Bab 13

1165 Kata
POV Dave Apa yang terjadi dan apa yang dilihat ternyata tidak sinkron. Dave berpikir bahwa ruang seorang dosen yang sangay dingin bagai es yang beku itu tidak akan pernah seberantakan ini. Ya, memang tidak sebelum ada satu manusia yang mengacaukan segalanya. Kata Juna tadi dia bagai orang gila yang bahkan datang dengan tersenyum membawa banyak makanan serta beberapa alkohol. Walau Juna tidak meminum alkohol tapi Sean yang menghabiskan semuanya. Belum lagi beberapa makanan yang kelihatannya dipesan setelah Sean datang ke kantor Juna. Yang untungnya kantornya privat bisa bebas walau biasanya Juna selalu memperingati untuk bermain aman. Ya,begitulah Juna dengan segala nasehatnya. Karena dia yang paling dewasa walau kadang dia hanya banyak terdiam daripada berbicara. Jangan harapkan nasehatnya akan keluar panjang. Jika ingin memberi motivasi maka datanglah pada Sean. Namun, untuk saat-saat tertentu Sean juga tidak bisa menjadi bijak. Contohnya, sekarang lain lagi dengan Juna. Aku saja heran mengapa memiliki dua teman yang bertolak belakang. Sampai sekarang aku masih memikirkan bagaimana Juna mengajar mahasiswanya? Entahlah, hanya dia dan Yang Di Atas yang tau. "Hei, Bro. Kau sudah sampai? Aku bahkan tidak merasakan apa-apa hampir selama 3 jam di sini" kata Sean yang mulai melantur, Kelihatannya dia minum agak banyak terlihat dari 5 botol alkohol yang tidak perlu kusebutkan merknya. "Ckckck, jelas saja kau tidak merasa apa-apa. Kau sedang mabuk" kataku padanya, dia hanya tersenyum dan bersendawa lalu berucap, "ah, Juna tidak asik. Dia hanya melihatku minum tanpa mau membantuku" ujarnya menjelaskan. Aku melirik Juna yang mengedikkan bahu tanda tak tahu, " dia tidak pernah minum Sean. Tidak usah menyuruhnya ke jalan yang salah" ujarku "Ah, maukah kau menemaniku minum? Seperti teman baik. Alkohol juga, bisa menghangatkan tubuh dan dahaga yang kering" katanya mulai berpuitis dengan kata-kata rayuannya. Dia selalu percaya bahwa wanita hanya pemuas. Dia tidak percaya cinta tapi bisa melontarkan rayuan seindah itu. Ya, bagiku yang lelaki saja itu indah apalagi para wanita. Ah, entahlah. "Aku tidak tau kalau ternyata dia sebobrok ini dalam hidup. Sudah mau 35 tahun tapi tidak tau diri" ujarnya Ya, di antara kami yang paling tua adalah Sean, 32 tahun. Aku dan Juna hanya beda setahun. Makanya aku lebih dekat dengan Juna. Ya kadang ada lebih ke Sean juga sih. "Kenapa dia sampai seperti ini?" Tanyaku pada Juna menunjuk Sean, "Entahlah, dia bercerita padaku tapi tidak jelas karena mabuk. Dia datang dengan muka tersenyum puas. Walau akhirnya kusut sampai di sini. Sampai dia mengeluarkan segala makanan dan minuman serta memesan lagi." Kata Juna, "katanya dia mau cerita, eh tidak taunya keburu teler baru bisa cerita dengan megap-megap," ujar Juna menjelaskan. "Aneh, kenapa dia begini? Belum pernah dia begini mabuk hanya dengan tiga botol walau dia membeli lima botol yang diminum oleh Sean habis dengan tandas hanya tiga setengah botol alkohol bahkan tidak sampai setengah pun." Ujarku pada Juna, yang Juna tanggapi hanya dengan kedikan bahu, "mungkin dia lelah" ujarnya, "dan butuh penghiburan karena tidak dapat di ranjang. Akhirnya dia melarikannya ke alkohol" jelasnya lagi menambahi. Ah, mungkin saja pikirku. Aku hanya mengedikkan bahu. . . "Lalu ada keperluan apa Bapak CEO yang terhormat? Sampai mau datang kemari?" Tanya Juna dengan menaikkan sebelah alisnya mencoba mencibir, "Ckckck... berpura-pura bodohlah terus Jun. Dan aku heran kenapa kau bisa menjadi dosen jika pekerjaanmu selalu mencemooh dan menipu temanmu," ujar Dave kesal tapi tetap tenang. "So, what?" Ulang Juna, "Aku tau Jun, dan sepertinya ini rencanamu," ujar Dave, "Oh, tentang Aini? Aku cukup terkejut semalam bahwa kau dan dia saling mengenal lalu mengenalkannya pada orang lain sebagai tunangan. Aku rasa kau masih pintar dan tidak cukup bodoh dengan otak lulusan luar negerimu itu," sarkas Juna, "Kau sudah tau tapi tak memberi tahuku?" Tanya Dave, "Kau masih utang satu cerita padaku, kebetulan si Curut ini di sini.. maka silakan bercerita walau dia sedang tidak waras." Ucap Juna, Haah... terdengar Dave menghela napas panjang dan mengeluarkan lagi deng pelan, lalu mulailah dia bercerita,... Juna yang mendengarkan hanya mengangguk tanda paham, "lalu Leo itu? Bukannya mantan Aini, ya?" Tanyanya, "Iya, aku juga baru tau dan akhirnya aku berhasil membungkam anak mami itu. Jika dia macam-macam nanti." Ujar Dave, "Tapi kau perlu hati-hati Dave, bukan apa-apa. Hanya saja kita tidak tau ke depannya. Bisa-bisa bisnis kita yang diserang. Lagipula kita memang perlu waspada kan? Sebab jika pengusaha memang banyak yang mengintai, bukan?" Ujar Juna, bukan mempengaruhi pernyataan sekaligus pertanyaan Juna memang benar. Dave saja merasakannya. Juna pun begitu hanya saja Juna yang pendiam dan bagai es memang susah dilumpuhkan. Dave juga mengakui itu, "Lalu bagaimana kau bisa merekomendasikan Aini magang di perusahaan ini?" Tanya Dave, penasaran. "Aku melihat dia cukup cekatan Dave, dia termasuk pandai dan mendapat beasiswa. Tetapi dia belum magang. Bahkan sebentar lagi seharusnya dia bisa sidang. Itu sebabnya aku memintamu juga untuk membantunya. Sebab, dia seperti tertekan dan memiliki beban yang cukup berat, selain masalah Leo mungkin." Jelas Juna terkekeh, Dave biasa melihat kekehan itu karena tidak pernah dari hati. Tapi entah kenapa kali ini dia melihat sorot kepedulian di mata kelam Juna. "Ekhem.. aku belum tau apa itu," ujar Dave, "Eh, tapi tadi malam ada seseorang yang menelponnya menggunakan nomor asing. Yang tidak ada tersimpan di ponsel Aini," ujar Dave, "Kamu membuka ponselnya? Itu privasi seseorang Dave," seru Sean tba-tiba, Lalu kembali menjatuhkan diri di sofa dan memejamkan mata. Juna yang sudah hapal pun mengibaskan tangan, "sudah biarkan saja. Kau tau dia kan?" Tanya Juna, Membuat Dave tertawa... "dia selalu mabuk. Tidak pernah mendengarkan cerita orang lain dan tidak tau apa yang terjadi pada dirinya saat mabuk tapi akan menyambung jika orang berbicara sebab alam bawah sadarnya mengkoneksi ke otaknya yang pintar itu," ucap Dave, "Iya itu benar, dan sekarang aku baru tau seakan ingat kembali fungsi otaknya yang pintar itu selain s**********n saja." Ujarnya Juna menambahkan. "Hahahaha" tawa Dave, Dave sukses tertawa, puas itulah yang dirasakannya... "Tapi benar Dave, itu privasi orang lain. Kenapa kau membuka ponselnya? Ujar Juna, "Aku tidak tau keinginan dari mana. Ada dua nomor yang pertama sudah kublokir. Karena sepertinya aku tau penelpon kedua masih berhubungan dengannya. Sepertinya Leo atau kalau bukan teman lelakinya yang lain. Dan bagiku itu tidak penting." Jelas Dave, "Lagipula aku merasa terganggu dengan dering ponsel itu" tambah Dave lagi, "Hem..." Juna berdehem dan berpura-pura berpikir. "Bukannya semalam kau, mengatakan bahwa kekasihmu sudah tidur Dave karena kelelahan?" Tanya Juna sembari menaikkan sebelah alisnya, dalam mode on begini Dave rasanya malas sekali membalas Juna namun, teringat kembali, "ia. Dari mana kau tahu?" Tanya Dave acuh, "Aku ..." belum sempat Juna membalas, seolah teringat Dave membelalakkan matanya, "a..pa? Jun, jangan katakan itu kau?"tunjuknya, "Hahaha," tawa Juna pecah, hanya sebentar lalu kembali diam ke mode datar seperti biasa, "Aku tak percaya kau melakukan itu Jun, untuk apa? Mengerjaiku?" Kesal Dave bertanya, "Hanya memastikan" ujarnya santai, "Apa?" Tanya Dave, "Kau tidak impoten kan?" Tanyanya sambil berseru lalu masuk ke kamar mandi... Dave hanya ternganga melihat kelakuan sahabatnya itu, Juna sebelumnya tidak pernah seperti ini. Apa dia terbentur, pikirnya. Jangan heran dengan kamar dan juga kamar mandi. Ruangan Juna sangat VVIP... tapi yang mengherankan, Dave seperti orang bodoh, seketika. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN