Hujan 22 - Pertanyaan Miky

1327 Kata
"Lo mau pergi kemana?" dengan gesit Rama menahan kepergian Valen. "Lepasin." Valen mencoba melepaskan genggaman Rama. Namun ketika Valen hendak mengindari Rama, genggaman tangan Rama malah bertaut erat di lengan Valen. Membuat langkah Valen langsung terhenti seketika. "Gue mau pulang." Jawabnya dengan nada sebisa mungkin cuek. Sebenarnya perasaanmu begitu membingungkan, ia menyukai Rama sebegitu dalam dan tidak pernah memikirkan akan di posisi seperti ini. "Kenapa lo selalu pergi tiap kali gue membahas sesuatu yang mengarah ke perasaan." Rama langsung menanyakannya. Rama sebenarnya juga sadar betul bahwa Valen menghindarinya. Maka dari itu ia mengajaknya makan dan ngobrol berdua. Valen tak menjawab, namun juga tak melawan cengkraman Rama. "Gue tahu kalau gue salah, gue minta maaf. Gue juga tahu lo suka sama gue dan gue enggak ngejauhin lo. Gue malah ngajak lo ngobrol di sini, tapi kenapa lo malah yang selalu menghindari gue? Kenapa Valen? Beri gue jawaban?" Rama mengeluarkan segala perasaannya. Rasa penasaran dan tanda tanya yang sebenarnya memenuhi kepalanya. Padahal, awalnya hanya sebatas bekerja sama untuk nggak menemui Hajwa, namun kini malah menjalar kemana-mana bahkan sampai membuat Rama dan Valen merenggang. Rama nggak suka itu, meski Valen nyebelin, Rama tetap merasa bahwa kehadiran Valen itu penting dalam hidupnya. "Valen, gue mohon. Jangan kayak gini. Kita masih bisa temenan kok, meski gue tahu lo suka sama gue, gue fine." Rama melembutkan ucapannya, bahkan kini mengendurkan cengkramannya. "Tapi gue yang nggak bisa Ma." "Nggak bisa tetep ada sama gue? Kenapa?" Valen diam. Sebenarnya ia juga ingin menyemburkan semua pikirannya pada Rama. Seperti hari-hari biasa di mana Valen suka ngomel ke Rama. Namun kali ini bibir Valen terkunci, tenggorokannya seperti ada yang menyumpal, membuat dadanya sesak. "Ma, mungkin lo salah paham dengan ini." Valen berbalik arah, menghadap ke arah Rama yang sedang menatap Valen. "Gue emang suka sama lo..." Valen menghela napasnya, mencari kekuatan untuk mengatakan kata yang begitu berat. "Tapi gue nggak bisa jika harus tetap berteman sama lo di keadaan yang seperti ini." Rama terdiam, ia tidak menyangka hal ini akan membuatnya kehilangan Valen. Ia tahu, semua ini memang sudah fatal, tapi Rama juga nggak pengen ada yang berubah di antara mereka. "Gue egois ya..." lirih Rama. Valen menitikkan air matanya. Kenapa pertemanan mereka begitu rumit. Apakah nggak bisa hanya menjadi teman baik selamanya? Kemudian menikmati hari tanpa merasa beban di tiap hati karena menaruh rasa? Kenapa Valen harus terkena perasaan dengan Rama? "Gue yang egois Ma, harusnya gue enggak pernah menaruh rasa sama lo." Valen semakin banjir air mata. "Len, udah dong, jangan nangis. Hati gue makin perih nih liat lo gini." Rama mendekati Valen, mencoba mengelap air mata Valen. Namun sepertinya Valen benar-benar tak ingin dekat dengan Rama, ia mengundurkan langkahnya, menjauh dari Rama. Rama terhenyak, menyadari kesalahannya. Apa Valen sebegitu risihnya melakukan kontak fisik? Sekolah sudah benar-benar sepi. Itu dikarenakan lokasi kelas mereka ada di belakang, membuat sedikit orang berseliweran di sini. Rama semakin memaku di tempatnya, Valen semakin menangis. Imej galak dan juteknya kini hilang, hanya ada tangis yang membuat matanya semakin bengkak. "Rama, ada beberapa hal yang nggak bisa dipaksakan. Sesuai kata lo kan? Kalo lo nggak bisa memaksakan perasaan buat gue. Gue juga nggak bisa untuk tetap biasa saja di dekat lo." "Mungkin lo pikir gue berlebihan. Apa sih salahnya cuma temenan, itu lebih baik dari pada dijauhin..." Valen memotong ucapannya, mengelap air matanya. "Tapi, nggak segampang itu. Gue emang seneng lo tetep ada jadi temen gue. Tapi gue yang nggak bisa." "Jadi, lo beneran mau mutusin pertemanan kita? Gimana respon Kaima sama Miky kalau tahu? Gimana kalau kita dianggap kayak bocah?" Rama langsung menyahut. Masih tidak terima dengan perpisahan ini. Valen mengerutkan wajahnya, menatap Rama tak percaya. "Lo masih bisa mikirin orang yang nggak ada di sini? Lo mikirin perasaan dan respon mereka?" Rama bingung, apa yang salah dengan kalimatnya. "Tapi mereka kan juga temen kita." Valen menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu tak percaya dengan ucapan Rama. "Lo khawatir karena mereka teman kita? Lo lupa Ma? Gue juga temen lo. Gue berhak untuk memilih hal yang menurut gue baik buat gue. Hal yang menurut gue juga perlu untuk kebaikan lo. Tapi lo nggak mikirin itu." Valen semakin meminta keadilan. Baginya, perlakuan Rama padanya sama sekali nggak adil. "Maaf jika gue malah jadi orang yang problematik." setelah mengatakan itu Valen meninggalkan Rama, terdiam di tempat semula, sembari menatap nanar kepergian Valen. Rama sepertinya merasa tidak mampu mengatakan hal-hal yang mengisi kepalanya. Hal yang harusnya ia katakan sore ini untuk meredakan permasalahan. Namun sepertinya, belum juga dimulai, kesalahpahaman malah menjadi-jadi. Valen meninggalkannya, meninggalkan rasa sakit yang terasa nyeri di dalam dadanya dan dua gelas es yang mulai mencair. "Andai gue bisa ngomong hal ini dengan lancar di depan lo. Pasti nggak akan serumit ini." Rama tersenyum getir. Rama tidak tahu bahwa hanya karena ini bisa menyebabkan komplikasi yang begitu besar terhadap hubungannya dengan Valen. ••• Jika saja waktu bisa diputar, Rama ingin meminta satu kali putaran untuk kembali ke masa lalunya. Masa di mana ia tidak harus mengatakan bahwa ia menyukai Kaima. Karena dengan itu, ia kehilanganan Valen. Waktu berlalu dengan berat untuk mereka. Valen yang jarang berbicara semakin pendiam. Hari-harinya ia isi dengan memakai earphone. Mendengarkan lagu full album BTS untuk menghindari mendengar suara Rama. Sedangkan Rama juga tak kalah resahnya, ketika seperti ini ia lebih memilih banyak tidur jika ada kesempatan. Tak ada Rama yang mengusili Miky. Valen dan Kaima di kelas, ketika istirahat maupun tidak. Tak ada lagi regu contekan di antara mereka. Semuanya hening dan mengerjakan tugas masing-masing. Hal itu tentunya menjadi kejanggalan tersendiri untuk Miky. Miky yang biasanya menjadi pengamat kini semakin mengamati komunikasi antara Valen dan Rama. Pada saat jam kosong, Miky mendekati Rama—karena jika mendekati Valen, yang ada nanti Miky disembur. "Ma..." panggil Miky. Miky juga menggoyang-goyangkan badan Rama yang saat ini dengan tidur. Rama membuka matanya perlahan. "Ada apa? Udah waktunya pulang?" "Iih, bangun!" Miky tak sabar, ia langsung memukul Rama dengan buku. Dikata ini hotel apa tidur-tiduran terus. Mana kalau Rama tidur suka ngambil kursi orang lagi. "Apaan sih, kasar banget." desis Rama sembari mengusap-usap lengannya. "Ih, lebay." "Ih, ih, ih. Kenapa sih harus gitu? Kek nggak ada bahasa lain." komentar Rama dengan cara berbicara Miky. Padahal Rama tahu, memang cara ngomongnya kan gitu. "Iiih, Rama nggak boleh gitu." lagi, pake ih. Berasa itu emang udah bahasa kebangsaannya. "Lo mau ngomong apa? Ganggu waktu tidur gue yang berharga aja lo." Rama langsung to the point. Bukannya segera mengatakan maksudnya, Miky malah menoleh ke arah Valen yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja. Telinganya tersumpal earphone. Miky menghela napas. "Legaaa...." Rama yang masih menunggu kalimat selanjutnya dari Miky malah dibuat bingung. "Wah nih lega apaan? Lo nggak habis kentut kan?" Rama langsung suudzon. "Iih, nggak tau!" Miky langsung mengoreksi. Kan nggak semua kata lega mewakili habis kentut. "Ih, ih lagi." jengah Rama. Anda jengah? Sama, saya juga. "Terus lo mau ngomong apa Miky?" Miky mendekatkan wajahnya ke Rama. Kini hanya ada setengah meter jarak mereka. "Gini, Miky mau nanya soal Rama sama Valen." Rama langsung menelan ludahnya. Meski hanya mendengar nama Valen, pikirannya sudah kemana-mana. Apa sebenarnya Miky juga tahu? "Kalian berantem?" tanya Miky lagi. Rama masih memaku, tapi ia sebisa mungkin tidak menampakkan ekspresinya. "Enggak kok." sahut Rama cepat. "Beneran?" Miky masih tidak percaya. Habisnya kayak berasa banget suasana dingin di sini. "Kok kalian nggak pernah ngobrol?" Miky menanyakan kejanggalan itu. "Kan lo tahu gue dan Valen emang nggak pernah ngobrol seintens itu." alibi Rama masih masuk akal. Keseharian mereka memang begitu. "Tapi, kenapa kayak sama sekali nggak pernah ngobrolnya?" "Kan Valen juga tiap hari pake earphone. Ya udah gue juga tidur." Rama masih mencoba memperkuat alibinya. "Lagian, kenapa sih berlebihan gitu. Kan Miky jadi mikir aneh-aneh. Takutnya kalian berantem di belakang kita." Rama lagi-lagi hanya bisa memaku ketika mendengar ucapan Miky yang ternyata bisa menebak seperti itu. Miky memang polos sekali, tapi ia juga bisa menebak dengan baik. Rasanya, Rama memang seperti diingatkan oleh dunia. Ada masalah yang belum selesai. Yaitu, perasaan Valen dan dirinya. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN