Bab 22

2002 Kata

Hendra menatap Aini lekat, meski Aini sering membangkang dan menyatakan perlawanan terhadapnya dengan begitu jelas. Bahkan menciptakan jarang di antara keduanya, jelasnya rasa sayang itu tetap ada. Karena dulu Aini adalah sumber kebahagiaan Hendra. "Ini yang terbaik untuk kamu." Aini membuang wajanya ke arah lain. Merasa tidak habis pikir atas jalan pikiran sang ayah. Selalu beralasan yang sama setiap kali dia bertanya tentang keputusan sang ayah yang terus saja merongrongnya untuk kembali kepada laki-laki yang sudah sangat jelas-jelas menyakiti putrinya. "Kurasa bukan yang terbaik untukku," kata Aini menghembuskan napas. "Terbaik untuk ayah dan perusahaan ayah, kan?" lanjutnya yang seketika membuat raut sang ayah berubah. "Aini," tegur Hendra pelan. Dia tidak ingin orang lain deng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN