Kondisi psikis itu tidak bisa dilihat dengan mata, namun ketika ia sedang kenapa-napa ia memberi perasaan yang jelas, apalagi bagi penderitanya. Ada orang yang nampak tidak punya permasalahan, sebenarnya kepalanya penuh dengan pikiran runyam. Ada orang yang mencoba begitu ceria, sebenarnya di dalam hatinya hanyalah kota mati yang ingin dihidupkan. Ia sembunyi, hanya nampak jika pemiliknya mampu mengatakan apa yang terjadi.
Lebih menyedihkan lagi ketika seseorang itu mencoba memberi tahu, namun lingkungan sosialnya tidak memberi ruang untuk cerita pahitnya. Banyak orang yang tidak peduli terhadap dampak kesepian. Mereka terlalu apatis untuk dirinya sendiri dan lupa bahwa seseorang ada yang terluka untuk membutuhkannya meski hanya sedikit sapa.
Miky menjadi salah satu manusia yang merasakan itu. Ia selalu ceria dan hidup bergelimang tawa, sebenarnya ia juga mudah terluka. Kerap kali ia selalu merasa bersalah ketika ada yang tidak beres. Miky juga kini merasa tidak bisa mengatakan apa yang saat ini dirasakan.
Miky, kini merasakan sepi dan luka itu. Kaima mungkin pendiam, tapi ia tidak harus mendiamkan sebuah pertanyaan. Bukankah mereka teman, dan apa salahnya memberi respon meski hanya sekedar anggukan.
Dan lagi, kenapa juga Valen harus mengatakan hal kasar yang sudah pasti menyakiti hatinya. Miky tahu, Valen adalah orang yang nggak bisa basa-basi. Tapi, apa Valen tidak pernah dengar, jika lebih baik tidak jujur hanya untuk membuat orang tidak terluka.
Miky hanya ingin lebih dekat, hanya ingin punya teman akrab yang bisa berbagi perasaan. Tapi untuk bisa di fase itu, rumit dan melelahkan. Tidak selamanya perbedaan itu indah, ia juga memberi luka jika kita tidak siap membuka hati dengan lebar.
Perlakuan kasar Valen kemarin, membuat Miky menciut. Ia mencoba sibuk dengan dirinya, mencoba untuk tidak ikut campur dengan kehidupan merekạ. Itu ia usahakan untuk introspeksi diri bahwa ia tidak boleh terlalu obsesif untuk mendekati orang.
Miky makan ke kantin sendiri, ke kamar mandi sendiri, ia sudah lupa bahwa tiap ke kamar mandi akan Kcaper dengan Kak Kenn, bahkan tempat duduknya kini berubah di belakang. Perasaan sedih itu membuatnya lebih pendiam. Jauh dari tiga orang itu. Semua itu hanya karena Miky takut salah. Takut jika apa yang ia lakukan begitu membuat orang tidak nyaman dengannya.
Hal yang paling menyakitkan dari semuanya adalah ketika Valen, Rama dan Kaima masih nampak tidak punya permasalahan. Ia tidak merasa ada yang kurang meski Miky menyingkir diam-diam di antara mereka. Luka diabaikan mungkin tidak nampak serius, tapi perasaan itu memberi luka yang menyakitkan.
Miky bahkan kini memaki dirinya sendiri, kenapa dulu begitu percaya diri bahwa pertemanan unik itu bisa menjadikannya berhasil. Menjadikan masa SMA-nya semakin berwarna seperti romansa remaja. Namun, kini semuanya melelahkan jika berusaha sendirian.
“Tumben lo ke kantin sendiri, temen lo yang judes kemana?” tanya Flo, teman SMP Miky.
Miky yang pergi ke kantin sendiri hanya memberi senyum getir. Ketika ia berusaha tidak peduli dengan ketiga temannya. Kini, malah dibahas.
Apa seseorang harus dijelaskan dengan gamblang sebuah masalah untuk mengerti. Apa mereka nggak tahu, ada beberapa luka yang diingat malah semakin menyakitkan. Kenapa tidak melihat saja? Nggak semua orang mau dikorek masalahnya. Kalau tahu tidak bareng-bareng ya berarti sedang nggak akur gitu.
Miky berdesis dalam hati. Mungkin ia nampak lesu, namun dadanya masih mengatakan banyak keluhan. Pikiran-pikiran runyam dan segala pertanyaan tidak terjawab di kepalanya.
“Nggak papa, mereka pada males ke kantin.” jawab Miky akhirnya. Ia tidak mau menjelaskannya tiap kata hanya untuk menjawab rasa penasaran Flo.
“Ohhh.” Benarkan? Kini Flo hanya merespon singkat. Ia hanya penasaran, tidak simpatik.
Flo berlalu, tanpa beban. Sedangkan Miky di buat getir, nafsu makannya kini menghilang jika hanya mengingat betapa kasarnya Valen dan dinginnya Kaima.
Tidak punya teman ternyata itu sepi, ia tidak punya tempat berbagi dan tempat untuk berbagi kebahagiaan. Sekalipun ada, pasti sulit untuk saling mengerti. Miky lagi-lagi merasa begitu hampa. Ia kangen juga beli cilok bareng Valen.
•••
Kaima masih duduk di lantai perpustakaan. Di tengah-tengah rak buku di bagian sejarah. Persis seperti kemarin, dan bedanya kini tidak ada Hajwa di sampingnya. Perasaan Kaima sedikit berdebar, meski ia tidak paham apa yang sedang terjadi.
Tapi ada perasaan menginginkan Hajwa datang, menyapanya dengan perasaan sok tahu dan pesonanya. Namun, Kaima harus menelan harapan itu. Hajwa kini tidak datang.
Lima belas menit istirahat hanya diisi diam. Kaima hanya menatap datar keluar lorong. Siapa tahu, Hajwa ada di sini tapi tidak di lokasi mereka berjumpa. Kaima juga sudah mencoba untuk menjatuhkan buku agar Hajwa datang membantunya. Namun yang ada, hanyalah rasa sakit di punggung dan kepala Kaima karena banyak buku mengenai tempurung kepalanya.
Harapan itu timbul karena rasa penasaran dan pesona yang Hajwa ciptakan. Pesona yang mulai menghangatkan perasaan Kaima, meski kini sudah membeku lagi karena kekecewaan.
Setelah penantian tidak berarti, Kaima bangkit. Ia meninggalkan perpustakaan tanpa membaca buku apapun. Sebuah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Kaima memasuki kelas, duduk di bangkunya dan meneguk air minumnya. Wajahnya sedikit memerah karena perasaan kecewanya. Kenapa Hajwa tidak menepati janjinya, bukankah ia selalu hadir tanpa Kaima harapkan. Namun sekarang, ia tidak datang ketika Kaima berharap.
Kenapa tidak sopan sekali, mempermainkan hati orang.
“Lo kenapa Kai?” Rama duduk di samping Kaima. Untuk pertama kalinya Rama tahu ada emosi lain di wajah Kaima selain senang karena hujan dan datar karena… ya kebiasaannya seperti itu.
Kaima menoleh pelan. Ia menghela napasnya, ada perasaan tidak nyaman yang memenuhi rongga dadanya. Perasaan yang tidak pernah Kaima rasakan beberapa tahun terakhir, atau sepertinya tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Tumben banget muka lo kek gitu. Bukannya lo seneng kalau abis dari perpus.” Valen ikut nimbrung. Sebenarnya ia juga ingin tidak peduli, tapi rasa penasaran dan basa-basinya sudah mulai mengisi kehidupannya—efek suka bergaul sama Miky.
“Ada yang ngerebut buku lo di perpus?” tanya Rama.
Kaima hanya menatap dua temannya, ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya ada emosi tidak disembunyikannya. Emosi kekecewaan yang Kaima sendiri tidak mengerti kenapa bisa ada dan terjadi.
“Syukur deh kalo lo masih normal.” ucap Valen tak terduga. Bukannya menghibur, kini ia malah bersyukur dan tersenyum tipis.
Emosi Kaima mungkin tipis, tapi Valen bisa memahami dengan jelas perasaan itu. “Persis kek Miky kemarin.” sahut Rama.
Ketika mengatakan nama Miky, Rama menoleh ke arah penjuru kelas. Berjaga-jaga takut Miky mendengar ucapannya. Tapi Miky emang nggak ada, kan dia pergi ke kantin sendirian.
Sebenarnya mereka juga tahu betul gimana perasaan Miky kemarin dan akhir-akhir ini. Karena semuanya bisa dilihat jelas di wajah Miky. Namun, dengan jahat mereka tidak ada itikad untuk meminta maaf dan menghibur.
Terkadang hidup memang sejahat itu. Kita yang nggak boleh berekspektasi pada orang lain. Bukankah sudah jelas, Allah bilang jangan pernh berharap pada makhluk-Nya. Manusianya aja yang bebal suka naruh harapan. Kecewa kan, akhirnya.
“Bukannya kita terlalu jahat ya?” Ucapan Rama mendapatkan respon dari Kaima.
“Jahat gimana?” sahut Valen.
“Miky menghindar dari kita kan, karena kita jahat.”
Rama dan Valen kaget, kenapa Kaima bisa begitu peduli pada Miky. Tapi semua itu bisa dipahami Kaima, ia merasakan sendiri sakitnya terhadap ekspektasinya yang gagal.
“Iya sih, tapi gue sebel Miky orangnya cerewet banget. Jadi gue keki kalo di samping dia.” balas Valen. Ucapan Valen jujur, tapi itu bukan alasan yang tepat.
“Tapi lo nggak boleh gitu.” Rama ikut menjadi orang yang benar.
Valen menoleh cepat ke arah Rama. “Lah kenapa?”
“Kenapa lo bilang Miky cerewet dan nyusahin.”
“Lha kan bener.” Valen sewot.
“Tapi kan Miky nggak pernah komen kalau lo judes, lo kasar, lo frontal dan segala sifat buruk lo. Miky fine-fine aja.” tambah Rama yang mulai tidak suka dengan sifat yang tidak peka milik Valen. Ia mencoba untuk menahan dirinya, kan nggak baik juga kalau Rama ikut panas.
“Tapi Miky nggak fine, tuh. Nyatanya dia menghindari kita. Emangnya kita salah apa?” Valen tetap pada pendiriannya yang merasa benar.
Rama membelalakkan matanya. Pikirannya benar-benar tidak menyangka bahwa Valen akan merespon kata jahat itu.
Valen sepertinya lupa. Di balik sifat Miky yang merepotkan, ada segudang kebaikan darinya. Miky yang ceria memang tidak pernah merasa direpotkan. Ia selalu membantu Valen bahkan sering membelikan jajan. Tapi kini lihatlah, Valen tetap tidak tahu budi harus dibayar budi juga.
Ada benarnya juga Miky tidak ada di sini. Pasti ia akan lebih sakit hati jika mendengar k********r itu.
“Dan lo, kenapa juga peduli sama Miky. Lo naksir sama dia?”
“Jangan berlebihan. Miky nggak kenapa-napa tuh.”
Kata itu seperti pisau tajam yang menikam jantungnya. Apa yang ada di kepala Valen sampai ia mengatakan hal sekasar itu.
“Lo ngomong gini mikir nggak sih, Len? Kalo lo cuma nganggep hal ini sebatas naksir. Lo bener-bener udah gila. Di mana rasa simpatik lo? Gue tahu lo orangnya nggak suka basa-basi, tapi juga jangan nyakitin orang!”
“Kaima aja, yang dingin. Dia berusaha nggak bikin orang sakit hati. Tapi lo…?”
“Kalau lo nggak mau ngertiin orang lain, gimana bisa lo dingertiin orang. Nggak semua orang punya mental sekuat baja kek elo.”
“Harusnya yang sekarang nggak punya temen itu lo, bukan Miky. Paling nggak Miky udah punya usaha untuk menjadi orang yang baik. Nggak kayak lo!”
Valen hanya menatap Rama tidak percaya. Ia bingung kenapa juga Rama marah-marah ke arahnya. Bukannya tadi Valen hanya mengungkapkan apa yang menjadi uneg-unegnya. Memangnya apa salahnya berpendapat?
Rama kembali ke bangkunya. Ia sudah cukup merasa muak melihat Valen yang semakin tidak tahu diri. Ia tahu, semua orang punya kekurangan. Tapi men-judge dan melabeli kebenaran hanya miliknya yang salah.
Semua orang punya kondisi mental yang beda, tidak semua orang juga bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Tapi, kenapa banyak orang yang nggak tahu bahkan lupa bahwa rasa sakit hati karena perlakuan orang itu lebih menyakitkan dari pada sayatan belati. Bukankah ia juga sama-sama manusia, kenapa tidak meluangkan sedikit waktu untuk memberi rasa iba.
Kasihan Miky, di saat ia merasa sepi, banyak orang yang tidak memahami pedihnya rasa sepinya. Ia bisa saja menangis, tapi siapa yang ingin mendengar tangisnya.
Sederhana, namun begitu rumit jika diurusi oleh satu kepala.