"lepasin aku, kak ... Please." Aku memohon padanya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya. "Diem, jangan menarik perhatian orang. Atau kamu akan tahu sendiri akibatnya." Dia mengucapkan itu lirih tanpa menatap padaku, namun pisau kecilnya lebih menekan pada pinggangku. Aku gemetar ketakutan. "Kak Ivan, kita mau kemana?" Aku memberanikan diri untuk bertanya ketika dia terus membimbingku semakin menjauh dari keramaian. Lelaki itu bergeming, tatapannya nanar. Melihat sekitar, seolah mengawasi keadaan. Beberapa kali dia membawaku mondar-mandir. Sambil terus membawaku dengan paksa. Dia seperti orang lain, orang yang berbeda. Dimana sosok kak Ivan yang baik selama ini berada? Aku bahkan tidak mengenali lelaki ini. Beberapa saat kemudian kak ivan mendorongku masuk ke sebuah ruangan.

