Sudah kubilang, menerima tidak selamanya indah. Ada saja petaka yang membuatnya malah terluka. Tidak ada yang tahu kejadian semalam, selain aku dan pak Ranu, saat pagi menyapa kami berdua benar-benar menjaga jarak kami. Jika aku berada di dalam tenda, menyiapkan sesuatu untuk dipakai bersih-bersih pagi ini, pak Ranu kudengar meminta izin kepada ibu untuk mencari sarapan di tempat para penjual yang tidak jauh dari lokasi tendaku. Sungguh, bisa-bisanya dia kabur setelah melakukan semuanya padaku semalam. Memelukku erat, seolah aku adalah guling hidupnya, memang terasa sangat kurang ajar. Bahkan Elam, si pendengkur ulung aja, tidak pernah macam-macam kepadaku. Dia, si orang baru yang berlagak baik di depan ibuku, nyatanya memiliki kelakuan jahat yang bahkan tidak berani dia ceritakan kep

