Bab 2

1407 Kata
Hal yang kubenci mungkin saja yang dicintai oleh orang lain.   Mobilku yang Elam kendarai berhenti tepat di depan rumahku. Perumahan komplek sederhana, yang menjadi harta benda satu-satunya peninggalan ayahku, ketika jam 7 seperti ini memang sepi sekali. Semua pintu rumah warga sudah tertutup rapat. Seakan-akan tidak ada yang menerima tamu lagi. Dan satu-satunya rumah yang pintu depan dan pintu gerbangnya masih terbuka adalah rumahku. Dinding berwarna ivory, dan langit-langit kayu berwarna rosetta, seolah menyambut kedatanganku dan juga Elam. Sambil menyandang tas plastik belanjaan, Elam mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah. Pekarangan yang biasanya menjadi lahan parkir mobilku kini di tempati sebuah motor matic zaman now, yang body- nya super besar. “Wih, boleh juga seleranya,” gumam Elam yang kuberikan pelototan tajam. Mengucap salam bersama, dari dalam rumah suara ibuku dan laki-laki dengan intonasi rendah menyambut salam kami. Aku dan Elam sama-sama bingung ketika berdiri di depan pintu masuk, melihat sosok laki-laki itu yang dibicarakan ibu pagi tadi. “Muda amat,” ucap Elam sambil berbisik di telingaku. Aku sangat setuju dengan statement Elam. Iya, memang terlalu muda. Laki-laki itu berkaca mata, dengan kulit yang tidak seputih Elam, lalu ada sedikit bulu-bulu halus di rahangnya. Mungkin jika semua itu dipangkas habis, aku akan menyangka dia lebih muda dari Elam, yang kini berusia 27 tahun. “Malam, Bu.” Seperti biasa Elam langsung masuk tanpa sungkam, mencium punggung tangan ibu, lalu menyerahkan tas belanjaan kepadanya. “Tadi sebelum ke sini mampir bentar ke supermarket. Inget ibu suka banget cokelat, mumpung promo, Elam beli semua,” ucapnya dengan intonasi jenaka. Yah, seperti itulah sikap simple Elam- ku. Laki-laki yang berhasil mengisi kekosongan kasih sayang laki-laki di rumah ini. “Bisa aja kamu mah. Oh iya, ibu mau kenalin kamu sama dia,” ucap ibuku yang lebih dulu mengenalkan orang itu pada Elam dari pada aku. “Halo, Elam. Elam Airlangga.” “Halo. Saya Ranu Wardhana.” “Panggilnya pak Ranu, mas Ranu, bang Ranu, kak Ranu, atau Ranu aja?” “Di rumah dipanggil  Ardha. Cuma kalau mau dipanggil mas Ranu boleh.” Dewasa dan bijak dari bahasa yang dia pilih dalam menjawab pertanyaan Elam. “Rhea, sini, Nak. Ibu kenalin sama Mas Ranu.” Mas Ranu? Agak sedikit ragu aku melangkah, akhirnya posisi dudukku persis di samping ibu. Karena Elam yang mengalah. Dia memilih duduk di lantai, dengan posisi tubuh bersandar pada kedua kakiku. “Ini Rhea. Rhea Salsabila. Putriku satu-satunya,” ucap ibu terlihat sangat sedih. Kedua ujung mataku sempat meliriknya tersenyum pahit, sebelum aku menyambut uluran tangan laki-laki itu. Ranu Wardhana. “Halo Rhea. Selamat malam,” ucapnya sangat sopan. “Halo, om … eh, mas Ranu.” Perkenalan kaku itu benar-benar mengusikku. Jujur aku tidak nyaman dengan karakternya. Memang dia terlihat dewasa, dari segi pembawaannya, namun dari tampangnya aku yakin usianya masih muda. “Mas Ranu, kenal ibu dari mana?” Sebagai orang yang banyak bicara, Elam mewakilkan aku. Dia tersenyum-senyum, dengan tatapan penuh arti ke arah ibu. “Kebetulan kakak saya, teman Arina. Maksud saya, teman ibu Arina.” Dia memperbaiki panggilannya terhadap ibuku. “Oh. Jadi dicomblangin.” “Elam,” panggil ibu dengan nada suara yang dibuat-buat. Karena ditelingaku, suara ibu seperti ini seolah bahagia mendengar kata-kata dari Elam. “Hehe, maaf, Bu. Elam cuma mau semuanya jelas aja. Elam memang orang asing juga di rumah ini, dikeluarga ini. Tetapi ibu sudah mengenal Elam sejak 2 tahun lalu. Dan alhamdulillahnya sampai detik ini masih diterima. Syukur-syukur dikasih dukungan untuk halalin Rhea. Jadi enggak ada salahnya kan Elam ingin kenal mas Ranu lebih dalam. Kalau-kalau memang jodohnya, toh kita akan jadi satu keluarga.” “Benar. Saya setuju dengan kata-katamu.” “Nah kan, kalau mas Ranu udah setuju, boleh kali jelasin dikit tentang diri mas Ranu.” “Semua?” “Iya, semua. Seperti orang melamar pekerjaan. Anggap saja, mas Ranu sedang melamar pekerjaan di hati ibu.” “Elam.” “Udah, Ibu tenang aja. Elam yang akan jadi palang pintu buat Ibu.” “Sekarang?” “Besok!” Aku tertawa saat Elam mulai kesal. Biasanya yang bisa membuat dia kesal seperti ini hanya aku seorang. Kini sepertinya bertambah. “Ya sekarang lah. Kalau bisa berdiri di depan situ. Biar kami bisa melihat secara jelas.” Agak sedikit ragu, sepertinya Elam berhasil membuat calon kekasih ibu menderita. “Yang tegak ya, Mas. Ibu enggak suka sama hal-hal yang loyo. Kayak terong contohnya.” Ranu Wardhana, laki-laki itu, berdiri tegak di posisi yang Elam minta. Dia terlihat merapikan sedikit pakaiannya, sebelum akhirnya suara dengan intonasi berat itu mulai memperkenalkan dirinya. “Saya Ranu Wardhana, usia 35 tahun. Saya adalah seorang konsultan pajak mandiri. Untuk hal-hal lainnya, izinkan saya memperkenalkan diri bukan dengan kata, melainkan dengan tindakan nyata.” Sengaja aku melirik ibu di sampingku, dia tersenyum sambil tersipu malu. Seketika perasaan terdalam meluap keluar. Entah mengapa aku terasa melihat senyum ayahku di samping ibu sambil mengangkat tinggi ibu jarinya. Apa inilah orangnya? Yang ayah minta kepada Tuhan untuk menemani ibu? “Gimana?” tegur Elam, menghentikan kesedihanku. “Terserah ibu. Kalau dia bahagia, aku juga bahagia.” Elam menepuk pahaku. Dia berdiri, lantas bergerak menyalami Ranu sambil menepuk bahunya. “Welcome Mas, eh, bapak Ranu.” Kalimat yang diucapkan Elam berhasil menjatuhkan tangisanku di pipi. Lagi-lagi aku melarikan pandanganku ke arah bayangan ayah tadi seolah muncul. Dan di sana sudah tidak ada lagi. Sepertinya tadi aku hanya berhalusinasi karena terlalu merindukannya.   ***   Setelah hari perkenalan itu, mas Ranu atau lebih baik kupanggil bapak Ranu, setiap pagi selalu berkunjung sebentar ke rumahku. Entah itu membawakan sarapan, sampai ibu lupa memasakkan menu kesukaanku, atau hanya sekedar mengirimkan titipan kakaknya, ibu Inara untuk ibuku. Mengenai karakter dan kesopanan sebenarnya bapak Ranu ini masuk kategori baik. Bahkan sikap tengilnya, yang biasa Elam tunjukkan, sangat-sangat tidak ada. Terkadang jika dia ingin mengajukan beberapa gaya yang menurutnya seperti anak remaja, malah terlihat awkward bagi kami. “Hei, kenapa sih? Pagi-pagi udah cemberut aja.” Elam mungkin menyadari perubahan wajahku hari ini. Biasanya aku yang banyak ngoceh, hari ini ekspresiku tampak mendung. “Rhea sayang, kenapa? Walau gajiian masih 3 hari lagi, tapi kamu wajib semangat dong.” Dia menggodaku, aku mencubitnya kencang. Kali ini ekspresiku tidak main-main. Bukan semata-mata ingin menarik perhatian dia. Tidak. Aku sedang kaget sekaligus bingung. “Rhe, kayaknya masalah serius nih. Ada apaan dah?” Aku membalas tatapan khawatir dari Elam. Walau dia sedang mengemudi pagi ini, tapi ekspresi khawatirnya terlihat sangat jelas. “Duh, gimana ceritanya, ya.” “Maksud kamu? Kamu enggak paham mau cerita dari mana?” Kepalaku mengangguk. Aku membunyikan kesepuluh jariku, menimbang kira-kira bagaimana tanggapan Elam kali ini. “Bapak Ranu  ….” “Iya, kenapa tuh orang? Tumben pagi ini aku enggak lihat dia.” “Itu masalahnya.” “Masalah apa? Jangan buat aku bingung, Rhe.” “Masalahnya tadi pagi ibu cerita, kalau ibu Inara, atau kakaknya pak Ranu, melamarkan ibu untuk pak Ranu.” “AH? Melamar? Jadi ….” “Iya. Pak Ranu berharap ibu bisa menikah dengan dia dalam bulan ini.” Elam yang biasa menyupir santai, entah kenapa bisa melakukan rem mendadak setelah mendengarkan kabar ini. “Elam, pelan-pelan!” “Sek … sek, aku minggir dulu. Ini pembicaraan serius.” Dia menghentikan mobil ini di pinggir jalan, lalu terburu-buru menatapku. “Maksud kamu apa, Rhe? Coba cerita lagi, si bapak itu kenapa?” “Dia mau menikahi ibu dalam bulan ini.” “WHAT? Kenapa dia buru-buru begini? Ngebuntingin ibu, dia?” “ELAM!” “Ya habis, aku kaget lah. Gila banget. Aku tahu dia niat baik, mau menikahi ibu. Dan aku welcome banget sama niat baik dia. Cuma ya enggak secepat ini, Rhe? Gila kali. Disangka nikah bisa langsung bimsalabim gitu? Emang keluarga ibumu udah kenal dia? Keluarga dari ayah kamu juga setidaknya kenal, siapa laki-laki yang akan menggantikan posisi ayah kamu. Karena ada kamu, Rhea. Anak dari ayahmu. Dan keluarga ayah kamu wajib tahu. Inget Rhea. Nanti ketika aku nikahin kamu, wali kamu bukan dia. Tapi keluarga ayah kamu. Jadi enggak bisa secepat itu menurutku. Dia enggak bisa seenaknya gitu. Semua perlu dimusyawarahkan dengan baik.” Panjang lebar penjelasan dari Elam, membuatku benar-benar membuka mata dan pikiran. Tidak disangka laki-laki yang menemaniku setiap hari sudah memikirkan sejauh ini. “Itulah kenapa setiap bulan aku memintamu untuk datang ke keluarga ayah, karena dari sana restuku bisa diberikan.” Tidak mampu berkata-kata, aku memeluk Elam erat. Erat sekali. Terima kasih Elam, telah hadir dalam hidupku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN