Sumpah mati, bila aku bisa mengakui, akupun malas dengan semua situasi ini. Kembali ke tenda, aku dan Elam mendapatkan tatapan penuh penilaian dari ibu. Perempuan paruh baya yang benar-benar kusayangi, melebihi sayangku pada diriku sendiri, seakan ingin mengatakan banyak hal atas apa yang dia pikir atau atas apa yang dia tahu. Tetapi ketika Elam dengan bodohnya membongkar lebih dulu, situasi yang tadi terasa tidak nyaman malah membuat ibu tertawa puas. “Maaf ya Bu, lama. Elam abis setoran. Maklum, toilet kan selain buat setor kotoran, juga buat setoran rindu. Mumpung sepi.” Aku mendelik tidak suka, sedangkan Elam membalasnya dengan cengiran seolah bangga melakukannya. Lalu, ibu yang duduk di sampingku malah tertawa geli, seakan-akan Elam sedang menjadi komedian di depan kita semua.

