Hujan 23 - Sisi Ramah Kaima

2408 Kata
Saat Hajwa tidak datang ketika istirahat kemarin, Kaima sebenarnya merasa kecewa. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu kecewa pada seseorang, dan orang itu adalah Hajwa. Ternyata memang itu salah satu konsekuensi membuka hati. Dulu Kaima selalu tidak peduli dengan kehidupan sekitar dan itu membuatnya tak pernah tahu bagaimana rasanya kecewa. Namun Kaima mencoba untuk bersikap biasa saja karena memang itu juga bukan kesalahan Hajwa. Kaima tidak membuat janji dan mencoba mengandalkan instingnya, jadi kurang tepat jika Kaima kecewa karena Hajwa, lebih tepatnya pada ekspektasinya. Berhari-hari kemudian, Kaima tidak bertemu Hajwa, sekalipun itu di dalam perpustakaan dan berada di tempat yang sepi. Hajwa tidak datang. Kaima berpikir, apa Hajwa marah ketika mencoba mengenalkannya pada teman-temannya tanpa seizinnya? Tapi di satu sisi, Kaima masih tidak percaya dengan apa yang ada dalam diri Hajwa. Banyak sekali tanda tanya yang mengisi kepalanya. Kenapa Hajwa menghilang dan sekarang Kaima lagi-lagi diminta mencarinya. Hajwa memang susah ditebak, bahkan begitu misterius untuk sosoknya yang begitu ramah di depan Kaima. Padahal, Hajwa-lah yang kerap mengajak Kaima ngobrol, dan Hajwa-lah yang membuat Kaima bisa membuka diri. Terkadang Kaima berpikir, apa susahnya menjelaskan identitas dirinya. Jika tidak punya kontak telepon, apakah Hajwa juga tidak punya rumah. Apakah Hajwa bukan manusia sampai hal-hal yang remeh menjadi sebuah rahasia. Lagi-lagi semua tanda tanya itu cukup mengganggu Kaima. Emosionalnya juga terusik hanya harena memikirkan hal-hal itu. Kenapa Hajwa begitu merepotkan Kaima. Tapi di satu sisi, Kaima juga begitu bersyukur memiliki teman sebaik Miky, Rama, dan Valen. Terlebih Miky yang dengan baiknya tidak menanyakan apapun soal Hajwa, seperti tahu betul bahwa Kaima juga malu gagal memperkenalkan mereka. Padahal bisa saja Miky dengan heboh menceritakan hal buruk itu—seperti biasanya, kan.—tapi entah dengan kekuatan apa Miky bisa menahan diri untuk tidak mengatakan itu. Dulu Kaima pikir, Miky adalah orang yang paling merepotkan, suaranya berisik yang selalu mengisi dan mengganggu kesunyian. Namun, tak selamanya orang itu punya keburukan, semua punya dua sisi yang bisa dibanggakan dan sisi buruk. Dan Kaima kini mulai memahami itu. Bahkan kedekatan mereka bisa dikatakan lebih akrab dengan hal-hal kecil yang mereka lakukan setiap hari. “Kaima kalau mau punya temen pergi beli siomay, boleh loh ngajak Miky.” Itu salah satu  kebaikan Miky yang ia tawarkan pada Kaima. Sejak beli siomay bareng dan Kaima mengakui kenikmatan siomay itu, Miky langsung mengajak Kaima kulineran. Berat badan Kaima bertambah 2 kilo dalam satu minggu. Itu cukup baik, setidaknya membuat Kaima sedikit lupa dengan apa yang Hajwa lakukan kemarin. Namun, itu tidak bisa bertahan lama. Banyak aktivitas Kaima yang ia lakukan sendiri hingga membuat Hajwa datang dalam pikirannya. Mengganggu sekali bahkan sampai Kaima merasa ini tidak adil. Kenapa hanya dirinya saja yang mengharapkan Hajwa, kenapa Hajwa tidak datang menyapanya dan meminta maaf. Apa Hajwa saja yang bisa seenaknya saja datang ketika senang, lalu hilang ketika dicari. Perasaan-perasaan itu mengisi kepala Kaima tidak hanya sesekali, namun kerap kali ketika Kaima sedang sibuk dalam sendiri. Kaima siang ini, memutuskan mencari tahu siapa Hajwa, ia mencoba bertanya kepada penjaga perpustakaan, Bu Oy, siapa tahu dia juga mengenal Hajwa dengan baik. Kan sama-sama pelanggan perpustakaan. “Halo Bu Oy, selamat siang.” Sapa Kaima lembut. Meski sudah membuka diri, sisi Kaima yang kalem tetap ada, kok. “Halo Kaima, ada apa? Apakah ada kecacatan di buku yang kamu baca?” Bu Oy langsung menebak kedatangan Kaima, meski sebenarnya tidak untuk itu. Kebiasaan yang sudah mendarah daging, Kaima sering menyapa Bu Oy karena alasan kualitas fisik buku, wajar saja jika guru yang berusia 34 tahun itu langsung menebak itu. “Eng, bukan Bu. Kaima ke sini Cuma mau nanya, sedikit.” Jawabnya Kaima mengoreksi tebakan Bu Oy. Bu Oy mengerutkan keningnya, bibirnya  mengulum senyum tipis, mulai penasaran dengan apa yang akan Kaima tanyakan. Sepertinya menarik, “Mau tanya apa Kai?” Kaima tersenyum tipis, “begini Bu. Apakah Bu Oy akhir-akhir ini pernah melihat ada siswa yang bernama Hajwa mengunjungi perpustakaan?” “Hajwa?” Bu Oy mengerutkan keningnya, lagi. Kali ini bingung dengan nama baru itu. “Iya, Bu. Siapa tahu dia ada di buku pengunjung.” Bu Oy membuka buku pengunjung dan mencari nama Hajwa di daftar pengunjung. Sudah tiga lembar terlewati dan tidak ada nama Hajwa di sana. “Kayaknya nggak ada deh Kai.” Kaima terdiam sejenak, ia masih tidak percaya. “Masak nggak ada sih bu. Tapi dia sering banget loh ke perpustakaan.” “Anak cowok kan?” Kaima mengangguk. “Emang gitu kebiasaan anak cowok. Dia hampir nggak pernan ngisi buku kehadiran, apalagi buat minjem buku. Semakin langka. Jadi nggak usah kaget kalau nggak ada nama dia di sini.” Jawab Bu Oy menenangkan. Tapi bukannya tenang, Kaima semakin bingung, jika tidak ada jejak yang ditinggal bagaimana bisa Kaima menemukan jejak Hajwa. Kenapa sulit sekali mencarinya, Kaima saja tidak tahu Hajwa ada di kelas apa? Sebenarnya Kaima dekat nggak sih dengan Hajwa, kenapa hal-hal sesepele ini ia nggak tahu. “Baik bu terima kasih. Saya permisi dulu ya Bu, maaf sudah merepotkan.” “Eh Kai, bentar…” ketika Kaima hendak meninggalkan meja Bu Oy, panggilan Bu Oy membuat Kaima berhenti. “Iya Bu?” “Coba kamu jelasin kriteria teman kamu yang bernama Arjua, itu. Ah siapa namanya, lupa saya. Intinya itu,  sebutin, siapa tahu kalau dia masuk ke sini bisa ibu sampaikan.” Ucap Bu Oy masih memberi harapan pada Kaima. Sepertinya Bu Oy memahami betul tentang alasan Kaima bertanya, ya bisa dibilang romansa anak muda. Hal itu membuat Bu Oy dengan baik rela membantu Kaima untuk menemukan pemuda yang ia cari. Kaima langsung tersenyum mendengar bantuan Bu Oy, “serius Bu?” Bu Oy mengangguk yakin, dengan senang hati membantu anak muda yang sedang jatuh cinta. Bu Oy juga tahu seberapa introvert-nya Kaima, hingga untuk berkenalan dengan intens pada seseorang itu sulit, apalagi seseorang itu telah membuat Kaima jatuh hati. “Orangnya, kayaknya satu angkatan sama Kaima. Terus, tingginya segini…” Kaima memberi tahu tinggi badan Hajwa dengan tangannya. “Rambutnya nggak gondrong juga nggak tipis, terus dia suka sekali senyum Bu.” Jawab Kaima dengan bersemangat. Bu Oy langsung memasang wajah masam. Masalahnya ciri-ciri yang diberikan Kaima kurang spesifik. Banyak sekali pemuda yang seperti dijelaskan. Bu Oy agak menyesali tawarannya, tapi ia juga nggak boleh jahat membuat harapan palsu pada Kaima. “Intinya, dia sering ke sini kan?” “Nggak tahu Bu, tapi tiap kali saya ke sini, dia ada.” “Okey, Kai. Akan ibu bantu sebisanya ya. Nanti saya salamkan gitu ya, dari Kaima.” Bu Oy menyetujui tawarannya. Kaima semakin tersenyum riang. Wajahnya begitu senang hingga Bu Oy tidak bisa menolak. Kan jarang-jarang Kaima memasang wajah seceria itu. Kaima begitu berharap banyak dengan bantuan Bu Oy, paling tidak itu menyembuhkan kegelisahannya setelah lama tidak berjumpa dengan Hajwa. ••• Tawaran Bu Oy beberapa waktu lalu, tidak begitu membantu. Bukan karena Bu Oy nggak mau membantu, namun memang karena Hajwa tidak datang ke perpustakaan sama sekali. Hajwa belum juga ada menemui Kaima. Hal itu membuat Kaima mulai pasrah dan mencoba tidak memikirkan Hajwa. Merepotkan sekali jika hanya memikirkan itu membuatnya pecah fokus. Kaima yang biasanya berdiam di kelas dengan menyumpal earphone di telinganya, kini taka da. Seperti tak ada semangat untuk mendengarkan lagu dengan genre apapun. Ia hanya berdiam diri, mencari kesibukan dengan mengamati teman-teman sekelasnya. Kaima menatap Miky yang sedang berjoget di depan kamera, berada di dekat jendela. Menyandarkan ponsel di sana dan ia gerak sana-sini dengan gerakan yang kaku. Tatapan Kaima kini beralih ke Rama, yang sedang tidur di bawah meja. Kepalanya disandarkan di pijakan meja, yang entah itu bersih atau tidak. Namun Nampak sapu tergeletak di sampingnya. Kaima menyadari bahwa teman-temannya memiliki aktivitas yang Nampak begitu asyik jika dilihat. Ia begitu merasa bahwa hanyalah dirinya yang kesepian. Kaima menoleh ke arah Valen, yang kini sedang menyumpal kedua telinganya. Memasang wajah begitu dingin dan tatapan hampa. Kaima memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi Kaima merasakan ada feeling yang berbeda dalam aura Valen. Apakah Valen juga ada dalam kegelisahan seperti apa yang Kaima rasakan saat ini? Kaima tahu, Valen orang yang tidak banyak bicara, tapi paling tidak sorotnya kini berbeda. Ada apa? Saat memikirkan itu, Kaima langsung mengerjap-erjapan matanya. Untuk apa ia memikirkan orang lain dan menerka-nerkanya. Padahal di dalam kepala kita sendiri banyak masalah yang belum usai. Tapi jika dipikir-pikir, tanpa kita melakukan terka-terkaan yang kurang kerjaan itu membuat kita bisa lebih sedikit membaur dengan orang di sampingnya. Menjadi rangkulan hangat meski lengan kita tidak begitu panjang. Hal-hal seperti itu terkadang juga penting. Kaima berdiri, menghampiri Valen yang saat itu sedang memakai earphone. “Valen,” Kaima menepuk pundak Valen. Valen yang kaget langsung melepas earphone-nya. “Eh iya Kai, ada apa?” tanya Valen setelah memperbaiki posisi duduknya. Kini lebih tegak dan sudah menghadap ke arah Kaima. “Aku mau ke kamar mandi, temenin yuk.” “Oh oke.” Valen langsung melepas earphone-nya dan segera berdiri. Tak peduli aktivitasnya sudah diganggu oleh Kaima. Kaima kaget melihat respon Valen yang nggak entar-entar ketika dimintai tolong. Mereka berjalan menuju keluar kelas. Kaima teringat sesuatu tentang Valen, bahwa ia begitu menyukai Kak Kenn kelas 12. Saat ini tepat kelas Kak Kenn juga kosong. Kaima langsung menunggu respon Valen seperti apa. Jika memang Valen sedang ada masalah pasti dia tidak tertarik, tapi jika tidak ada, Valen akan menjadi orang yang salah tingkah melewati deretan siswa yang berjajar di depan kelas, itu termasuk Kak Kenn. Kaima berjalan di antara siswa kelas 12. Ada beberapa yang menyoraki, namun itu tidak membuat dua siswi itu tertarik. Mereka sama-sama diam melewati rombongan itu. Kaima memang suka sekali mendapatkan catcalling namun karena dirinya terlampau dingin, ia jadi tidak pernah menanggapi hal itu. Namun yang berbeda kali ini adalah Valen, Valen yang biasanya langsung salah tingkah kini wajahnya datar, seperti tidak ada yang krusial. Kaima langsung memikirkan hal yang aneh-aneh. Apa yang terjadi dengan Valen sehingga dia cuek seperti itu. Sesampai di dalam toilet, Kaima langsung berbalik arah menghadap Valen. Ia menatap sorot mata Valen, dan mencari tahu permasalahan apa yang sedang ada di dalam kepalanya. Valen kaget, “Kenapa Kai?” Kaima menghela napas cukup dalam, mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku mau nanya beberapa hal sama kamu.” “Hal apa?” dahi Valen berkerut. “Tapi bukannya lo mau ke toilet, mending lo masuk aja dulu.” Kaima mengangguk. “Nggak kok, aku ke sini Cuma pengen ngajak kamu nenangin diri.” Valen mengerutkan dahinya lagi, lebih dalam. “Apa?” “Kamu kenapa?” Pertanyaan pertama Kaima tidak bisa langsung dijawab oleh Valen. Setelah mendengar itu bahkan Valen tidak bisa memejamkan matanya untuk beberapa detik. Tapi Kaima tahu, itu respon yang mengatakan bahwa ada apa-apa di dalam pikiran Valen. “Kamu punya masalah?” Pertanyaan pertama belum dijawab, pertanyaan kedua semakin membuat Valen memaku, ia menelan ludahnya. “Nggak papa, cerita aja.” Kaima mendekat ke arah Valen. Tangan kanan Kaima bahkan kini sudah mendarat di pundak Valen, memberikan kekuatan untuk Valen yang kini Nampak sedang kacau. “Kai…” ucap Valen setelah beberapa waktu yang lama. “Iya?” jawab Kaima lembut. “Boleh nggak sih, kalau gue benci lo.” Ucap Valen pelan. Tapi ucapan itu membuat Kaima kaget. “Maksud kamu?” Kaima tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Jawaban yang sama sekali nggak pernah ada di kepala Kaima, dan itu meluncur dengan jelas dari bibir Valen. “Apa yang membuat Valen benci?” Kaima mencoba lebih obyektif. Baginya, dibenci memang jadi hal lumrah, apalagi dulu Kaima masuk dalam orang yang tidak pedulian. Tapi kini, Kaima merasakan rasa sakit ketika mendengar ada seseorang yang membencinya. “Nggak tahu.” Kaima tidak langsung menjawab, ia menatap Valen. Mencari jawaban yang sebenarnya, pasalnya tidak ditemukan tatapan kebencian dari sorot matanya. Hanya ada ketidakberdayaan yang sejak tadi mengisi. “Valen, aku nggak tahu apa yang ada di kepala kamu. Tapi, jika itu bisa membuat kepalamu semakin sakit, aku menyarankan untuk cerita aja. Mungkin aku nggak bisa memberi hal-hal bijak seperti kata pepatah. Tapi paling nggak, itu bisa mengalir dari kepalamu.” Kaima berusaha untuk tetap tenang. Kaima tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang, ia juga bingung kenapa juga ia mengatakan hal-hal konyol itu. Bukankah tadi ia yang ingin mencari penenang dari gangguan pikiran Hajwa. Meski sekarang memang agak mereda sih, tapi aneh. Kenapa juga ia malah merangkul Valen. “Kai…” Valen memanggil namanya lagi, itu artinya akan ada kalimat selanjutnya yang menjelaskan perasaan Valen. “Iya?” “Lo pernah nggak sih, jatuh cinta sama orang yang jelas dia nggak suka sama lo.” Valen menatap Kaima, tatapan yang akrab. Berbeda sekali dengan apa yang ia katakan sebelumnya, tidak ada sorot kebencian. “Jujur, Kaima belum pernah jatuh cinta. Tapi, kalau ditanya bagaimana perasaannya. Kaima pikir itu akan menjadi hal yang menyakitkan sih.” Jawab Kaima apa adanya. Kaima memang orang yang jujur. Valen tersenyum nanar, “Iya, sakit… banget malah.” Suaranya serak, seperti ada perasaan pedih pada kata singkat yang ia ucapkan tadi. “Valen sedang ada di fase itu?” Kaima menoleh. Kini dua gadis itu Nampak seperti teman akrab, saling berbagi cerita di tempat yang sepi, meskipun itu toilet. “Iya, gue lagi ada di fase ini. Rasanya, serba salah Kai.” “Serba salah gimana?” “Ya, kayak di saat kita suka, pasti ada kan dalam lubuk hati terdalam kita mengharapkan sosok itu jadi milik kita. Namun di sisi lain, ketika orang itu nggak mau sama kita, apakah kita rela jika orang itu bersama kita tapi nggak bahagia?” setelah mengatakan hal itu, Valen menyeringai. Betapa lucunya kisah asmaranya. Kaima menatap prihatin ke arah Valen. Siang ini ia melihat sisi lain dari sosok Valen. Valen yang terlihat begitu tidak peduli dengan kehidupan sekitar dan tidak punya perasaan friendly, ternyata juga menyimpan masalah yang complicated. “Kenapa nggak dicoba dulu?” “Dicoba apanya?” “Ya, dicoba untuk memulai kisah dan mengenal orang yang Valen suka.” Valen menyeringai lagi, “gimana mau memulai, kalau orang yang gue suka nggak mau diajak mulai.” Kaima bingung ingin merespon apa. Ia merasa tidak punya banyak pengalaman yang bisa ia jadikan patokan. Tapi ia juga ingin menjadi teman yang baik buat Valen. Siang ini, Kaima belajar banyak hal. Banyak perasaan yang tidak semua dinampakkan orang, tapi begitu menyiksa di dalam. Kaima menyadari bahwa perasaan buruk tidak hanya miliknya sendiri, semua orang merasakannya, dengan level dan penyebab yang berbeda. Hal itu tentunya bukan untuk dibanding-bandingkan, namun hanya digunakan untuk menjadi sudut pandang yang baru untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. •••  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN