Hujan 18 - Valen, Makasih Banyak!

1808 Kata
Sebelum semuanya gagal, Rama punya misi untuk mengajak dua manusia aneh yang menjadi temannya itu untuk kerja sama. Rama akan mengkoordinir agar Miky dan Valen kompak dengan pendapatnya. Biar nanti ketika Kaima ngajak ketemu Hajwa, nggak ada yang mau. Memang misi yang jahat, dan sedikit egois. Siang itu, sebelum menjalankan misinya. Rama gelisah, perasaannya tak tenang sama sekali. Tatapannya tak pernah lepas dari Miky, Valen dan Kaima. Tiap kali Kaima ingin mendekat dan mengobrol dalam forum, Rama langsung merebutnya. Ia takut jika Kaima akan mengatakan kebohongannya. Kan kemarin Kaima udah tertipu. Sayang kalau akhirnya gagal. Saat jam kosong juga, Rama yang biasanya sibuk ongkang-ongkang kaki dan tidur siang, kini duduk dengan tak berkedip menatap targetnya. Ia melawan kantuknya dan mencoba untuk tetap fokus. Rama sejak tadi juga menunggu kapan Kaima tidak dekat dengan Miky dan Valen. Namun semakin ditunggu, semakin mereka nempel. Rama lupa bahwa Miky dan Valen juga ngintilin Kaima terus. "Ngapain lo Ma? Tumben nggak tidur." tanya Valen yang seakan menyadari sifat aneh Rama. Bagi Valen, Rama yang tidak tidur ketika jam kosong adalah aneh. Udah jadi image juga buat Rama. "Lagi nggak ngantuk. Semalem gue tidur cepet." jawab Rama. Sebenarnya Rama juga ngantuk banget. Tapi ia usahakan untuk tidak terpejam. Jika dirinya lengah maka usahanya akan sia-sia. Tapi tunggu, Rama sedang ngobrol sana Valen. Itu artinya, ada kesempatan untuk ngomong sama Valen. Meski kemungkinan harus bisik-bisik. Kan kalo teriak-teriak Kaima bisa mendengar. "Len, gue mau ngomong sama lo...." Rama terpikir untuk mengajak Valen kerja sama. Valen menoleh. Gerak cepat sekali. "Iya apa?" ucapnya. "Tapi lo jangan mikir yang aneh-aneh ya." Rama mewanti-wanti sejak awal. "Mikir apaan?" "Ya jangan mikir yang aneh-aneh pokoknya." Rama tidak bisa menjelaskan dengan baik. Intinya Rama tidak ingin Valen kaget. "Bentar Ma, ketika lo ngomong kayak gitu, gue malah mikir yang aneh-aneh nih." celetuk Valen yang akhirnya mendapatkan tempeleng dari Rama. "Ih, sakit tau!" "Makanya, jadi orang jangan mikir aneh-aneh." "Kalo nggak mau orang mikir aneh-aneh jangan dibuat kek gitu." dengus Valen. Sakit juga kan ditoyor. Rama memang orang yang nggak punya perasaan. Banget. "Oke-oke. Ada hal yang mau gue omongin sama lo, ini berkaitan dengan... Kaima." ketika mengatakan nama Kaima, Rama memelankan nada suaranya. Meski kelas sedang ramai, Rama harus berhati-hati. Valen sepertinya mengerti ada sesuatu yang penting, ia mendekatkan jaraknya dengan Rama. "Apa?" "Kalau lo temen gue, gue minta tolong kalo Kaima ngajak lo ketemu Hajwa, jangan mau." Rama meluncurkan aksinya. "Loh, kenapa?" Valen langsung mengundurkan wajahnya. Ia bingung apa alasan Rama mengatakan itu. "Kan tadi gue udah bilang jangan mikir aneh-aneh." "Tapi, apa alasannya. Gue cuma heran." Valen masih tidak paham. Ia memicingkan mata ke arah Rama. Mencari jawaban dari tatap mata Rama. "Lo naksir Kaima? Terus lo cemburu sama Hajwa?" tebak Valen, dengan tepat! "Nggak. Ngaco lo. Kan gue udah bilang jangan mikir aneh-aneh." Rama langsung gelagapan. Valen masih memicingkan matanya, Rama keliatan banget kalau sedang ngeles. Alibinya itu nampak sekali dan nggak bisa bohong. Tapi karena ia teman yang baik, Valen mencoba mengerti apapun alasan yang Rama buat. "Gue mohon ya, lo bilang aja kalau lo males ketemu orang baru. Kan itu persis sama karakter lo." Rama kini nampak memohon. "Tapi gue juga penasaran Hajwa kayak gimana. " Valen mengatakan hal yang sebaliknya. Membuat wajah Rama sedikit khawatir. Ternyata tidak semudah itu membuat Valen sepakat dengan rencana Rama. Sama Valen aja yang dalam bayangan gampang, sulit diajak kerja sama. Rama tidak bisa membayangkan seperti apa mengajak Miky kerja sama, pasti makin sulit dan bikin Rama kesel sendiri. "Tapi Ma..." ucapan Valen membuat Rama langsung mengangkat wajahnya. "Iya?" "Demi lo, gue iyain apa mau lo." jawab Valen akhirnya. Wajah Rama yang mendengar itu langsung merekah, senyummu lebar dan dengan semangat langsung menyalimi Valen. "Makasih Valeeen." Serunya. Di balik Valen yang judes dan sering bertengkar sama Rama, Valen orang yang baik, yang selalu mencoba memahami Rama. "Iya, iyaaa. Tapi kasih gue imbalan ya." Valen tersenyum tipis melihat betapa senangnya Rama hanya dengan kata iya yang Valen ucapkan. "Habis ini, tinggal Miky." ucap Rama sembari melihat Miky dari kejauhan. Miky sedang sibuk menyalin PR Valen. Valen juga nggak masalah dengan itu, sudah jadi kebiasaan saling berbagi jawaban tugas. "Lo juga mau ngomong sama Miky?" Valen juga penasaran. Ia ikut melihat Miky yang sibuk. "Iya, tapi gue bingung gimana ngomongnya. Lo tahu lah, Miky kayak apa." nadanya sudah putus asa. Semua orang tahu betul seperti apa karakter Miky. Selain suka banget ngomong, Miky juga selalu menanyakan perihal ucapan sampai ke akar-akarnya. Baginya, semua perlu alasan. Makanya, banyak orang yang mikir dua kali kalau ngomong sama dia. "Kalau untuk Miky bisa gue ajak kerja sama. Nanti biar gue aja yang ngomong." tukas Valen. Rama langsung senang, ia memegang kedua pipi Valen saat itu juga. "Valen! Makasih banyak!" Valen langsung membeku, tangan Rama yang hangat memegang pipi Valen. Valen yang jarang mendapatkan perlakuan secara fisik seperti merasa aneh dan berdebar. Beberapa detik setelah membeku, Valen segera mengerjap-erjapkan matanya. Membuang tangan Rama yang menyentuh pipinya. "Tangan lu panas." tandas Valen cepat. Sesegera mungkin menghilangkan perasaannya yang salah tingkah. Rama yang masih tersenyum hanya mengangguk seadanya. Ia juga nyengir melihat Valen yang bersikap judes. Nggak sakit hati sama sekali, karena ia sudah kepalang bahagia melihat ada Valen yang menyetujui janjinya. "Makasiiih ya Valen sekali lagi makasiiiih." "Gue nggak janji Ma." "Nggak papa yang penting bisa dibantu." Valen tersenyum tipis. Melihat tingkah Rama yang seperti ini membuatnya merasa berbeda. ••• Rama sudah bisa bernapas lega, tapi nggak lega-lega banget sih. Kan Miky belum diajak kerja sama. Tapi setidaknya, ada Valen yang bisa membantu langkah terakhir. Selesai pelajaran, dan mulainya istirahat kedua. Rama menyenggol Valen. Saatnya beraksi. Di saat begini pasti Kaima langsung pergi ke masjid, sedangkan Miky nggak akan berangkat kalau Valen dan Rama bangkit. "Kalian nggak sholat?" tanya Miky melihat Rama dan Valen tetap duduk di bangkunya. Kaima sudah meninggalkan kelas beberapa menit sebelumnya, tepat ketika bel berdentang. "Sholat kok." jawab Valen. "Rama nggak?" "Sholat." "Terus kenapa nggak berdiri?" tanya Miky bingung. Kalau dua temannya tidak bangkit menuju masjid, Miky bakal nggak punya temen yang diajak ke sana. Terus juga, nanti Miky beli siomay sama siapa? "Gue mau ngomong bentar sama lo Ky." ucap Valen akhirnya. "Apa?" tanya Miky polos. "Sini duduk dulu." Rama menepuk-nepuk bangku di sampingnya. Mengajak Miky untuk ikut serta dalam forum kecil ini. Miky langsung manut, duduk di samping Rama dan penasaran dengan apa yang akan mereka bahas. Sampai lupa bahwa akan ada sholat duhur dan istirahat terbatas mereka. "Ada apa?" tanyanya. "Lo mau gue minta tolong nggak?" Valen membuka percakapan. Prolog dari cerita sesatnya. "Apa Valen?" Miky yang polos mendengarkan dengan baik. "Kalau Kaima, minta sesuatu ke elo..." Ucapan Valen belum usai, karena sesuatu tak terduga datang. Kaima, sudah berdiri di samping mereka. Rama langsung kaku, ia menyenggol Valen untuk berhati-hati. "Minta apa?" tanya Kaima penasaran dengan percakapan mereka. Valen yang tak mau ketahuan langsung melakukan improvisasi. "Eh Kaimaaaa." Miky menoleh ke arah Kaima. "Kenapa balik lagi?" "Kaima lupa kalau hari ini haid, jadi Kaima balik ke kelas lagi." ucap Kaima. "Memangnya Valen mau ngomong apa soal Kaima?" Kaima menoleh ke arah Valen. "Eeeng, ituu... Kalau lo minta jawaban matematika ke Miky jangan di kasih. Karena jawaban tugas Miky banyak sesatnya. Rama napasnya tercekat, tidak habis pikir dengan jawaban Valen yang nyelenehnya bukan main. Apakah ini berhasil? Sepertinya enggak, soalnya nggak masuk akal banget. "Tenang aja. Aku nggak bakal minta contekan ke kalian." sahut Kaima akhirnya. Membuat Rama dan Valen berapa lega. "Yaaaah, Valen mah bercanda aja. Miky mana bisa ngerjain matematika kalau Kaima aja belum selesai." Miky ikut-ikutan. Kepolosan dua temannya itu menolong nyawa Rama dan Valen. Harapannya tinggal satu, semoga Kaima tidak membahas apapun yang berkaitan dengan Hajwa. Kalau iya, pasti bakal sampai hal yang mereka maksud. Mengajak ketemu. Itu nggak boleh terjadi! "Yaudah ya, gue sama Rama mau sholat." Valen bangkit, merangkul Rama. Memberi tanda agar segera meninggalkan Kaima sendirian. "Ohya, Miky ayok ke masjid." tak lupa mengajak Miky. Target empuk yang hampir gagal. "Eh, Miky baru inget kalau Miky juga haid." ucapan Miky membuat Rama dan Valen langsung gelagapan. Rencana mereka sepertinya akan menuju kegagalan. "Gimana kalau kita beli siomay." Rama tak kehabisan akal. "Gue traktir deh." "Eh, Ky. Hari ini imam masjidnya Firdaus lohh." Valen juga tak mau kalah. Ia mencoba mencari cara agar Miky menjauh dari Kaima. Miky langsung berdiri. "Beneran apa kata kalian?" Keduanya kompak mengangguk. "Iyaa, beneran." "Jadi pengen ikut. Kaima ikut yuk." Miky malah mengajak Kaima ikut serta. Rumit sekali misi mereka. Gara-gara Miky yang sulit dikendalikan nih. "Katanya Kaima lagi datang bulan, pasti perutnya nggak nyaman. Ya nggak Kai?" Valen mengerling ke arah Kaima. "Miky juga datang bulan loooh. Tapi Miky nggak papa, kok." "Ta-tapi kan tiap orang beda." Rama memotong. "Tapi aku baik-baik aja kok." Kaima menyahut di antara pertengkaran mereka. Mampus. Valen dan Rama saling pandang. Sepertinya memang sudah tidak ada harapan. Sulit sekali memisahkan Kaima dengan Miky. "Ya udah yukkk." Miky menggandeng semua temannya, tak terkecuali Rama yang sedang ketar-ketir. Valen juga, ia menatap iba Rama yang ekspresi wajahnya ngenes banget. Maafin gue ya, Ma, nggak bisa bantu lo. Mereka berempat berjalan beriringan di koridor. Memenuhi tempat dan menjadi perhatian, Kaima sekarang memang sering jadi perhatian. Apalagi kalau Kaima senyum pas nggak ada hujan, makin aneh orang ngeliatnya. "Ohya, gimana kabarnya Hajwa." Miky mengisi langkah dengan bertanya. Membahas Hajwa yang menjadi ketakutan bagi Rama. Kenapa sih, Miky harus gaya-gayaan nyebut nama Hajwa. "Hajwa, baiiik." Kaima langsung merespon semangat. Dada Rama berdegup keras sejak tadi, wajahnya pucat mendengar tiap kata yang Kaima ucapkan. Ketakutannya semakin besar. Semoga aja, nggak bahas tentang apa yang Rama maksud. "Eh, kemarin gimana Ma? Jadi kan ketemu Hajwa." Tamatlah riwayat Rama saat itu juga. Kaima malah membahasnya sendiri dan kini ia seperti mati berdiri. Nggak tahu mau ngomong apalagi. "Rama mau ketemu Hajwa?" sinta Miky langsung join obrolan. Sudah diduga, Miky emang kayak minyak tanah, dikasih api dikit aja lansung nyamber. "Eh..." Rama masih gagu. "Ikut doong." Miky tidak menunggu jawaban Rama. Ia langsung menjawab ikut serta. "Valen gimana?" Miky menoleh ke Valen. Rama menoleh ke Valen, berharap banyak agar Valen mengatakan tidak seperti apa yang Rama minta. "Gue males." bagus! Valen bisa diajak kerja sama. Bahkan, Valen menimpalinya dengan ekspresi judes. "Yaah, nggak seru ah. Harusnya Valen ikut." rengek Miky. "Emangnya kenapa? Lo nggak jadi kalau nggak ikut?" sinis Valen. Rama berharap bahwa perkataan Miky akan melas dan berharap Valen ikut. "Kaima bilang, Hajwa tuh baik dan ganteng. Rugi banget kalau nggak kenalan. Ya kalau Valen nggak mau ya nggak papa, tapi Miky nggak tanggung jawab kalau Valen cemburu dan iri ya." Miky kurang ajar, kenapa bisa dia percaya diri. "Jadi gimana nih, cuma Valen nih yang nggak ikut?" potong Kaima menyimpulkan percakapan. Valen melirik Rama. "Katanya lo nggak ikut? Kok disebut?" bisiknya. Rama memasang wajah getir. "Gue pura-pura, tapi Kaima seriusin." "Makanya, jangan suka kasih orang harapan." Mereka berdua berbisik di belakang Kaima dan Miky yang berjalan beriringan. "Kayaknya misi kita gagal." Rama menatap nanar kepala Kaima bagian belakang. "Ah, payah lo ah." •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN