Bab 1

1218 Kata
Kadang kala kelembutan malah membuat langkah dan tujuan kita tak tentu arah.    Aku terhenti menyendokkan makanan kesukaanku yang sudah selesai dimasak oleh ibu sejak pagi, dengan bumbu cinta tentu saja. Sambal goreng ati plus pete, serta sayur capcay yang biasanya mampu menggoyangkan lidahku sekalipun sedang dalam kondisi terburu-buru, kali ini seolah tidak menarik perhatianku. Fokusku mengikuti arah suara ibu yang terasa kalah saing dengan vakum cleaner yang sedang dia pergunakan. “Ya, ibu ngomong dulu aja. Takut kamu kaget kalau tiba-tiba orangnya datang.” Benar-benar ingin fokus dengan percakapan pagi ini, aku langsung menghentikan acara sarapanku. Walau waktu sudah mengikis, dan sebentar lagi aku harus berangkat ke kantor dengan kendaraan roda 4 yang akan memakan waktu, entah kenapa semua tidak kupedulikan. Karena yang paling penting kali ini adalah arti dari kata-kata ibu. “Emang dia siapa, Bu? Maksud Rhea, Ibu kenal di mana sama dia?” Tersenyum malu-malu layaknya aku waktu pertama kali bertemu Elam, kekasihku tentunya, ibu tiba-tiba saja mendekat. Tanpa mau repot-repot mematikan mesin vakum yang super duper berisik. “Dia adik teman arisan ibu. Kamu tahu ibu Inara enggak? Itu loh yang cantik banget. Kayaknya kamu pernah tanya deh sama ibu siapa namanya dia, waktu ada arisan di rumah kita.” “Inara?” ulangku mengingat-ingat. Terobosan otakku yang memang sangat lah cerdas langsung memunculkan sebuah wajah cantik, berkulit putih dengan hidung mancung, dan dagu berbelah, yang menjadi teman arisan dari ibuku. Memang benar sewaktu kurang lebih 1-2 bulan lalu, ketika arisan di rumah ini, wajah cantik itu membuatku terpesona. Bayangkan saja, seorang perempuan saja bisa terpesona ketika melihat wajah cantiknya, apalagi laki-laki. Dan ibu Inara ini memang dekat sekali dengan ibuku. Tapi masalahnya aku hanya tahu sampai sejauh itu saja, setelah 2 bulan berlalu dari pertanyaanku kepada ibu tentang nama ibu Inara, kenapa sekarang berlanjut ke hubungan asmara antara adiknya dengan ibuku. Ya Tuhan, apa semua ini mimpi? “Rhea, kok kamu diem aja? Gimana menurut kamu?” “Gimana apanya?” “Gimana tentang adiknya ibu Inara?” What? Kok malah tanya aku. Memangnya aku kenal dengan orangnya. “Sebenarnya gini, ibu enggak ada rencana menikah lagi setelah kepergian ayahmu. Kamu lihat sendiri kan, ibu sudah membuktikannya. Tetapi semakin kamu sibuk dengan kerjaaan, dan calon suamimu, ibu selalu bingung harus bercerita dengan siapa. Ibu menunggumu dari pagi, sampai sore kamu pulang kerja. Namun tiba-tiba saja, setiap pukul 5, kamu mengirimkan pesan ke ibu akan pulang malam, karena Elam menjemput dan akan makan di luar. Di sanalah, ibu merasa butuh seseorang untuk mendengarkan ibu. Nemenani ibu bercerita sampai kamu pulang, Rhe.” “Ya kan, Ibu sewa aja pembantu. Jadi Ibu ada teman yang mendengarkan.” Jawaban seenaknya yang keluar dari mulutku, membuat ibu menggeleng dengaan tatapan sedih. Please, deh. I know apa yang ibu maksud. Tapi yaelah, karena kesepian masa langsung kepengen nikah lagi. Mana semangat menjomblonya? Dulu, sebelum bertemu Elam, 2 tahun lalu, aku fine-fine saja menjomblo sejak lagi. Apalagi setelah kepergian ayah, aku benar-benar kehilangan sosok laki-laki dalam kehidupanku. Laki-laki yang bisa kuandalkan, dan bisa menjadi sandaranku ketika aku lelah. Akan tetapi buktinya aku bahkan bisa bertahan tanpa pacaran, tanpa teman laki-laki spesial, sampai kuliahku selesai dan aku berhasil bekerja di tempat yang cukup nyaman. Lalu sekarang, ketika aku mendengar dari ibu menggunakan alasan tersebut untuk menikah lagi, kok rasanya aku tidak ikhlas, ya. “Rhea, bagaimana?” “Rhea enggak tahu harus ngomong apa ke Ibu. Karena sejujurnya Rhea kan enggak kenal siapa sosok laki-laki itu? Lagi pula jika Ibu bahagia seperti itu, harusnya ayah pun di sana akan bahagia.” Sengaja kupertegas kalimatku pada ibu, agar dia sadar jika ayah tetap akan ada di dalam hatiku. Karena tempatnya tidak akan mungkin tergantikan.   ***   Merapikan beberapa memo yang baru saja selesai aku buat, sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chatting abad ini, apalagi kalau bukan w******p. Si telepon yang berwarna hijau itu memunculkan sebuah nama beserta isi pesannya di jam-jam yang dinantikan para pekerja sepertiku ini.   Sayangku Sebelum pulang, anterin aku ke supermarket bentar ya. Sabun cuci muka habis.   Elam. Laki-laki berwajah Arabian ini memang sudah menjadi kekasihku sejak 2 tahun lalu. Pertemuan tidak sengaja kami pertama kali, ya di kantor ini. Tepatnya di kantin kantor. Dimana dia dan aku saling berebut mangkuk terakhir dari bubur ayam kebanggaan warga kantor. Entah memang takdirku atau bagaimana, semenjak kejadian itu Elam perlahan mendekatiku melalui teman-teman. Dan akhirnya, setelah kenal hampir 1 bulan, laki-laki itu memintaku untuk menjadi perempuan spesial dalam hidupnya. Perjalanan cinta kami selalu baik-baik saja. Elam tipe laki-laki santai dan tidak memaksa. Selama 2 tahun menjalani kisah cinta ini, dia selalu sopan memperlakukanku. Bahkan meminta untuk sebuah ciuman saja, Elam selalu izin terlebih dahulu. Jika aku tidak mengizinkan, maka dia akan tertawa, dan menganggap waktu tersebut tidak cocok bagiku untuk bermesraan. Dari penilaianku selama ini, Elam juga sangat baik memperlakukan ibuku. Dia bahkan rela, diwaktu liburnya, menemani ibuku berbelanja, layaknya putra ibu sendiri. Dengan semua hal kesederhaan itu, entah kenapa aku semakin mantap menjalani hubungan ini bersamanya. Yah, sekalipun sampai detik ini Elam belum juga melamarku. Tapi aku tahu, cepat atau lambat dia akan melakukannya.   Oke. Sekalian belanja untuk kebutuhan ibu. Ketika AC kantor telah mati, segera saja aku menyandang tasku untuk turun ke basement di mana mobilku diparkirkan rapi oleh Elam tadi pagi. Bicara soal kendaraan, sesungguhnya Elam pun memiliki kendaraan sendiri, yakni sebuah motor sport yang baru saja dia beli dengan mencicilnya, serta sebuah mobil yang dia dapatkan dari kantor. Sama sepertiku. Namun sesuai kebiasaannya, Elam akan datang ke rumahku terlebih dahulu dengan motornya, lalu kami sama-sama ke kantor dengan mobilku. Terlihat romantis, tapi nyatanya boros abis. Bensin untuk motor jauh lebih mahal dari pada bensin untuk mobil. Hingga terkadang aku protes kepadanya agar berbagi subsidi bahan bakar. Cuma pintarnya Elam, dia akan mengatakan hal yang sejujurnya memang selalu dia lakukan, tetapi tidak kuanggap. Kan yang bawa ke bengkel sebulan sekali, selalu aku. Terus, masih nagih uang bensin sama aku? Sehingga aku cuma bisa pasrah jika Elam sudah menyebut hal itu. “Hoiii…” panggil Elam kepadaku, layaknya SAHABAT. “Hoi … hoi!” “Lagian bengong aja dilihat dari tadi,” kekehnya sambil berjalan santai mendahuluiku masuk ke dalam mobil. “Yuk, lah. Jangan sampai kemalaman. Karena aku mau makan di rumah kamu aja.” “Kok gitu? Kita enggak dinner di luar?” Elam hanya tersenyum. Ketika kami sama-sama sudah berada di dalam mobil, Elam memberikan hpnya kepadaku. “Kenapa?” “Baca aja.” Aku membacanya. Nama IBU SURI disematkan oleh Elam pada nomor ibuku. Dalam pesan tersebut jujur aku bingung mendeskripsikannya. Karena ketika setiap kalimat yang k****a, aku merasa ibu sedang meminta izin berkencan kepada anak laki-lakinya.   IBU SURI  Nak, kalau sudah balik kerja langsung pulang ya. Ada yang mau ibu perkenalkan kepadamu. Ibu harap kamu bisa bersahabat baik dengannya.   “Kok gitu tampang kamu?” tanya Elam sambil melirikku. “Masih berlanjut ternyata.” “Apanya?” selidik Elam bingung. Ops. Aku hampir lupa menceritakan kepad Elam percakapanku tadi pagi bersama ibu. “Tadi pagi, sebelum kamu datang, ibu curhat sama aku.” “Curhat apaan? Kayak OPK aja.” “OPK?” “Orang Puber Kedua.” “Serius aku.” “Iya aku juga serius. Dia curhat apaan?” Aku menatap Elam dalam, seolah meminta Elam untuk sepihak denganku. “Ibu mau menikah lagi.” “Alhamdulillah.” “ELAAAAMMM!!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN