Rama POV. Aku memukul dinding di belakang panggung tempat biasanya aku dan beberapa teman memainkan pertunjukan musik. Rasa panas dan ngilu menjalari tanganku yang berubah memerah. Tapi itu tidak seberapa dibanding dengan hatiku yang hancur oleh semua perkataan Sita yang masih berdengung di telingaku. "Kenapa, Ram? Kok kayaknya kusut banget?" Kulihat Fabian menepuk pundakku, tangannya masih memegang stik drum kesayangannya. "Nggak papa, Fab... Saya pulang dulu lah," ijinku sambil meraih Hoodie yang tersampir di kursi tempat biasanya kami duduk dan beristirahat. "Oke, bro, hati-hati." Aku melambai padanya, kemudian bergegas keluar menuju di mana Vani dan Sita berada. Keputusanku sudah bulat, aku akan mencari tahu sendiri tentang perasaan Sita padaku. Dengan caraku sendiri. Mungkinkah

