Jika sudah terlanjur hancur, mengapa tidak diremukkan sekalian. Dan membentuknya kembali dalam keadaan berbeda. Ternyata memang tidak seperti yang dibayangkan. Setelah menikah. Setelah mereka sah, pak Ranu tidak mau menempati rumah di mana aku dan ibu tinggal sebelumnya. Dia ingin membawa ibu dan juga aku, yang katanya sudah menjadi anak tirinya, untuk tinggal di rumah miliknya. Rumah pak Ranu yang sudah dia siapkan untuk keluarga kecilnya. Apalagi rumah ini adalah hasil peninggalan ayah, pastinya membuat pak Ranu berpikir dua kali lipat untuk tinggal dan menumpang di sini. Aku tahu sekali dia pasti gengsi untuk tinggal di rumah ini. Yah, walau pak Ranu tidak mengatakan apapun, aku yakin dia merasakan hal itu. Bukankah gengsi laki-laki sebenarnya jauh lebih tinggi dari perempuan?

