Pagi menyapa lewat sinarnya, Aini terbangun karena cahaya dari tirai memancar masuk ke dalam kamar. Dia tersentak kaget dan hampir saja menabrak kepala ranjang kala mundur ke belakang.
"Ah, di mana aku?" Ujarnya
"Astaga, aku lupa" ucapnya lagi, dia ingat semalam dia menginap di rumah Dave. Tapi seingatnya dia tertidur di meja makan setelah membereskan bekas makan malam mereka semalam lalu dia sempat berbalas chat ria bersama kedua sahabatnya. Kenapa dia bisa di kamar? Siapa yang memindahkanku? Pikirnya.
Mungkin saja Dave, ahh iya pasti dia pikirnya. Lalu dia melihat jam di atas nakas. Astaga jam 7? Dia akan terlambat, dia ingin bergegas ke kamar mandi tetapi ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok..tok..tok...
"Sebentar" ucapnya,
"Ya,?" Katanya setelah membuka pintu,
"Ini pakaian non, tadi Tuan Dave yang menyuruh bibik memberikan ini pada non," ucap si bibik yang ternyata sudah datang.
"Ah, ya bik. Maaf merepotkan bibik" ucap Aini,
"Ndak apa non, kan sudah tugas saya" ucapnya lagi
"Oh, ya saya akan mandi dulu bik. Terima kasih" katanya lagi, "oh, ya bik ... jangan panggil non cukup Aini saja" ujarnya tersenyum manis.
"Saya tidak suka dipanggil non bik." Tambahnya tak mau dibantah
Si bibik yang kebetulan tadi ingin membantah menghentikan ucapannya dan hanya mengangguk.
"Baiklah non. Eh, ups. Aini" ujar si bibik, "Tuan Dave sudah menunggu di bawah. Katanya biar sarapan bareng, bibik buat nasi goreng dan sandwich untuk kalian berdua" ucap bibik lagi
"Terima kasih Bik" ujar Aini sambil mengangguk dan setelah si bibik berlalu dia menutup pintu kamar dan menuju kamar mandi.
30 menit kemudian ....
"Sudah siap?" Tanya Dave setelah Aini sampai di meja makan
"Ya" ucapnya
"Makanlah, lalu kita berangkat bersama" ucapnya lagi
Aini hanya mengangguk dan memulai sarapan paginya dengan tenang. Sudah lama dia makan tidak setenang ini bila di rumahnya. Teringat akan rumahnya yang setiap pagi selalu ribut bila tidak kakak tirinya maka adiknya lah yang membuat keributan dan ibu tirinya hanya selalu berakting ria di depan ayahnya takut kebusukannya terbongkar. Dasar, iblis!
Tetapi dia hanya bisa merutuk dalam hati tanpa berani mengucapkannya, kadangkala dia malas ribut dengan mereka dan ayahnya akan semakin membencinya. Huft.... hidupnya sudah melelahkan ditambah permasalahan yang pelik. Sudah cukup, pikirnya.
Dave yang melihat Aini tampak murung akhirnya bertanya, "kenapa? Makanannya tidak enak? Atau apa?" Tanyanya
"Oh, ah, ha? Bu.. bukan. Ini enak kok" ucap Aini tergagap dan tersentak menjawab cepat
"Ini enak dan aku menyukainya. Walau aku kadang lebih menyukain makanan tradisional asli indonesia. Asli lokal lebih menggugah selera" ucapnya, "tapu tidak memungkiri aku juga menyukai semua jenis makanan, kecuali batu. Mungkin" tambahnya terkekeh pelan sambil mengedikkan bahu.
Dave yang melihat itu pun ikut tersenyum. Entah apa yang lucu dia merasa semenjak ada Aini hidupnya banyak tersenyum.
Di keluarganya Walau tidak bisa dibilang harmonis namun juga bukan keluarga yang mementingkan diri sendiri. Jadi Dave termasuk beruntung walau tidak pernah tau bagaimana Aini di keluarganya. Dilihat dari raut mukanya Aini seperti memiliki beban dalam hidup meski dia tidak mengatakan lewat ucapan, matanya kadang menunjukkan itu terlihat jelas.
"Ayo habiskan sarapannya dan kita berangkat" ucap Dave
"Baiklah" ucapnya
Setelah menghabiskan sarapan paginya mereka berangkat bersama menuju tempatnya masing-masing yang mana mereka tidak ada yang tahu bahwa itu tempat yang sama.
Di dalam mobil mereka hanya berdiam selam 5 menit membuat keduanya gerah sendiri karena merasa canggung, Aini yang segan untuk memulai pembicaraan dan Dave yang sepertinya fokus menyetir karena hari ini dia tidak memakai supir sebab dia ingin mengantar Aini sendirian.
"Kamu akan kemana?" Tanya Dave lebih dulu karena tidak tahan dengan keterdiaman mereka berdua
"Em.. D&R company" ucap Aini,
"Oke" ucap Dave, lalu "APA!" Serunya
"D&R Company. Aku akan magang di sana. Kemarin aku harusnya di wawancara oleh HRDnya tapi karena berhalangan jadi Maneger pemasaran yang mewawancariku. Karena katanya aku seharusnya bisa magang bagian property dan pemasaran. Hanya saja CEO mereka membutuhkan sekretaris aku terpaksa di sana dulu selama magang. Pak Juna merekomendasikanku." Jelas Aini
Dave yang mulai berkfikir sejak Ainu mengucapkan 'D&R' masih mencerna dan akhirnya paham apalagi setelah penjelasannya yang panjang lebar. Ternyata, dialah orang yang direkomendasikan oleh Juna, pikirnya.
Memang perusahaan mereka masih terbilang baru dan masih belum sebesar perusahaan ayahnya. Ya, itu adalah perusahaan Dave dan Juna yang mereka bangun bersama dengan Sean juga. Namun, Juna tidak terlalu mau mengurusnya karena dia punya bisnis lain yaitu, cafe dan kuliner. Apalagi dia juga seorang dosen. Jadi, semua dipegang oleh orang-orang kepercayaannya serta asisten pribadi. Ia hanya memantau sekali seminggu atau sebulan. Sedangkan perusahaan ini, Dave yang memegang karena Sean juga sibuk dengan bisnis keluarganya di London. Berbeda dengannya yang ayahnya masih mau mengurusi bisnis keluarga dia bisa fokus ke bisnisnya sendiri.
Property dan apartemen adalah bisnis mereka. Memang sebenarnya Dave yang bertanggung jawab penuh karena Sean dan Juna hanya membantu sesekali dan memberi saham. Dan yang terbesar tetap milik Dave.
Jangan bahas namanya karena itu akan mengingatkan dia tentang masa lalu dan rasa sakit.
"Ah, jadi ternyata dirimu orang itu" ucap Dave terdengar ambigu di telinga,
"Maksudnya?" Tanya Aini,
"Yang diceritakan Juna padaku tempo hari. Bahwa dia akan merekomendasikan orang yang dia kenal" ucapnya
"Tapi aku tidak mengenal Pak Juna selain di kampus karena dia dosen yang masuk kelas mata kuliahku saja, tidak lebih" ucap Aini terlihat ragu walaupun dia yakin Juna tidak mengenalnya sebanya itu selama ini.
"Tapi ya memang beberapa kali aku membantu Pak Juna menyusun nilai para mahasiswa sih. Jawabnya tidak yakin.
Ya walaupun ga tiap hari hanya beberapa kali dalam 4 tahun it artinya dalam hampir 8 semester hanya pernah 3 semester itupun mulai semester 4,5 dan 6. Selebinya tidak. Bahkan di awal dia terkesan dingin padaku" ucapnya lagi menjelaskan
Tapi dia nampak memikirkan sesuatu, "tapi aku seperti akrab dengannya. Tapi, entah di mana aku pernah bertemu, ah biarlah" ucapnya pelan namun masih bisa di dengar Dave,
"Apa?" Tanyanya, "ah, tidak" ucap Aini
Dave yakin pendengarannya masih bagus dan berfungsi dengan baik. Ada apa dengan Juna? Batinnya penasaran
"Baiklah,sekarang kita sampai. Karena kamu yang akan menjadi sekretarisku, aku harap kamu bisa kompeten walau ini magang. Karena bisa jadi nanti kamu direkomendasikan bekerja di sini" ucapnya,
"Oke" ucap Aini tapi tidak lama, "A... APA?" ucapnya,
Namun dia melihat Senyum tersungging di kedua sudut bibir Dave, smirk licik yang terlihat sexy di mata Aini,
***