"Ta..." Panggil Vani memecah kesunyian. "Heumm?" Aku mendongak menatap Vani yang juga menatapku serius. "Kamu janji ya, jauhin Rama," ucapnya memastikan sekali lagi. Mendadak dadaku terasa begitu sesak, ada gemuruh aneh yang membuat air mata mulai membendung lagi, "iya, Van, aku janji," ucapku, sekuat tenaga mencoba tersenyum. "Makasih ya, ta." Vani memelukku. Buliran bening luruh di kedua pipiku, bukan karena terharu, tapi karena rasa sakit yang tak bisa kupahami. "Sama-sama, Van. Tapi kamu juga harus ingat janji kita dulu. Kita akan bersahabat selamanya, disaat suka dan duka. Dan saling mendukung satu sama lain," ucapku mengucapkan janji persahabatan yang pernah kami ucapkan dulu saat masih sama-sama remaja. Vani mengangguk, pipinya yang chubby dan dihiasi lesung pipit itu melengku

