Sering kali sebuah kebohongan tercipta demi sebuah kebahagiaan. Seperti de javu, kondisiku saat ini seolah mengulang kejadian tempo hari ketika pertama kali membuka mata after insiden kecelakaan kemarin ini. Perlahan-lahan aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Menyadari bila kini aku berada di ruangan kamar rawatku. Bias-bias ingatanku sebelumnya menggambarkan kondisi percakapan terakhirku dengan ibu. Ekspresinya jelas khawatir, seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum dia mengucapkannya, pandanganku mendadak gelap efek rasa sakit di bagian dadaku. “Hei, Sayang. Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” tanya pak Ranu yang ternyata sejak tadi berada disisiku. Menggenggam erat tangan ini dengan ekspresi khawatir. “Aku baik-baik saja,” jawabku diambang kebingungan. Entah ap

