Hujan 25 - Rama Si Posesif

2032 Kata
Di saat semua orang sudah mulai me-recovery diri, hanya Rama yang masih saja stuck dengan kegelisahannya. Hampir setiap hari ketika jam kosong, ia memilih tidur untuk menghindari rasa gamangnya. Tak ada niatan untuk kembali memperbaiki hubungan maupun keadaan hatinya sendiri. Kabur dan selalu saja menghindar, sampai pada akhirnya, ia mulai merasa semua orang menjauhinya, termasuk Miky, Valen dan Kaima. Mereka seakan bahagia dengan hidup mereka. Kemarin, ketika Valen Nampak gelisah, kini sudah ceria dan bercerita seperti biasa, seperti tak pernah ditemukan tangis-tangis kemarin ketika bersama Rama. Apa Valen sudah sembuh? Kenapa dirinya tidak juga sembuh? Perasaan tidak adil itu, tidak hanya menggaung pada hatinya ketika jam kosong, tapi juga ketika pembelajaran di lakukan, Rama sama saja terganggu. Tak dapat dipahami penjelasan dari semua guru di kelasnya. Rasa ingin membaca buku yang mereka ulas pun tak ada. Bisa dibilang, Rama telah menjadi siswa terbodoh di kelas ini, tidak memahami apapun. Siang ini, entah kenapa Rama tidak mengantuk, padahal jam kosong siang ini akan berlangsung lama. Kelas ini memang sering kosong, beberapa alasan yang membuatnya adalah sedang diadakannya festival guru yang membuat banyak guru menitipkan tugas untuk meramaikan acara itu. Mata Rama benar-benar terbuka dengan lebar, padahal tubuhnya sudah direbahkan di deretan kursi. Kursi yang kerap Rama ambil dari teman sebangkunya rasanya tak nyaman. Tak membuatnya mengantuk meski sudah diniatkan. Telinga Rama kini malah mendengar hingar bingar dari teman sekelasnya yang sedang bertukar informasi tak penting. Rumpi-rumpi dan teriakan ketika bercanda begitu jelas ditangkap telinga Rama, membuatnya semakin tidak ngantuk. "Akhhhh..." erang Rama jengah pada dirinya sendiri. Tatapan mata Rama kini beralih pada satu forum kecil yang tidak jauh dari dirinya, di sana ada Kaima, Valen dan Miky sedang asyik bercerita. Wajah mereka Nampak terlihat seru menikmati obrolan. Rama menjadi penasaran. Apa yang mereka bicarakan? "Andai aja gue nggak benci perpus, pasti udah ketemu yang modelan kek gitu." Timpal Valen yang entah membahas apa mereka. Tapi wajahnya kembali ceria, berbeda seperti ketika bersama Rama kemarin. "Miky sebenernya suka perpus, tapi nggak punya temen." Miky, si ceria ikut menimpali. Sebenarnya apa yang sedang mereka bahas? Telinga mencoba mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, serta pikirannya yang mencoba mencerna obrolan mereka. Menyusun topik percakapan mereka yang setengah-setengah terdengar. Entah apa yang Rama lakukan sehingga ia bisa melakukan hal seabsurd ini. "Heleh, Kaika hampir tiap hari tuh ke perpus, tapi lo nggak ikut." Sahut Valen. "Ih, kan kalo istirahat Miky perlu jajan, jadi nggak sempet ke perpus." Sahut Miky beralibi. "Helehh." Valen masih saja menimpali dengan ekspresi tidak percaya pada kelakuan Miky. Sedangkan Kaima yang sedang menyimak Nampak begitu senang melihat pertengkaran Miky dan Valen. Apa Valen udah nggak suka sama gue ya? Kok gue jadi sebel lihat Valen baik-baik aja. Sebenarnya dia naksir gue beneran atau kagak sih? Bisik Rama dalam hatinya. Ia menatap Valen dengan tatapan tidak percaya. Melihat Valen bisa secepat itu move on membuat harga dirinya terluka. "Tapi Hajwa beneran kan pengen ketemu sama kita-kita?" ucap Miky yang sepertinya mengulangi pembahasan mereka. Rama langsung membuka matanya lebar-lebar mendengar ini. Jadi yang membuat Valen begitu riang itu karena Hajwa? Sebenarnya Hajwa itu siapa sih, dan seberapa besar pesonanya. Kenapa sampai membuat Valen seriang itu? "Iya, Hajwa bilang, dia mau ketemu Miky, Valen sama Rama." Ketika Kaima mengatakan hal itu, ia langsung menoleh ke arah Rama. Rama yang saat itu sedang menyimak obrolan mereka diam-diam langsung gelagapan mendengar namanya disebut dan menjadi pusat perhatian mereka bertiga. "Lo juga ngajak Rama?" sahut Valen sinis. "Iya, kan Rama juga temen kita." Bela Kaima. "Rama mau kan?" "Pasti dia nggak mau, kan dia merasa tersaingi sama Hajwa." Tak habis-habisnya Valen mengatakan hal sakras itu. Seakan Rama memang mendapatkan perlakuan itu. Rama mendengus, kenapa bisa Valen mengatakan hal sekasar itu. Itu memang fakta, dan sepertinya hanya Valen yang mengetahuinya. Tapi apakah ia berhak memberi tahu semua orang bahwa Rama pernah mengatakan hal itu. Valen tidak berubah, dia hanya kembali pada dirinya yang dulu, dingin dan tidak berperasaan, "Rama mau kok, dia pasti mau. Nggak ada orang yang akan cemburu dengan Hajwa." Miky membela Rama. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Valen. "Iya, Valen. Miky benar. Pasti dia mau, ya nggak Ma?" Kaima ikut membela. Rama mengangguk pelan, mencoba mengabaikan kata-kata menyakitkan yang dilontarkan Valen tadi. "Valen, lain kali nggak boleh gitu ya. Meskipun Rama itu nyebelin, dia tetep temen kita." Miky masih saja membela Rama. Kalimatnya membuat hati Rama menghangat, ternyata mereka tidak menjauhinya, Rama yang menjauhi mereka. Valen memutar bola matanya jengah, seperti tidak merasa sedang ditegur. Valen memang boleh membenci Rama, tapi tidak seperti ini. Valen lupa bahwa banyak hal yang mereka lalui sejak kelas satu. Kemudian, apa Valen juga lupa bahwa ia pernah jatuh cinta dengan Rama? Kenapa sikapnya tidak mencerminkan sama sekali dengan masa lalu yang telah terjadi. ••• "Aw sakit!" ringis Valen ketika tangannya dicengkeram dan diseret Rama menuju tempat yang tidak diketahui oleh Valen. Mereka tetap berjalan menuju tempat yang sepi. Melawan arah dari siswa yang pulang sekolah. Tepat mereka keluar untuk pulang, Rama langsung menggaet Valen pergi. Tak peduli banyak pandang mata melihatnya, Rama tetap berjalan. "Lepasin! Dasar psikopat!" cecar Valen melihat Rama tanpa perasaan memegang tangan Valen. Meski Valen sudah mencecarnya, ia sama sekali tidak merasa harus melepas Valen. Ia tetap berjalan tanpa mempedulikan kata-kata Valen. "Lo mau bawa gue kemana Rama?!" Rama tak menoleh. Ia tetap bungkam. "Kenapa sih lo jadi kasar banget!" Ia mengendurkan genggamannya, namun tetap menyeret Valen. "Ramaa!" ucap Valen tak tahan. Ia menggerak-gerakan kedua lengannya untuk lepas dari genggaman Rama, namun karena berbeda kekuatan, Valen tidak bisa melawan Rama. Ia akhirnya pasrah mengikuti kemana maunya Rama. Ternyata Rama hanya membawanya menuju taman. Tepat di bawah pohon angsana yang sedang bermekaran, mereka berhenti. Kaki mereka memijak bunga-bunga angsana yang rontok, berwarna kuning cerah. Jika dilihat dari kejauhan, mereka seperti sedang syuting drama anak sekolah. "Ada apa?" tanya Valen tanpa basa-basi. Tak perlu basa-basi untuk hal seperti ini. Masalahnya Rama sudah menyeretnya ke sini seperti monyet. "Gue mau ngomong sama lo." Ucap Rama lembut, berbanding terbalik dengan sikapnya yang menyeret Valen. "Ngomong apa?" Valen tak terkecoh dengan nada halus yang Rama katakan. "Tapi lo jangan marah dan pergi tiba-tiba, gue nggak pengen lo salah paham lagi." Imbau Rama sebelum memulai percakapannya. Kali ini Nampak serius membuat Valen sedikit melunak. "Oke, gue nggak bakal pergi tiba-tiba." Valen menyetujui perjanjian. Kini mereka duduk di pondasi yang membatasi pohon. Siap memulai obrolan yang serius, lagi. Dan Rama berharap percakapan siang ini berlangsung dengan baik, dan berakhir dengan baik pula. "Pertama-tama, gue meminta maaf atas semua sikap gue yang membuat lo marah sama gue. Gue benar-benar nggak tahu dan nggak menyadari jika itu membuat lo jadi sakit hati dan membenci gue." Rama memulai percakapannya. Valen menyimak dengan baik, ia sudah berjanji di awal percakapan tadi. "Setelah melakukan itu, gue menyesal dan benar-benar ngerasa kehilangan lo. Gue lupa jika selama ini lo udah nemenin gue di berbagai hal, dan sekarang lo menghindari karena ucapan gue." Rama menghela napasnya, "tapi nggak papa, gue menerima itu sebagai konsekuensi kesalahan gue." Valen menyeringai, ternyata ini alasan dia mengajaknya bertemu. Pasti Rama kehilangan sosok Valen dan ngajak damai. Tapi Valen nggak boleh langsung memutuskan, ia harus mendengarkan itu sampai akhir. "Gue pikir, gue kemarin bisa baik-baik aja dengan hal ini. Gue mencoba melupakan obrolan itu bareng lo dan menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa, seperti yang lo rasain sekarang. Hidup seneng dan tenang." "Tapi sepertinya, gue enggak bisa seprofesional itu, gue enggak bisa mencoba seperti lo. Padahal jika gue ingat, masalah yang dihadapi lebih kompleks." Rama mengatakan itu dengan tulus. Bola matanya menatap Valen lekat. Valen pun juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan kini pikirannya pun jnga berhenti berpikir dalam menimpali ucapan Rama. "Semakin gue memikirkan hal yang bisa untuk lepas dari kemarin, gue semakin mengingat lo. Gue merasa bahwa ini tidak adil bagi gue, terlepas dari ketidakadilan yang lo rasa. Gue ngerasa kayak, ada yang belum selesai di antara kita." Rama tak bercanda, tiap kata yang ia lontarkan benar-benar begitu serius. Valen menelan ludahnya, "Maksud lo?" tanyanya dengan tenaga yang tersisa dalan diri Valen. "Valen, apa lo masih suka sama gue?" Rama kini malah bertanya. Valen tak bisa menjawab, harga dirinya dipertaruhkan di sini. Meski jawabannya iya, menjawab dengan segamblang itu tidak mungkin. Valen tidak ingin kesalahannya terulangi, nanti Rama akan membuatnya sakit hati. "Kenapa emang?!" hanya itu yang bisa dikatakan Valen. Jaga aman agar tidak menjadi bumerang. Bukannya langsung menjawab, Rama malah menatap Valen, dengan tatapan yang belum pernah Valen lihat. Tatapan yang membuat jantung Valen berdegup dengan kencang dan membuatnya merinding. "Gue cuma mau bilang, gue suka sama lo." ujar Rama melengkapi tatap mata anehnya. Valen langsung berhenti bernapas. "Awalnya gue nggak sadar sama ini, gue pikir gue naksir Kaima dan nganggep lo cuma temen usil doang. Tapi setelah menyadari hal-hal bodoh yang gue lakukan, gue lebih ngerasa bahwa kehilangan lo lebih berat." Rama melanjutkan ucapannya. Valen sendiri masih tidak bisa mengatakan apa-apa. Siapa yang menyangka jika akhirnya akan seperti ini? Dan itu benar-benar di luar dugaan Valen. "Gue nggak berharap lebih. Tapi gue juga penasaran, lo masih suka sama gue atau enggak? Paling nggak dengan tahu hal itu, gue bisa memposisikan diri." "Gu-gue, masih suka sama lo." Tanpa menunggu waktu yang lama, Valen mengangguk. Padahal bisa saja ia menggeleng jika teringat permasalahan kemarin yang membuatnya sakit hati. "Jadi, apa lo mau jadi pacar gue Valen?" tanya Rama penuh dengan keberanian. Namun sorot matanya khawatir, khawatir jika ternyata Valen menolaknya. "Lo bener nggak suka sama Kaima? Ini bukan bias perasaan lo karena gue tinggalin kan?" Valen masih berjaga-jaga. "Enggak. Gue udah nanyain sama hati gue sendiri, dan gue enggak menemukan debar apa-apa di hati gue ketika mengingat Kaima. Beda sama lo, rasanya gue benar-benar campur aduk." Rama tak keberatan memberikan bukti bahwa perasaannya itu nyata. "Kalau gue masih ragu, nggak mungkin gue ngomong ini sama lo. Karena gue tahu, gue nggak mungkin bikin lo sakit hati karena kesalahan gue lagi. Gue nggak mau lo nangis, Valen." ucap Rama manis. Ia tersenyum sembari memegang kedua tangan Valen. Valen sendiri sudah dibuat beku oleh kata-kata Rama. Bisa-bisanya seorang Rama mengatakan hal semanis itu. Auranya juga berubah, bukan Rama yang pemalas dan Rama yang tidak punya masa depan cerah. Ini adalah Rama yang berani dan kharismatik. "Jadi, percayalah sama gue Valen. Lo maukan, Jadi pacar gue?" Rama mengulangi pertanyaannya. Valen mengangguk. "Iya gue mau." Rama langsung dibuat senang, tidak menyangka bahwa kesempatan itu masih ada. Luka yang ia torehkan pada Valen membuatnya sedikit putus asa. Rama pikir, sosok Valen yang keras tidak akan memberi kesempatan kedua. Namun kini, semua dipatahkan oleh apa yang terjadi. Rama tersenyum lebar ke arah Valen. Tidak menyangka bahwa gadis di depannya kini adalah kekasihnya. "Jadi sekarang jangan ngomong sakras ya di depan gue." Rama mulai melunak. Ia menggoda Valen dengan mencolek hidungnya. "Laah, kenapa? Gak suka?! Kan itu fakta!" Valen tak mau kalah. Ia juga sudah mulai luluh dan mulai membaur dengan candaan Rama. "Masak kamu tega banget pacar dijelek-jelekin." "Tapi kan kemarin belum jadi pacar." sahut Valen sembari mengejek Rama. "Ih, berani ya!" Rama menggelitiki tubuh Valen, membuat pacarnya langsung tertawa lepas.  "Ramaaaaa..." teriak Valen. Mereka berdua nampak asik bercanda di bawah pohon angsana yang diterpa angin, bahkan bunganya kini rontok menghujani mereka, membuat suasana semakin romantis dan manis oleh kisah asmara mereka yang baru saja dirajut. Valen benar-benar tidak menyangka bahwa usahanya selama ini akan berbuah hasil dan membuat Rama jatuh cinta kepadanya juga. "Valen, gue mau ngomong nih." seusai menggelitiki Valen, Rama langsung memegang kedua bahu Valen, membuat tubuhnya menghadap sempurna ke arah Rama. "Iya apa?" masih ada sisa tawa di wajahnya, namun Valen mencoba menanggapi serius. "Lain kali, jangan bahas-bahas Hajwa, apalagi sampai kelihatan naksir ya."  "Kenapa? Lo cemburu?" tebak Valen.  Rama mengangguk. "Gue nggak mau, pacar gue bahas orang lain, apalagi orangnya Hajwa." ucap Rama jujur. Sebenarnya perasaannya tadi siang ketika mendengar obrolan tentang Hajwa membuat telinganya panas. Valen tertawa, "Cemburuan banget ya lo. Ternyata oh ternyata." ledek Valen, tawanya tak ada habis-habisnya. Padahal kini tak ada tangan Rama yang menggelitikinya, namun perilaku posesif Rama membuatnya begitu tergelitik. "Ketawa aja terooos."  "Habisnya lo lucu sih." "Iya, Rama emang lucu dan gemesin." Rama mengalihkan percakapan. Mencoba membahas hal lain biar nggak bahas Hajwa. Padahal tadi Rama hanya ingin membuat Kaima mengindahkan kata-katanya, tapi malah jadi bumerang. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN