Ketika Valen dan Rama sedang ada di masa canggung, ada atmosfer yang berbeda dari pada atmosfer mereka. Atmosfer kebahagiaan yang terpancar dari dua wajah gadis usia 17 tahun.
Di lain tempat yaitu di kantin sekolah Miky dan Kaima telah duduk manis di salah satu bangku di sana. Duduk dengan perasaan berdebar-debar menunggu orang yang paling dinanti Miky.
Sembari menanti, Miky memesan es teh manis dan satu piring batagor, sedangkan Kaima hanya memesan es teh manis, karena nanti ia akan makan makanan setelah Hajwa datang. Biar bisa menikmati makanan bersama.
Suasana kantin ramai karena ini adalah jam istirahat pertama. Banyak kebahagiaan terpancar di wajah masing-masing meja. Ada yang sedang menggosip, ada yang sedang ribut keroyokan jajan. Dan ada yang menanti, Kaima dan Miky yang pasti.
Tapi karena Kaima emang sudah terlalu bahagia. Ia melupakan tempat ramai itu, lebih tepatnya mengabaikannya untuk bertemu Hajwa.
"Tapi Kaima emang udah janjian kan sama Hajwa?" Tanya Miky. Lima menit berlalu dan Hajwa belum juga datang.
Bukannya menjawab dengan pasti, Kaima hanya memberikan senyum kecut. "Belum sih tapi biasanya Hajaa suka tiba-tiba datang kalau aku kepikiran dia."
Miky mengerutkan keningnya, tidak paham dengan jawaban Kaima. "Maksudnya?"
"Ya intinya nggak perlu kontak Hajwa kalau mau ketemu dia." meski ucapannya tidak bisa dipegang, Kaima seakan tidak khawatir.
"Kaima emang belum chat-an sama Hajwa kalau mau ketemuan sama Miky?" tanya Miky lagi.
Kaima menggeleng.
"Aku nggak punya nomornya Hajwa." jawabnya semakin mengkawatirkan, tapi wajah Kaima masih saja percaya diri.
Miky memicingkan matanya.
"Loh kok bisa kamu nggak punya nomor handphonenya, bukannya kalian bisa dikatakan lebih dari deket ya." Miky masih tidak percaya dengan perkataan Kaima. Lebih ke nggak habis pikir sih.
"Hajwa enggak punya Hp, jadi kita enggak pernah kontak-kontak. Jadi ya kalau mau,
ketemu, tahu-tahu aja Hajwa datang. Makanya aku berani ngajak." Ucapan Kaima udah bener-bener nggak masuk akal, Miky berkali-kali mencoba memahami, tapi nggak sampe juga otaknya. Meski begitu, Miky nggak boleh men-judge Kaima.
"Hah beneran Gimana kalau Hajwa nggak datang." tapi sepertinya Miky tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya .
"Udah percaya aja, biasanya sebentar lagi Hajwa datang." Keima mencoba menenangkan Miky meski sebenarnya dalam hatinya dia juga nggak tahu Hajwa akan dateng atau tidak.
Dan ternyata apa yang diperkirakan oleh Miky bener, Hajwa nggak datang bahkan ketika batagor Miky habis.
Miky menatap Kaima. "Kai, kayaknya Hajwa nggak dateng deh."
Kaima menatap nanar Miky, ia seperti tidak ingin mengecewakan Miky yang sudah repot-repot ke sini.
Akhirnya dari pada Kaima kembali ke kelas dengan perut lapar, sebelum itu Miky memesankan satu porsi bakso. Kan kasihan juga kalau Kaima sampai kelaparan, meski janji pertemuan pagi ini batal. Bukan berarti Kaima harus kelaparan.
Miky juga dengan baiknya nggak membahas ini sama Kaima. Seakan tidak terjadi apa-apa. Karena Miky juga kasihan sama Kaima yang pasti udah ngerasa malu banget, ketika ngajak ketemu Hajwa tapi batal.
Sesampai di kelas, Miky ingin bertemu dengan Valen dan Rama. Paling nggak mereka bisa ngobrol hal-hal nggak perlu. Tapi sepertinya suasana emang lagi nggak bersahabat sama Miky.
Rama dan Valen kini mendadak agak berbeda. Rama nampak lesu dan Valen seperti biasa, seperti manusia yang tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Ia juga sedang sibuk dengerin lagu lewat earphone.
Padahal sebenarnya Miky pengen cerita kalau pertemuan tadi di kantin itu menyenangkan, tapi karena berhubung nggak ada yang antusias dengan kedatangan mereka. Ya udah Miky langsung duduk di tempat duduknya.
"Maaf ya Ky, gara-gara aku kamu nggak jadi ketemu sama Hajwa." Kaima tiba-tiba malah meminta maaf. Membuat Miky kaget.
"Eh nggak papa kok, Kai."
"Seriusan nggak papa?"
Miky mengangguk dengan baik. Berbeda dari biasanya, kali ini Miky nampak lebih lembut dan nggak banyak bicara.
•••
Waktu yang paling dinanti adalah jam pulang sekolah. Saat itu, semua siswa berhambur meninggalkan kelas dan berbondong-bondong menuju pintu keluar sekolah. Baik dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan motornya.
Tak terkecuali dengan Valen yang sejak tadi tidak merasa nyaman di kelas. Berapa di satu ruangan dengan orang yang dia sukai dan tadi tadi Valen udah confession. Semakin nggak nyaman kan.
"Valen!" di saat langkahnya yang cepat, langkah Valen terhenti karena panggilan itu.
Valen menoleh, melihat sudah ada Rama di belakangnya. Valen kaget, kenapa ada Rama di sini dan kenapa Ram memanggil namanya.
"Lo mau buru-buru pulang?" ucap Rama kemudian.
Valen ingin mengangguk, tapi ia tidak tahu urusan apa yang akan ia katakan pada Rama ketika buru-buru pulang. Maka, Valen menggeleng.
"Ikut gue bentar yuk."
"Kemana?" Valen malah nggak menolak. Padahal tadi aja dia bilang nggak pengen ketemu dan berinteraksi dengan Rama.
"Bentar aja, gue jajanin deh." kini Rama berjalan mendekati Valen. Pelataran kelas sudah mulai sepi, banyak siswa sudah meninggalkan kelas.
"Oke deh." jawab Valen kemudian. Ini bukan karena traktirannya, tapi karena Valen rasa, ia harus mencoba menyembuhkan lukanya dengan ngobrol sama Rama.
"Lo tunggu di sini dulu, biar gue beliin makanan buat lo." Rama meminta Valen untuk duduk di depan kelas. Kemudian ia meninggalkan Valen sendirian di kelas yang mulai sepi.
Valen manut-manut saja dengan ucapan Rama. Padahal bisa saja Rama mengisenginya dengan pura-pura mau ngajak ngobrol tapi sebenarnya Valen malah ditinggal dan disuruh nunggu. Seperti biasanya, tukang jail.
Namun Valen mencoba percaya karena di kondisi yang seperti ini Rama nggak mungkin jahat. Rama juga tahu kalau tadi ia Valen Menyatakan perasaannya.
Hanya butuh 5 menit, Rama sudah kembali dengan satu kotak siomay dan dua es teh. "Sorry ya lama."
"Iya nggak papa kok." jawab Valen. Entah kenapa suasana menjadikan mereka kayak dua orang baru.
"Nih makan, pasti lo laper." Rama membukakan kotak batagor. Mempersilahkan Valen untuk melahapnya. Di satu sisi Rama juga menatap Valen.
"Len, gue mau ngomong sama lo." di tengah-tengah aktivitas Valen makan. Rama mengatakan niatnya, untuk ngobrol sama Valen.
"Len? Lo baik-baik aja kan?" kata-kata itu membuat Valen menghentikan aktivitas makannya. Ia mengangkat wajah dan melihat Rama.
"Gue minta maaf udah jadi orang yang jahat buat lo." Rama tak menunggu respon Valen. Ia mau melanjutkan ucapannya. Rama merasa begitu jahat telah mengabaikan Valen.
"Gue nggak pernah tahu kalau ternyata lo suka sama gue."
Valen tetap diam, tapi ia juga tidak meneruskan aktivitas makannya.
"Gue cuma pengen, kita bisa berteman baik. Dan gue mohon maaf soal perasaan lo." Rama mengatakan kata-kata itu dengan pelan. Sebisa mungkin tidak menyakitkan.
"Lo nolak gue?"
"Enggak... Maksud gue, tuh... Gue nggak mah kehilangan lo." Rama langsung menyanggah ucapannya. Takut jika Valen akan salah paham dengan ini.
"Sorry juga, Ma kalau gue udah bikin lo ngerasa nggak enak sama gue." Valen menyudahi makannya. Ia menutup kotak itu dan mendorongnya ke depan Rama.
"Gue nggak marah sama lo. Karena gue yakin semua itu emang nggak bisa dipaksakan. Tapi gue juga berharap semoga lo nggak maksa gue untuk tetap baik-baik aja."
Valen bangkit, meninggalkan Rama yang lagi-lagi tidak bisa menjelaskan perkataannya dengan benar.
•••