"Meskipun gue tadi bilang benci sama lo. Gue nggak benci lo kok, gue Cuma bingung sama diri gue sendiri yang merasa kurang dan insecure. Gue minta maaf ya, gue bener-bener nggak maksud buat lo sakit hati.” Ucap Valen setelah menceritakan apa yang ada dalam perasaannya.
Kaima menggeleng lembut, ia tersenyum manis. Banyak hal yang membuatnya mengerti bahwa Valen tidak pernah bermaksud jahat, meskipun ucapannya banyak yang nyakitin.
“Kenapa kamu minta maaf? Bukannya kamu sendiri pernah bilang kalau Kaima tuh nggak pernah punya rasa sakit hati ya. Kan hatiku kayak batu.”
Valen tertawa pelan, ia jadi teringat masa lalu di mana sosok Kaima bisa disebut gletser hidup. Karena baginya, Kaima hanyalah batu yang mengeluarkan hawa dingin dan beku.
“Tapi sekarang Kaima kan ramah banget, takutnya itu juga membuat hati Kaima bisa langsung sakit hati juga.”
Kaima tersenyum, lesungnya langsung Nampak. “Tenang aja, nih masih baik-baik aja. Kaima Cuma berubah jadi ramah, tidak berubah jadi mudah sakih hati.”
Valen memberi dua jempolnya, bangga dengan perkembangan Kaima yang memiliki banyak perkembangan. Apalagi sekarang Kaima sudah mengerti bagaimana mendengarkan cerita dan jadi teman yang baik.
Obrolan mereka di dalam kamar mandi semakin dalam, bahkan sudah mencair untuk membahas hal-hal lucu yang bisa mereka tertawakan bersama. Valen juga merasa ada beberapa keresahannya yang luruh di kepalanya, meski tidak sepenuhnya rampung, ngobrol dengan jujur di depan Kaima membuatnya cukup merasa baik.
“Sekarang udah lega?” Kaima menanyakan lagi tentang perasaan Valen setelah curhat.
Valen mengangguk yakin, “udah mending. Thanks ya, Kai.”
“Sama-sama. Kalau ada masalah yang pengen diceritain, cerita aja. Aku nggak bakal ngomong siapa-siapa kok.” Kaima malah menawarkan diri untuk jadi teman yang baik. Valen merasa tersanjung melihat respon mereka.
“Kalau lo sendiri, gimana kemarin ketemu Hajwa sama Miky?” tanya Valen.
Pertanyaan yang membuat Kaima kembali teringat apa yang menjadi kegundahannya. Padahal baru beberapa waktu yang lalu, Valen menceritakan kehidupannya yang berat, namun Kaima kembali sadar bahwa tak hanya dirinya yang mempunyai masalah.
“Nggak jadi ketemu sih.” Jawaban Kaima melemah, suaranya lebih pelan dari pada sebelumnya.
Valen langsung menoleh ke arah Kaima, tidak menyangka bahwa pertemuan itu gagal. “Kok bisa gagal? Kenapa?”
“Hajwa nggak datang.” Jawab Kaima ringan.
“Dia ada urusan mendadak ya?”
Kaima menggeleng. “Nggak tahu.”
“Emangnya dia nggak bilang ke lo? Minimal chat gitu?” Valen masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi juga kaget melihat sikap Hajwa yang ternyata tidak menepati janji.
“Aku nggak punya nomor hp-nya. Dia nggak punya hp sih kayaknya.” Seperti de javu, Kaima menjelaskan hal ini sama seperti ia menjelaskan pada Miky beberapa hari lalu, dan kini ke Valen. Sepertinya sebentar lagi giliran Rama yang akan menanyakan hal ini. Lucu ya.
“Gue baru tahu kalau ada orang yang masih nggak punya hp di jaman sekarang.” Valen menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hajwa memang beda.” Bangga Kaima, sembari menatap lurus tembok kamar mandi. Meskipun banyak hal kekurangan yang ada dalam diri Hajwa, Kaima tetap menemukan sesuatu yang luar biasa di sana. Segala hal yang Nampak berbeda dan membanggakan.
“Terus gimana cara kalian bisa ketemu?” Valen malah penasaran dengan kisah romansa Kaima dengan Hajwa, benar-benar unik. Valen seperti melihat romansa remaja di tahun 1990 di mana semua tidak ada ponsel yang membuat mereka bisa bertukar pesan.
“Karena feeling, biasanya ketika aku ngerasa pengen ketemu Hajwa, dia tiba-tiba ada.”
Valen membulatkan kedua pupilnya, tidak menyangka ada pertemuan yang seperti itu. “Gilaaa, kenapa so sweet sekali. Kok bisa Hajwa langsung sadar kalau lo lagi pengen ketemu. Kayak, it’s magic, serasa Hajwa ada di bawah kontrol lo.”
Kaima tersenyum, mendapatkan pujian dari Valen membuat hatinya menghangat. Hajwa memang keren, tidak pernah ada pemuda sehebat ia di dunia ini. Coba cari, pemuda mana yang langsung tahu ketika dirindukan. Tak ada, hanya Hajwa yang ada. Semesta membuat seakan Hajwa hanya diciptakan untuk membantu Kaima, menjadi pasangannya yang membuat hati siapapun iri.
“Pantes aja sih, bisa meluluhkan hati Kaima. Gue aja nih ya, yang suka ilfeel lihat cowok, pasti juga bakal klepek-klepek kalau modelnya kayak Hajwa.” Valen langsung merubah kepribadiannya. Moodnya seakan didongkrak habis-habisan oleh cerita tentang Hajwa. Ia lupa bahwa ia punya cinta tak terbalas dari Rama.
“Tapi, pernah nggak sih, Kai. Ketika lo pengen ketemu Hajwa, dia nggak datang?” rasa penasaran Valen semakin dibuat menjadi-jadi. Pertanyaan selalu mengisi dalam kepalanya dan itu harus dijawab saat itu juga.
“Pernah.”
“Haa? Beneran?” Valen tidak percaya.
“Iya, contohnya pas ketemu sama Miky.”
Valen mengangguk-anggukan kepalanya. Seperti ingin menarik kalimat yang ia lontarkan tadi. “Berarti itu bukan pure kesalahan Hajwa ya, kan kalian nggak janjian.”
Kaima tersenyum dan mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan oleh Valen.
“Kapan-kapan gue ajak ketemu dong sama Hajwa. Gue juga kepo nih dia kek apa.” Valen sudah terhipnotis dengan pesona Hajwa, padahal Kaima hanya mengatakan sesuai sudut pandangannya saja, belum jelas bahwa sifat Hajwa mutlak seperti itu atau tidak.
“Iya, nanti aku janjikan dulu sama Hajwa. Untuk saat ini nggak tahu, soalnya Hajwa lagi sibuk.” Ucap Kaima dengan mencoba berpikir positif. Sebenarnya Hajwa sulit dihubungi bahka itu sampai membuat gundah hati Kaima. Namun ia kembali berpikir lagi bahwa jika hanya gundah, apa tidak lebih baik membuat sugesti baik dalam otaknya.
“Siap-siap! Duh, nggak sabar nih pengen ketemu Hajwa. Maaf ya Kai, malah bikin lo jadi cemburu.” Seru Valen dengan riang. Sifatnya berbeda sekali dengan sebelum pergi ke kamar mandi. Tapi Kaima juga senang melihat itu.
•••
Kekalutan dan pikiran negatif soal Hajwa mulai berkurang dengan antusias teman-teman Kaima. Melihat bagaimana mengagumi Hajwa meski belum pernah bertemu membuat Kaima kembali merasa bahwa tak perlu khawatir pada hal-hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi dalam hidup kita.
Siang ini, Kaima langsung pergi ke perpustakaan tanpa menungu kabar dari Bu Oy. Karena Kaima tahu, jika ia hanya menggantungkan kesempatan itu pada orang, ia akan kehilangan moment yang lebih baik lagi. Siapa tahu, Kaima bisa bertemu Hajwa di tempat lain.
“Halo Kai, semangat banget.” Bu Oy menyapanya. Kaima sedang mengisi daftar hadir. Kaima juga melihat sekilas deretan nama siswa yang mengisi di buku.
“Halo Bu Oy, Alhamdulillah masih diberi semangat.” Jawab Kaima dengan santun.
“Tapi Bu Oy belum lihat orang yang kamu maksud nih. Maaf ya.”
“Nggak papa kok, Bu. Nggak usah minta maaf. Kaima ke sini juga lagi nyari buku buat bahan tugas.”tukas Kaima sebisa mungkin tidak membuat Bu Oy terbebani.
Bu Oy tersenyum lebar dan memberikan semangat, “Memang, selain pinter, kamu tuh baik. Semangat nugas.”
“Terima kasih banyak Bu Oy.” Kaima membalas semangat Bu Oy dengan santun. Kaima memang begitu, selalu ramah.
Setelah mengobrol singkat, Kaima langsung menuju deretan rak buku sejarah. Lagi-lagi Kaima selalu antusias jika diminta untuk mengulas dan mengerjakan tugas yang berbau sejarah. Membuatnya dapat merekam masa lalu meski Kaima tidak ada di sana. Kaima juga merasa bahwa sejarah itu banyak hal yang dibahas, bahkan ia selalu penasaran dengan sejarah agama dan sejarah yang dituliskan dalam buku-buku.
Kaima menatap rak buku di atasnya, ia ingat di sini dulu dirinya dan Hajwa bertemu untuk pertemuan kedua. Mengobrol hal-hal ringan dan membuat Kaima mulai membuka diri. Pertemuan yang dirasa sudah cukup lama.
Kaima tersenyum tipis, menyentuh buku-buku itu perlahan dan membayangkan jika tangan Hajwa juga menyentuh itu. Melakukan hal sederhana dengan romantic.
Perlahan-lahan ingatan soal hari itu menguat di dalam kepala Kaima. Detail aktivitas dari gerak mereka dulu masih terekam dengan baik di kepalanya. Ia kini juga mulai merindukan Hajwa dengan perasaan berbeda, perasaan yang membuatnya gelisah sekaligus senang.
Kaima telah tumbuh menjadi gadis remaja yang sempurna. Ia merasakan kehangatan masa muda dengan memiliki teman yang positif dan kisah cinta yang intrinsik. Mengenal Hajwa membangkitkan masa remajanya yang abu. Masa remaja yang tidak pernah terpikirkan oleh Kaima sebelumnya, bahwa ia ternyata ia juga layak merasakan warna manis dalam dadanya.
“Hai, cerah sekali.” Suara serak tiba-tiba mengisi kesunyian Kaima. Tangan Kaima juga berhenti bergerak setelah ada tangan yang menyentuhnya. Ikut serta menyentuh deretan buku.
d**a Kaima langsung bergemuruh, pupil matanya melebar dan rasanya ia mengenal suara itu dengan baik. Apakah seseorang itu adalah orang yang Kaima rindukan, seseorang yang sudah berhari-hari hilang dalam pandangan Kaima.
Kaima menoleh, memastikan tebakannya. Benar, di belakangnya, hanya terpisah jarak setengah meter. Bahkan, Kaima bisa merasakan deru napasnya. Itu Hajwa, pemuda yang saat ini ada di belakangnya menjadi obat kerinduannya.
“Kenapa?” tanyanya, ekspresinya begitu flamboyan, ekspresi yang Nampak tidak merasa bersalah atas segala kerinduan Kaima.
Kamu kemana saja? Apa kamu nggak pernah merasa merindukanku? Kenapa kedatanganmu selalu tiba-tiba dan bahkan kepergianmu juga tanpa aba. Apakah sebegitu menyenangkan membuat hati seseorang mudah bangkit lalu juga mudah jatuh? Suara kepala Kaima saling bersautan. Hal itu wajar sekali, Hajwa sudah menghilang lama, namun pesonanya benar-benar begitu memikat hati Kaima sehingga tidak bisa lepas. Dan kini, ia tiba-tiba datang.
“Hai,” jawab Kaima tanpa bersemangat. Ia tak ingin Nampak begitu antusias di depan Hajwa. Jika iya, pasti Hajwa akan berpikir bahwa ia benar-benar dibutuhkan dan dicari, meski itu benar sekali. Membuat kurang waras Kaima mikirin Hajwa.
“Apa kabar?”
“Baik.” Masih saja mencoba untuk cuek. Nggak papa, Hajwa jahat sih.
“Syukurlah, ada banyak hal bisa aku syukuri jika kamu masih baik-baik saja.” Bullshit! Tapi kenapa kata-kata Hajwa membuat Kaima sedikit tersentuh.
“Kamu apa kabar?” Kaima berbalik tanya.
“Aku baik, Cuma aku lagi ada kesibukan sedikit yang bikin aku repot.”
“Apa itu?” tanpa memikirkan apa prinsip awalnya, Kaima langsung merubah sifatnya. Apa dibilang, Hajwa itu tukang hipnotis, bisa-bisanya ia membuat seorang Kaima plinplan.
“Mikirin kamu.” Gombalnya. Hajwa tertawa tipis sembari mengatakan hal itu. Entah apa yang membuatnya bisa mengatakan hal seperti itu di depan Kaima.
Kaima menyeringai, ternyata seorang Hajwa juga bisa menggoda. Padahal hal itu tidak tertulis di depan wajah Hajwa.
“Serius, Jwa. Aku serius nanya.” Mencoba untuk tidak terpancing. Banyak anak muda sekarang ngomong-ngomong yang merayu seperti itu.
“Hehe, iya. Ada beberapa urusan yang penting nggak penting sih.” Hajwa mencoba mencairkan suasana. Kini mereka berdua sudah duduk di tempat yang sama. Tempat pertama mereka saling ngobrol dan berbagi sudut pandang—meski lebih didominasi oleh sudut pandang Hajwa sih.
Kaima sepertinya benar-benar luluh dengan apa yang dikatakan Hajwa. Pertahanannya runtuh sejak awal mereka berbicara, kerinduan Kaima lebih kuat dari pada apapun. Tapi, apakah Hajwa juga merindukannya? Apa tidak aneh jika Kaima menanyakan hal itu.
“Kamu lagi nyari apa?”
Nyari kamu. Bisik Kaima dalam batinnya. Memang benar, Kaima sedang tidak ingin membaca buku apa-apa. Kepalanya sudah penuh berisi Hajwa dan sekarang, buku bernama Hajwa sudah mulai terbuka pada lembar pertama.
“Lagi cari ketenangan.” Alibi Kaima. Kan nggak mungkin dia mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya.
“Berarti aku ganggu kamu ya.” Hajwa langsung mencoba bergegas berdiri.
Tapi sesegera mungkin tangan Kaima menghalanginya, Hajwa nggak boleh pergi. “Jangan.”
Hajwa tertahan, ia menoleh ke arah Kaima. “Kenapa?”
“Nggak papa. Kamu nggak berisik kok.”
Ucapan Kaima membuat Hajwa kembali duduk. “Oke, aku bakal diem aja di sini.”
Kaima tersenyum tipis, kelakuan-kelakuan Hajwa yang seperti ini cukup menggelitik hatinya. “Jwa, aku mau nanya.”
Seketika Kaima teringat tentang tiga sahabatnya yang antusias ingin mengenal Hajwa. Maka inilah saatnya untuk menanyakan hal itu.
“Iya?”
“Kamu pengen nambah temen nggak?”
“Temen?” berhenti sejenak, Hajwa memikirkan makna teman yang Kaima maksud. “Teman gimana?”
“Ya, kayak teman ngobrol baru gitu. Untuk sharing-sharing hal baru.”
Hajwa masih memikirkan kata Kaima. Meski Nampak ekstrovert, Hajwa tidak punya teman selain Kaima. “Teman barunya asyik nggak?”
“Itu tergantung sih, gimana kamu menilainya. Tapi menurut aku mereka baik kok.” Jawab Kaima mencoba meyakinkan Hajwa, meski ia juga tidak bisa melupakan fakta.
“Mereka? Orangnya lebih dari satu?”
Kaima mengangguk, melihat bagaimana respon Hajwa, sepertinya Hajwa adalah tipikal orang yang sulit diajak berkenalan. Tapi Kaima juga tidak ingin mengecewakan ekspektasi teman-temannya. Mereka sudah begitu antusias ingin mengenal Hajwa.
“Mereka temen-temen aku di kelas. Mereka baik kok, jadi nggak usah khawatir. Aku juga tipikal orang yang sulit punya temen, dan aku yakin, kamu juga bakal suka sama mereka.” Usaha Kaima untuk memperkenalkan mereka semakin besar.
Hajwa menghela napas. “Berapa orang? Apakah ada perempuan?”
Semakin sulit, Hajwa mulai menanyakan secara krusial dan Kaima bingung harus membuat perkenalan yang menarik. Paling tidak menggerakkan hati Hajwa untuk bertemu satu kali saja.
“Ada cewek, dua. Tapi aku yakin, mereka nggak merepotkan kok, dan cowoknya satu.”
“Tapi beneran kan, mereka baik?” Hajwa mulai tertarik, tapi masih ragu. Kenapa sulit sekali mengajaknya berkenalan dengan orang baru. Bukankah dulu Hajwa langsung nyantol ketika bertemu Kaima.
“Iya, mereka baik banget. Dulu, ketika aku masih pendiem, mereka selalu ngajak ngobrol gitu.”
Hajwa sepertinya mulai luluh dan mengangguk, “boleh.”
“Serius?” Kaima langsung senang.
“Iya, tapi untuk saat ini aku belum bisa ketemu. Aku lagi ada acara di rumah.”
“Nggak papa, yang penting mau!” seru Kaima tak peduli dengan kesibukan Hajwa, yang penting satu langkah sudah terlewati. Sekarang tinggal menentukan jadwal untuk pertemuan mereka.
Senangnya, bisa membuat teman dan orang yang disukainya saling mengenal.
•••