Hujan 19 - Naksir Rama itu Merepotkan

1509 Kata
"Sorry ya, gue nggak bisa bantu banyak." Valen mengambil posisi duduk di samping Rama, yang sedang membalik kaos kakinya. Setelah sholat, mereka duduk di pelataran masjid. Tatapan Valen juga terarah pada Kaima dan Miky yang sibuk memakan siomay di bawah pohon ketapang. Mereka sedang datang bulan, jadi waktu istirahat kedua mereka luang. “Gak papa kok, gue yang harusnya makasih sama lo.” Rama sama sekali tidak ingin mengejek Valen ataupun mengajaknya berantem. Entah kenapa siang ini mereka berdua jadi akur dan saling kerja sama—meski akhirnya gagal. “Lo kenapa sih, Ma. Nggak mau ketemu Hajwa?” Valen bertanya dengan pelan-pelan. Valen juga penasaran kenapa Rama bisa sekeukeuh itu untuk hal ini. Rama menghela napas panjang, memandang awan biru di depan matanya. Jika mengingat bagaimana tingkahnya yang aneh, ia juga heran sendiri. Kenapa coba ia bisa sebegitunya mempertahankan hal konyol. Hal yang apabila diingat lagi, rasanya begitu klise. “Lo sebelumnya udah kenal Hajwa? Dan kalian musuhan?” Valen berspekulasi. Saat ini hanya ada dirinya dan Rama, jadi Valen bisa leluasa membicarakan Hajwa. “Nggak sih, gue aja nggak tahu wajah Hajwa kayak apa.” Sahut Rama lembut. Ia kini sudah memakai kedua sepatunya, tapi ia masih enggan berdiri. “Terus?” “Ada hal yang nggak bisa dijelaskan dengan perasaan. Kayak, pasti lo bakal ketawa kalau denger, tapi itu juga berkaitan penting dalam diri gue.” Valen tidak langsung menyahut, ia mencoba memahami perkataan Rama. Valen menatap wajah Rama yang sedang tersenyum getir. Ada pedih dalam wajahnya yang tidak bisa dijelaskan. Apa yang dimaksud Rama berkaitan dengan perasaan? Batin Valen. Pikirannya sejak tadi juga bertanya-tanya tentang alasan Rama. Dan ia sendiri juga bingung dengan dirinya sendiri yang malah ikut membantu Rama. Padahal bisa saja ia menolak, bukankah setiap hari mereka tidak pernah akur. “Valeeen! Ramaaa! Ayo ke kelas!” teriak Miky dari jarak lima puluh meter. Valen langsung menatap tajam ke Miky. Bisa-bisanya dia berteriak di depan masjid, padahal apa susahnya datengin bentar. “Lo duluan aja!” jawab Rama tak kalah teriak. Valen langsung menoyor kepala Rama. “Lo mau pergi sekarang?” tanya Rama polos. “Bukan itu maksud gue! Kenapa lo ikut-ikutan teriak di depan masjid!” amuk Valen. Valen benar-benar nggak habis pikir melihat tingkah temannya ini pada aneh dan tidak tahu aturan. “Eh lupa.” Valen mendengus ke arah Rama yang bisa-bisanya bercanda di saat begini. Padahal beberapa waktu yang lalu ia tampak getir dan gelisah bukan main. Tapi itulah yang membuat sisi Rama menarik bagi Valen. Cara Rama melakukan hal menyebalkan itu menjadi hipnotis untuk Valen yang cuek bukan main. Tapi, semakin Valen cuek, semakin Valen ingin di-notice sama Rama. Lucu kan. “Lo nggak ke kelas?” tanya Valen. Rama sudah selesai memakai sepatu, tapi tidak beranjak sama sekali. “Lagi pengen di sini, kalau lo mau ke kelas silahkan aja.” Valen tidak bangkit, meski sudah dipersilahkan Rama. Ia juga sebenarnya enggan untuk bangkit, rasanya bisa duduk berdua dengan Rama di sini seperti hal yang langka. Mana akur banget lagi. “Ma, apa boleh gue nanya ini ke lo?” Valen merendahkan nada suaranya. Jaraknya kini juga sudah dekat dengan Rama. Membuat suara itu hanya bisa didengar oleh telinga Rama saja. “Iya?” Masjid sudah mulai sepi, banyak siswa yang sudah menyelesaikan salat. Sehingga tidak banyak yang berlalu lalang di antara Rama dan Valen, Kaima dan Miky saja sudah meninggalkan mereka berdua. Kaima sengaja meninggalkan mereka karena ia tidak suka terlambat masuk kelas. Kaima memang berubah sedikit ramah, namun sifat perfeksionisnya masih ada. “Lo suka sama Kaima ya?” Rama terdiam. Ia tidak menyangka Valen bisa mengatakan hal itu. Matanya bahkan sama sekali tidak bergerak, ia hanya bisa menelan ludahnya. Valen menatapnya dengan serius. Rama tidak bisa berpaling, itu hanya membuat Valen semakin curiga. “Udah gue tebak.” Tanpa mengatakan jawabannya, dari respon Rama, Valen bisa mengetahuinya. Ia tersenyum tipis. “Konyol banget lo, Ma.” Valen bangkit. Membuat Rama langsung sadar. Tapi ia tidak bisa mengatakan banyak hal. Ucapan Valen benar, dan Rama tidak bisa menyangkalnya. “Pantesan aja lo ngotot banget untuk nggak ketemu Hajwa. Ini alasannya.” Valen menatap nanar awan biru itu. Obyek yang sama dengan pandangan Rama tadi. Tapi, kini ia tidak merasakan ketenangan dari warna biru itu. Ada perasaan Valen yang tidak tenang. “Sorry kalau gue egois dan kekanak-kanakan Len.” Rama seperti mengerti letak kesalahannya. Perasaan cemburunya telah membawa banyak kesulitan bagi Valen, dan itu juga mengganggu. Harusnya Rama tidak perlu berlebihan hanya untuk melakukan hal konyol ini. “Kalau lo nganggep lo kekanak-kanakan, untuk hal ini, nggak papa. Gue juga ngerasain apa yang lo rasain.” Valen menghela napasnya, “bagaimana rasanya melakukan hal karena perasaan suka.” “Gue ke kelas dulu.” Valen meninggalkan Rama yang masih memaku di depan masjid. “Bentar lagi ada pelajaran sejarah, gue nggak mau dihukum lagi.” Rama yang tak mengerti dengan perubahan sifat Valen masih bingung. Apa maksud dari perkataan Valen tadi. Apa Valen sudah tahu bahwa apa yang Rama lakukan itu kenakan-kanakan? Lalu kenapa Valen marah? ••• Orang tuh emang lucu ya. Apalagi yang namanya Valen. Sikapnya yang cuek dan sering banget sebel kalau diganggu Rama, kini ia malah jatuh cinta sama Rama. Kisah-kisah di FTV mungkin tampak konyol, tapi itu bisa dibuktikan, seperti apa yang Valen rasakan. Yang pada awalnya sebel setengah mati karena diganggu dan dianggap suka plastik, kini malah yang paling senang kalau di-notice. Dulu aja, Valen manusia nomor satu yang berharap Rama hilang dari muka bumi ini. Tapi sekarang lihatlah, ucapan siapa yang berhasil? Ucapan-ucapan Rama mungkin terdengar mengejek, tapi bagi Valen itu salah satu tanda peduli Rama yang tidak ia lakukan pada orang lain. Rama yang paling tahu lagu apa yang Valen dengarkan, bahkan sampai hapal liriknya. Rama yang sering sekali mengomentari ucapan-ucapan pedas Rama, dan bahkan beberapa waktu yang lalu, Rama adalah orang nomor satu yang memberinya nasehat. Hal-hal sederhana itu menjadikan Valen menyadari satu hal. Menyukai orang memang seperti ini ya, dadanya seperti disundul-sundul dan senyum tak pernah memudar. Meski Rama hobby tidur di kelas, tapi Rama satu-satunya cowok di kelas yang nggak ngerokok. Ia memang bodoh, tapi Rama nggak pernah bolos. Banyak orang yang mengatakan Rama pemalas dan bahkan tidak punya kehidupan masa SMA yang asik. Tapi ketika Rama memutuskan untuk hidup berdampingan dengan Valen dan Miky yang memiliki sifat berbeda. Valen seperti diperlakukan secara istimewa. Andai saja Rama tahu bahwa sosoknya tak pernah buruk, meski banyak oang yang merendahkannya. Rama tampak seperti panglima perang, duduk di atas kuda yang paling besar dengan pedang yang tajam menjulur. “Valen! Sekali lagi lo nyetel lagu keras-keras. Gue masukin ke dalam air dah speaker hape lo.” Sungut Rama ketika Valen menyetel lagu BTS di kelas, tanpa earphone. Itu memang disengaja, agar Rama merespon dan itu membuat interaksi dengannya. “Apaan sih lo. Kek telinga lo aja yang paling dewa.” Valen tak kalah judes. Meski Valen naksir sama Rama, tak pernah sekalipun Rama melihat bibir Valen mengulum senyum. “Kalian jangan berantem terus. Nanti jadian.” Biasanya Miky selalu menjadi penengah di antara tengkar mereka. Dan selaan Miky selalu menjadi amin Valen dalam diam. “Iiiih amit-amit.” Tapi itulah yang keluar dari mulutnya. Seakan jadi orang nomor satu yang tak sudi bersanding dengan Rama. “Eh kayak lo iya-iya aja!” Rama tak mau kalah. Selalu menimpali ucapan Valen dengan kata yang lebih tajam. “Rama jelek diem deh lo!” Hal-hal seperti itu sering terjadi di kelas, apalagi ketika jam kosong dan jam istirahat. Pertengkaran yang terjadi di meja Kaima yang saat itu masih jadi orang paling pasif sedunia. Tak ada yang mampu melerai kecuali Miky, itupun hanya mereda sebentar, lalu akan ada pertumpahan kata tajam di antara mereka. Seperti bagi Rama, mengejek Valen sudah masuk dalam jadwal hariannya. Serta bagi Valen, mencoba mencari pembahasan dengan Rama selalu menjadi hal yang selalu ia usahakan. Namun siang ini, Valen seperti tidak ingin bercanda apapun dengan Rama. Ia tidak berharap jam kosong dan sebuah celetuk usil dari Rama. Karena sejak melihat jawaban di depan masjid tadi, perasaan Valen mendadak langsung membiru. Valen memang lagi jatuh cinta sebentar dengan Rama, tapi ketika mengetahui Rama naksir Kaima, harga dirinya tersisihkan. Harga diri karena kekalahan yang ia dapatkan. Ketika ia memikirkan bagaimana bisa Rama jatuh cinta pada gadis yang tahu dirinya hidup saja bagus. Sedangkan Valen, hidupnya selalu berusaha untuk menjadi perhatian Rama. Kalah. Kaima merasakan kekalahan pahit itu. Kenapa sih, serumit ini masa SMA? Nggak bisa gitu kita semua temenan aja nggak pakai cinlok bahkan cinta segitiga. Apa memang tema masa muda seperti ini? Kenapa juga gue bisa naksir sama manusia yang modelannya kayak Rama? Mana bertepuk sebelah tangan lagi? Kalau tahu akan begini kan lebih baik Valen naksir Kak Kenn aja yang jelas-jelas nggak bisa digapai. Besok-besok nggak mau lagi ah naksir temen sendiri. Asik sih, ketemu terus, tapi sulit berhasilnya. Bisa jadi gagal, bisa jadi dipermalukan. Pokoknya kalau bisa, mulai kini Valen akan mencoba membedakan dan memilah mana yang harus ia sukai, dan mana yang hanya bisa dianggap sekedar teman. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN