Kadang kita hanya perlu bicara untuk dapat memahami satu sama lain. Mengakhiri pengecekan kondisiku, senyum pada bibir dokter yang merawatku selama di rumah sakit ini tergambar sangat puas. Dia sangat memuji pemulihan tubuh ini karena terasa sangat cepat. Seakan-akan di dalam tubuh ini tersimpan sosok muda dengan semangat sembuh yang tinggi. Mendengar penjelasan dokter, aku menahan gelak tawaku. Andai dokter ini tahu bila di dalam tubuh tua ibu berisi jiwa muda, yakni aku, Rhea, entah apa yang akan terjadi. Mungkin dokter akan shock, atau menganggap aku gila. “Mulai minggu depan kita coba untuk rehabilitasi paru, ya. Kenapa saya jadwalkan minggu depan, minggu ini saya ingin ibu istirahat bersama keluarga di rumah.” “Jadi saya sudah boleh pulang, Dok?” “Besok sudah boleh pulang.” R

