Satu persatu kenyataan dan kenyamanan bisa kurasakan dengan pasti. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Dulu jika aku diposisi Rhea, rasanya harus berjuang dengan susah payah, sampai menghabiskan banyak tenaga, supaya bisa bertahan melewati waktu sabtu minggu. Namun setelah bertahan diposisi ibu selama kurang lebih 1 bulan ini, waktu berjalan begitu cepat. Bahkan malam yang menjadi ketakutanku seperti dulu, kini sudah tidak ada lagi. Mungkin karena hampir disetiap malam aku melakukan komunikasi yang panjang dengan pak Ranu. Biasanya kami akan memulai pembicaraan dengan topik yang simple. Sampai diakhir-akhir pembicaraan pak Ranu mengarahkan topik ke masa depan, antara dia dan ibu. Jelas bukan denganku. Aku juga tidak ingin selamanya menempati posisi ini. “Elam jadi datang kah, Rh

