Remaja terkenal di mana ia sering berapi-api, itu disebabkan karena ia memiliki mood yang baik, yang dampaknya besar terhadap aktivitas dan ambisinya. Namun di satu sisi, ada kekurangannya. Di saat nggak bisa mengatur perasaannya, membuat remaja mudah terjerumus oleh perasaannya yang buruk.
Perasaan anak muda memang seperti ini ya, sulit ditebak dan suka banget berubah-ubah. Apalagi kalau udah berubah buruk itu akan berdampak besar dengan aktivitasnya. Ketika biasanya energik, kini berubah murung.
Itulah yang saat ini sedang menyelimuti Valen. Perasaan murung dan ia nggak mau ngapa-ngapain, bahkan ke sekolah sekalipun—tapi Valen tetap ke sekolah karena alasan Mamanya bakal ngomel besar saat tau anak gadisnya bolos—. Hal itu berdampak besar dengan kehidupannya di pagi ini. Ketika sampai di sekolah, bahkan sebelum pembelajaran di mulai, ia sudah menaruh wajahnya di meja kelas.
Penyebabnya satu, Rama! Manusia yang mukanya biasa-biasa aja tapi berdampak berat pada mood Valen. Mengherankan? Nggak, karena kita nggak pernah bisa menebak kepada siapa yang akan membuat kita jatuh cinta, dan kepada siapa yang akan membuat hati kita terluka. Ya, itu hal yang wajar aja di dunia ini jika ternyata Rama lah, penyebab mood buruk Valen.
Setelah deep talk di pelataran masjid kemarin. Valen menjadi sedikit memberi jarak kepada Rama. Mulai tidak mengarapkan attention dan mencoba tidak peduli dengan aktivitas yang Rama lakukan. Meski sifat Valen yang cuek juga tetap sama, tetap judes dan tetap jadi orang yang tidak menyenangkan.
Untung saja, kelas pagi ini libur. Jadi, Valen tidak perlu repot-repot memaksa memahami materi pembelajaran di kala hatinya kacau. Tapi di satu sisi, itu juga membuat kelas ramai. Banyak suara teriakan, obrolan, bahkan dengkuran yang mengisi kelas. Miky yang sejak tadi mengoceh juga cukup mengganggu telinga Valen yang sensitif.
Miky dari tadi nggak selesai-selesainya membahas Hajwa, dan Kaima sepertinya juga senang sekali menanggapi tiap pertanyaan Miky.
Hari ini, sesuai rencana, Miky dan Kaima akan ketemu sama Hajwa di kantin. Valen sebenarnya ingin ikut, tapi ia juga malas untuk berinteraksi dengan orang baru—tepat seperti perkataan Rama kemarin.
Mengingat bagaimana Rama mengetahui sifatnya dengan tepat membuat Valen langsung keingat segala ucapan Rama kemarin. Kenapa Rama bisa naksir sama Kaima?
“Valen beneran nggak mau ikut kita?” celetuk Miky di kegalauan Valen pagi ini.
Valen hanya menatap Miky sekilas, kemudian menggeleng. Waktu masih pagi namun perasaannya sudah dibuat lelah. Rasa ingin tidur di rumah semakin tinggi. Bisa tidur plus bisa nggak melihat Rama.
Karena perasaan itu, Valen sedikit kesal melihat sosok Rama berseliweran di depannya, tanpa dosa menebarkan pesonanya yang lagi-lagi membuat Valen benci pada dirinya sendiri. Kenapa bisa orang modelannya kayak Rama membuatnya jatuh cinta. Bukannya Valen sudah punya yang lebih ganteng dari pada Rama. Para member BTS yang sudah terverifikasi ketampanannya.
Kalau mengingat hal itu rasanya makin sebel.
“Jadi Cuma Valen nih yang nggak ikut?” kini Kaima yang bersuara.
Valen mengernyitkan alisnya. Hanya dirinya? Itu artinya, Rama ikut? Kenapa dia ikut? Bukannya dia yang paling enggan menemui Hajwa? Sebenarnya maunya Rama apaan sih? Munafik banget!
“Beneran nih, Valen nggak ikut.” Miky merengut. “Sepi dong.”
“Tapi Rama, kamu beneran ikut kan?” Kaima menoleh ke arah Rama. Kali ini ia sedang sibuk memotong kuku di tempat duduknya. Rama mengangkat wajahnya cengo.
“Eh?”
“Rama ikut kan?” Miky mengulangi perkataan Kaima.
“Ikut kemana?” tanyanya bingung. Sepertinya Rama memang tidak menyimak percakapan mereka sih. Wajar aja ngah-ngoh.
“Ikuuut, ketemu Hajwa.” Jelas Miky dengan wajah yang sabar. Sebenarnya, Valen juga kesal melihat kelemotan Rama. Bisa-bisanya dia harus menvalidasi pertanyaan itu. Karena Valen lagi kesel sama Rama, jadi dia memilih untuk bungkam.
“Eh, siapa aja yang ikut? Valen ikut nggak?” Rama menoleh ke arah Valen.
Valen langsung salah tingkah, kenapa juga Rama harus menyebutkan namanya di saat yang seperti ini. Rama nggak peka banget sih kalau saat ini ia sedang dibenci Valen.
“Iya, dia nggak ikut.”
“Kalau gitu gue nggak ikut.” Sahut Rama kemudian. Sontak Miky dan Kaima kaget.
“Loooh, kok Rama ikut-ikutaaan.” Miky yang paling heboh.
“Kenapa Ma? Bukannya kamu yang paling nggak sabar ketemu Hajwa?” Kaima ikut bertanya, tapi lebih dengan nada sopan.
“Karena Valen nggak ikut. Kan Valen temen gue, jadi gue harus nemenin temen gue. Kasian kalau dia sendirian.” Ucapan Rama dengan melirik Valen yang sejak tadi tidak bersemangat.
“Aaa, Rama kenapa manis banget sih.” Bukannya kontra, Miky malah dibuat baper dengan ucapan Rama. Memang sih, ucapan Rama tuh bikin orang yang mendengarnya tuh meleleh. Apalagi Valen, hatinya begitu bergetar mendengar ucapan Rama.
Tapi karena saat ini Valen sedang dalam mode menjaga jarak dengan Rama, ia berusaha tetap tidak tertarik. Mimik mukanya datar dan seperti nggak terjadi apa-apa. Anggap aja ucapan Rama tadi hanya bullshit.
“Oke deh, aku hargai pendapat kamu. Tapi nanti lain kali aku yang bakal ngajak Hajwa ketemu kalian.” Kaima membalas ucapan Rama. Kaima memang orang yang lembut di antara orang lembut lainnya. Dia nggak pernah protes dan benar-benar open minded.
“Ya udah deh, Miky juga nggak bisa maksa apa-apa kalau begini maunya.”
Valen hanya mengangguk tipis. Sejak tadi ia memang tidak begitu tertarik dengan obrolan yang mereka lakukan. Meski biasanya Valen orang yang cuek, tapi kali ini cueknya lebih dari cuek. Ya! Dia males ngomong juga.
“Valen kenapa dari tadi keliatan murung?” Miky sepertinya menyadari perubahan sifat Valen.
“Iya, Valen kenapa?” Kaima ikut-ikutan. Kini Kaima juga punya perubahan baik dalam hidupnya. Ia juga mulai peduli dengan lingkungan sekitar.
Pas banget mereka bertanya, siapa tahu Rama bakal menyadari perubahan sifatnya di kelas. Meski Valen agak sebel sama Rama, tapi di dalam lubuk perasaan Valen
Valen menggeleng. “Gue nggak papa.”
Sebenarnya, dalam hati Valen, ketika Miky ngomong gitu, ia berharap Rama juga menyadari perubahan sikapnya. Tapi, sepertinya Rama sama sekali nggak notice dan cuek-cuek aja. Masih sibuk memotong kuku, bahkan kini Rama sudah memotong kuku kakinya. Bisa-bisanya dia melepas sepatunya di sekolah, hanya demi memotong kuku kakinya.
“Valen ada masalah?” Miky tak berhenti mencoba bertanya.
“Gue nggak papa.” Masih dengan jawaban yang sama. Ditambah nada judes andalannya. Semoga aja Rama notice.
“Udahlah Ky. Lo kenapa sih peduli banget sama Valen. Bukannya tiap hari dia juga gitu, cuek.” Rama menyahut. Tapi tidak sesuai ekspektasi Valen. Rama tetaplah Rama, tetap nggak peka dan selalu menganggap Valen baik-baik saja.
•••
Ternyata, salah satu pembunuh dalam kepercayaan adalah ekspektasi yang berlebihan. Valen pikir, dengan dia melakukan hal seperti itu, Rama bakal peduli. Tidak! Rama tetap bodo amat dan sibuk dengan dunianya yang tidak jelas. Hal itu membuat perasaan dan harga diri Valen terlukai.
Saat Valen bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa bisa melakukan hal sekonyol ini, ia tidak menemukan jawaban yang tepat. Tak ada spesifikasi yang jelas dalam alasan amarahnya. Lalu, bagaimana Valen bisa pulih, dia saja tidak tahu di mana letak permasalahannya.
Kekesalannya ini menjadikannya berubah jadi anak-anak. Suka marah-marah sendiri dan berharap attention dari seseorang yang di saat itu juga ia benci.
Waktu istirahat tiba, banyak siswa keluar kelas untuk pergi sarapan atau membeli jajan, tak terkecuali Kaima dan Miky yang sudah siap menuju kantin—untuk ketemu Hajwa yang pasti.
Sedangkan Valen masih tidak bergerak dari tempat duduknya. Ia menyumpalkan earphone di lubang telinganya. Barang yang hampir tidak pernah dibawa Valen, kali ini ia bawa. Valen menyetel lagu-lagu idolanya yang lembut. Siapa tahu itu bisa menghibur hatinya yang gundah. Valen memutar lagu BTS yang berjudul 00:00, lagu yang baginya paling sesuai dengan perasaannya.
Geureon nal itjana
Iyu eopsi seulpeun nal
Momeun mugeopgo
Na ppaegon modu da
(Hari dimana tubuhmu terasa berat
Hari dimana kau bersedih tanpa alasan
Kau ingat hari itu
Dan sepertinya semua orang…)
Namun lagu itu berhenti, sesaat ketika seseorang mencabut kabel earphone itu di port ponsel. Valen segera membuka matanya, perasaannya yang sesaat damai tadi kini berantakan lagi. Dan yang menjadi pelakunya adalah Rama.
Niatnya untuk ngomel Valen urungkan. Ia hanya bisa menelan ludahnya karena begitu dekat jaraknya dengan Rama. Terlebih itu terjadi secara tiba-tiba dan tanpa Valen sadari.
“Lo-lo ngapain di sini?” tanya Valen lirih. Kelas pagi ini sepi, hanya ada dirinya dengan Rama.
“Lo yang kenapa hari ini?” tanya Rama balik. Ia menatap lekat bola mata Valen.
“Gue nggak kenapa-napa kok.” Alibi Valen. Ia mencoba untuk tetap biasa aja.
“Nggak papa, tapi kenapa lo bawa headset?” Rama mengangkat kabel berwarna biru itu. Mengangkatnya di depan wajah Valen.
“Ini namanya earphone ya.” Koreksi Valen.
“Anggap aja itulah.” Rama menaruh kabel itu di meja. “Gue tahu, lo orangnya emang pendiem, tapi ketika lo melakukan hal yang berbeda, gue ngerasain itu.”
Mendadak Rama menjadi orang yang berbeda. Sikapnya yang aneh dan random kini hilang dari citranya. Di kelas yang sepi, kenapa Rama baru menampakkan dirinya ini.
“Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue.” Ucapnya dengan jantan. Benar-benar membuat Valen merinding. Namun ia kembali ingat, bahwa tidak semua masalahnya bisa ia ceritakan. Apalagi, masalahnya membahas Rama.
“Kenapa lo jadi peduli banget sama gue.” Valen mencoba untuk biasa saja. Ya seperti biasa, jutek.
“Emangnya lo nggak pernah peduli sama gue?”
Valen memutar bola matanya. “Nggak tuh, ngapain juga gue peduli sama lo.”
Rama tersenyum tipis, bahkan ada suara tawa singkat yang keluar dari mulutnya. “Mau gue sebutin satu-satu?”
Perkataan Rama membuat Valen langsung membeku, dadanya berdegup dengan hebat. Apakah semua sifat-sifatnya begitu ketara di mata Rama.
“Valen, tanpa kita sadari, kita udah berteman sejak kita masuk dalam satu kelas yang sama dua tahun lalu. Jadi mustahil banget gue nggak memahami lo. Gue udah mengenal lo. Mengenal sifat lo.” Rama mengambil alih pembicaraan. Tak peduli bahwa itu akan direspon atau tidak oleh Valen.
Sedalam apa Rama tahu karakter Valen?
“Lo itu orang yang paling cuek, yang paling jutek yang gue kenal.”
“Mungkin, Kaima orang yang dingin, tapi lo beda. Lo hangat, tapi lo lebih memilih untuk menjaga kehangatan lo. Lo simpan sendiri. Sekalinya lo nampakin itu hangat, rasanya sampai membakar. Hahaha, iya omongan lo kalau dipikir-pikir suka pedes.” Rama masih melanjutkan kalimatnya. Bahkan juga sempat bercanda.
Valen yang tadi diam langsung memiringkan senyumnya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal dengan sejujur itu.
“Tapi gue orang yang baik. Gue nggak pernah sakit hati dengan ujaran lo. Karena ya, memang itu kebenarannya.”
“Tapi ada hal yang membuat gue bisa mengenal lo lebih jauh. Mungkin lo tidak peduli dengan orang, tapi ketika lo ada di samping gue, di samping Miky dan bahkan Kaima. Lo mampu membuka diri lo. Lo bisa menjelaskan perasaan lo dengan jelas dan lo juga nggak jarang untuk menampakkan kepedulian lo. Termasuk ke gue….” Ketika menyelesaikan kalimatnya, tahu-tahu tangan Rama sudah mendarat di punggung Valen. Mengelus-elus lembut pundak manusia keras kepala itu.
“Mungkin gue bukan orang yang keren, bukan orang yang baik. Tapi izinin gue untuk jadi teman yang baik buat lo. Seperti Miky yang tulus dan ceria, dan seperti Kaima yang selalu mencoba jadi orang baik.”
Mendengar banyak kata manis yang keluar dari mulut Rama. Mata Valen langsung berair. Ada banyak sekali kekesalan dalam dadanya. Sikap Rama yang baik seakan menyiksanya pada perasaannya yang tidak bisa ia ungkapkan.
“Ma…” lirih Valen. Ia harus mengatakan hal itu. Kata yang akan menjawab segala tanda tanya dalam kepalanya.
“Iya, Valen?”
“Kenapa sih lo baik banget sama gue?”
“Ya, kan kita temen. Masak gue harus jahat sama lo.”
“Hanya sebatas itu?” suara Valen melemah.
“Ya terus gimana?”
“Apa lo nggak pernah sedikitpun memikirkan hal lain. Meskipun itu sedikit nakal?”
Rama mengernyitkan dahinya. “Maksud lo?”
“Ajarin gue, gimana caranya jadi temen yang pure temen. Gue pengen ngerasain itu.” Suara Valen semakin serak. Air matanya menetes. Valen benar-benar tersiksa dengan perasaannya. Bahkan, ia merasa begitu bersalah ketika ia bisa menyukai sahabatnya sendiri.
“Valen? Lo baik-baik aja kan?” Rama menatap Valen dengan perasaan lembut. Tangan kanannya saja kini sudah mengusap air mata yang jatuh di pipi Valen yang sedikit chubby.
“Rama, kenapa sih gue harus suka sama lo?” lirih Valen yang membuat tangan Rama berhenti mengusap pipinya. Mata Rama kini juga berhenti. Kata yang tidak pernah terbesit di pikiran Rama.
“Kenapa lo juga harus jadi temen gue. Kenapa lo serakah banget ada di hati gue.”
Rama masih bungkam. Tatapan matanya terkunci rapat memandangi Valen. Valen meraih tangan Rama yang ada di pipinya, menaruhnya di meja.
“Gue jadi ngerasa begitu bersalah bisa jatuh cinta sama lo.”
“Harusnya gue nggak begitu berharap sebanyak ini.”
“Karena bagaimana pun, gue tetap cuma temen lo.”
Tanpa sadar, Valen melakukan pernyataannya pagi ini. Perasaan yang sudah ia kubur lama. Perasaan yang akhir-akhir ini tak tertahankan dan mulai kebingungan mencari arah.
Kini setelah mengatakan hal itu, Valen tak berharap banyak. Ia hanya pasrah, akan kehilangan Rama sebagai sosok sahabatnya sekaligus cinta pertamanya yang payah.
“Sorry kalau gue bikin lo nggak nyaman.” Valen bangkit, ia tersenyum getir memandangi Rama yang masih tidak berkutik.
“Gue mau ke toilet dulu.” Pamit Valen. Ia mengusap air matanya, jangan sampai citranya yang jutek hilang karena seseorang menyadari ia selesai menangis. Mumpung ini masih istirahat, Valen harus segera membersihkan wajahnya dan kembali memakai topeng.
Meski masih memiliki perasaan pada Rama dan masih tidak menemukan jawaban dari Rama, Valen begitu lega bisa mengatakan itu di depan Rama. Dengan waktu yang sepertinya memang sudah disetting Tuhan agar perasaannya tersampaikan dengan baik.
•••