak mungkin kan dia jatuh cinta dengan pasiennya sendiri? Tapi bayangan Artha selalu terlintas dibenaknya saat ini. "Maafkan anak saya ya nak Vernon. Semoga nak Vernon menemukan pujaan hati yang lebih baik daripada putri saya," ujar Ayah Arumi. "Kami juga mendoakan yang terbaik untuk nak Arumi. Terima kasih atas perjamuannya. Kami pamit, Assalamu'alaikum," balas Ayah Vernon. "Wa'alaikumussalam." Semuanya menjawab dengan serentak. Bachri menghampiri putrinya yang sedang merenung. "Kemarin kamu menolak ajakan seorang ustadz. Sekarang? kenapa kamu tolak anak muda yang tadi? kamu sudah mau wisuda kan? Abi tidak mengerti apa yang kamu pikirkan," kata Bachri dengan wajah yang serius dicampur sedikit kesal. Arumi menatap wajah Ayahnya, dan berkata, "Abi, bukan Arumi menolak dia. Siapa sih yang tidak mau dengan Vernon? Arumi menolak karena hati Arumi tidak yakin dengan dia." "Usia kamu sudah mau 26 tahun. Kamu sebenarnya mencari yang seperti apa?" Bachri mulai kesal dengan Arumi. Melihat suaminya kesal, Asyalie menghampirinya dan mencob menenangkan emosi suaminya dengan mengelus tangannya. "Sudahlah sayang, nanti kalau sudah waktunya dan ada jodohnya. Arumi kita pasti bakalan menikah." Asyalie mencoba mencairkan emosi Bachri. "Kalau kamu tidak menikah. Abi akan mencarikan jodohmu di Turki," kata Bachri dengan penuh tekanan. Arumi menunduk, menahan air matanya keluar. Dia bangkit dan berjalan dengan cepat menuju kamar tidurnya. Arumi pergi ke kamar mandi untuk pergi berwudhu. Arumi melakukan shalat Isya. Karena adzan sudah berlalu saat dia dimarahin oleh Bachri barusan. Selesai melaksanakan kewajibannya, Arumi melimpahkan semua curahan hati dia pada sang Maha Kuasa. Air mata membanjiri pipinya. Isak tangis kecil terdengar pilu menyayat hati. "Ya Allah tunjukanlah yang terbaik menurut engkau. Aamiin," kata Arumi dengan menutup bait panjang doanya pada sang Pencipta. Arumi mengambil ponselnya dan ada banyak panggilan tak terjawab dari Ibunya Arya. Dengan cepat, Arumi menelponnya kembali. "Assalamu'alaikum." 'Nak, tolong kemari. Arya kembali mengamuk.' "Baiklah. Jangan panik, coba peluk dia tengangkan sebisa dulu." pesan Arumi sebelum memutuskan panggilan itu. Arumi mengambil jaket dan berlari kencang dengan tas yang dia bawa di tangannya. Asyalie melihat anaknya sedang terburu-buru pun sedikit khawatir. "Rumi! Mau kemana kamu malam-malam begini?" "Pasien Arumi dalam keadaan buruk!" Arumi menjawabnya sambil mencium punggung tangan Asyalie. "Hati-hati dijalan." "Iya Mi, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Arumi mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia segera berlari tatkala sampai di kediaman Arya. Arumi terkejut melihat semua keluarganya menangis. "Aunty, tolong uncle." Yuka mengucapkan itu dengan mata yang sedang basah oleh air mata. Arumi menerbitkan seutas senyuman manis. "Iya sayang, Aunty bakalan tolong uncle kamu." Arumi segera naik ke kamar Arya. Dia disuguhi pemandangan Arya yang sedang memegang pisau tajam dan sedang mencoba menyayat tangannya sendiri. Darah segar perlahan keluar dari tangannya. Dengan cepat Arumi menghampirinya dan mengambil dengan cekatan pisau yang sudah berlumuran darah itu. Farisa jatuh pingsan saat melihat darah. "SIAPAPUN TOLONG AMBILKAN P3K!" teriak Arumi dengan penuh rasa khawatir. Dia tidak ragu untuk menekan luka di tangan Arya. "Kenapa kamu datang? Kenapa tidak biarkan aku mati saja," lirih Arya dengan nada yang putus asa. "Istighfar Arya. Bunuh diri tidak disukai Allah." Tak lama kemudian kakak Arya mengantar kotak P3K. Dia semakin menangis melihat wajah pucat Arya. Ini pertama kalinya dia melihat adik tersayang ya dalam kondisi seperti ini. Arumi dengan telaten mengobati luka Arya. Setelah selesai pandangan Arya masih kosong. Katanya masih ada di sana. Farah mencoba mendekat dan memeluk Arya dengan erat. Dia menangis sekerasnya. Arya ikut menangis mendengar kakak tersayangnya menangis. "Arya, sayang banyak istighfar ya. Kakak mengerti bahwa kamu tidak bisa memaafkan kejadian yang sudah terjadi di masa lalu. Tapi kalo kamu begini terus kakak bisa kehilangan adik kakak lagi. Apa kamu tega membiarkan kakak kehilangan adik kesayangan kakak untuk kedua kalinya. Sayang, kalo ada sesuatu katakan, kami siap mendengarkan. Jangan kayak tadi," kata Farah dengan penuh rasa kasih sayang. Arya melunak mendengar perkataan Farah. Arya meluapkan semuanya dengan menangis terisak. Dia tidak berkata apapun. Hanya tangis yang terdengar. Arumi ikut menangis mendengar tangisan Arya yang nampak pilu. Mungkin dia mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini terkubur dengan menangis. Farisa masih pingsan, Arumi mencoba memberinya kayu putih agar siuman. Tapi ternyata tidak mempan. Lalu, Arumi mencoba mengangkat tubuh Farisa dan memindahkan ya ke ranjang milik Arya. "Arumi," panggil Arya dengan wajah pucat dan sedikit merah karena habis menangis. Arumi tidak kuasa melihat wajah itu. Farah melepaskan pelukannya. Karena dia pikir Arya sedikit tenang. "Tidak bisakah kamu jadi istriku?" Arumi, Farah, dan Farisa yang baru tersadar ikut terkejut. "Bantu aku kembali normal tanpa rasa canggung. Jika aku sudah normal, kalau kamu tidak mencintai aku. Kamu boleh menceraikan aku." Akhirnya Arya berani mengatakan apa yang sudah lama dia ingin ungkapkan. Arya tidak pernah merasa selega ini. "Arya..." "Besok aku akan datang ke rumahmu." Arya tetap kekeuh dengan keputusannya. Jujur saja Arumi sedikit senang mendengar hal ini. Tapi, pernikahan bukan sebuah permainan. Apa harus ada perceraian? Bukankah itu sangat dibenci oleh Allah. "Baiklah. Kamu jangan seperti ini lagi. Coba tenangkan emosimunseperti kemarin lusa. Aku pamit. Assalamualaikum," kata Arumi dengan sopan. "Wa'alaikumussalam." Seperginya Arumi, Farisa mendekati putra bungsunya itu. "Sayang, Bunda bangga sama kamu. Tapi kenapa kamu harus melakukan hal mengerikan seperti tadi? Bukankah bisa dibicarakan dengan baik-baik dengan hati dingin." Arya terdiam, dia tidak bisa membalas perkataan Farisa. Semuanya yang dia aktifkan ada benarnya. Berkat Farah dan Farisa kini Arya tersadar dengan yang dia lakukan lima tahun kebelakang itu hal bodoh semata. Dia telah menyia-nyiakan masa mudanya dengan mengurung diri. Disaat yang lain seharusnya mengecam pendidikan setinggi mungkin. Dirinya bergelut dengan kesalahan yang bukan dilakukannya. Jika tidak, mungkin sekarang Arya sudah jadi pria sukses seperti teman-temannya. "Bunda, apa yang bisa aku banggakan saat ditanya Ayah Arumi nanti?" "Ucapkan apa adanya. Jujur lebih baik daripada mengada-ngada." . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN