Setelah urusan mengangkat buku selesai, mereka semua segera menuju kelas. Sebentar lagi jam istirahat akan segera berakhir. Valen nggak mau ceramah Roni akan semakin panjang jika waktu mengambil buku kelamaan.
Sesampai di depan kelas, Miky sudah mencegat mereka dengan ekspresi kesal. Wajahnya merajuk dan ada dengusan kecil di hidungnya.
“Kalian dari mana? Habis dari perpustakaan ya?”
Tak ada jawaban, bagi mereka pertanyaan itu memang nggak perlu dijawab.
"Kalian kok angkat buku nggak ngajak-ngajak Miky!" heboh Miky ketika ketiga sahabatnya sudah memenuhi pintu masuk kelas.
"Dih, lagi susah malah pengen ikut." cibir Rama.
Mendengar sesuatu yang heboh, Roni langsung menuju ke arah pintu, ia menatap tiga manusia yang kini mengangkat buku di depan pintu kelas. Kaima, Rama dan Valen, yang paling banyak bawa buku adalah Kaima, padahal Kaima tidak piket hari ini. Sepertinya ada eksploitasi terhadap pekerjaan nih. Rasa ingin menyadarkan Kaima untuk tidak dimanfaatkan menjadi lebih tinggi. Valen dan Rama sudah kurang ajar.
"Bisa dijelaskan Ibu Valen?" selidik Roni. Tahu kan Roni adalah orang yang tidak bisa ditolerir dan tidak ingin ada yang ikut campur dengan perintahnya. Sekalipun itu Kaima, siswa nomor satu di kelasnya.
"Apaan sih, sirik aja lo. Kaima cuma bantu. Nggak usah ngurusin hidup orang. Kalo lo nggak mau dibantu, yaudah jangan minta tolong!" sahut Valen cepat. Ia sudah cukup emosi disuruh-suruh Roni. Dia pikir, membawa buku seperti ngambil duit?
Setelah mengatakan hal itu, Valen berlalu meninggalkan Roni yang berkacak pinggang di depan pintu. Kemudian di susul Rama yang nyengir dan Kaima yang datar pastinya.
"Kai, gue minta lo lebih sadar lagi ya. Jangan mau diakali dua bocah tengil itu." Roni mencoba menyadarkan Kaima.
"Roni, jangan kayak anak kecil deh. Bisa diem kan?!" Valen muak mendengar ucapan Roni yang menyakiti hatinya. Apa salahnya berbuat baik.
Rama mengangkat kedua bahunya, ia menggelengkan kepalanya melihat aksi Roni yang terlalu obsesif dengan tugas sepele seperti ini.
“Mending udah deh, jangan bahas ini lagi.” ujar Rama tidak ingin ada pertengkaran di sini.
“Tapi gue cuma pengen bikin Valen sadar buat mandiri.”
"Ron, lebih dewasa lagi ya. Jangan kaku-kaku jadi orang. Kaima aja yang datar tahu tuh berbuat baik. Kenapa lo yang sewot." tambah Valen lagi. Ia benar-benar pengen nampol Roni. Lagian dulu siapa sih yang milih dia jadi ketua kelas.
"Makan tuh, omelan mak lampir." Rama menyenggol Roni yang dadanya kembang kempis. Maksud dia tuh nggak gitu, dia cuma pengen semua bekerja sesuai proporsinya.
Kaima hanya diam, kembali ke modenya yang datar. Ia bahkan tidak peduli dengan Roni yang senewen
Kaima duduk di bangkunya, diikuti Rama dan Valen. Miky yang tidak tahu apa yang terjadi langsung bergabung.
"Kalian kenapa sih? Kok Valen sampe marah-marah." tanya Miky penasaran.
"Terus juga, kenapa tadi Rama nelpon Kaima, kan dia nggak pernah bawa hpnya ke perpus."
Rama hanya diam, dia nggak tahu mau jawab gimana. Valen sendiri juga sejak tadi melirik tajam ketika Miky melontarkan pertanyaan.
"Terus, ini kenapa juga nggak ngajak Miky." Lagi, seperti nggak kapok-kapok bertanya.
Berondong dari Miky membuat Valen semakin naik pitam. Ia menatap tajam ke arah Miky. Sorot matanya mengatakan 'diem nggak lo'.
Namun, Miky sepertinya tidak peka. "Kan Miky cuma nanya, ngapain juga Valen natap kek gitu."
"Udah deh, Ky. Mending lo diem. Kalo lo nanya Valen kenapa marah-marah, kan emang Valen marah-marah terus." Rama memotong.
“Lo juga diem Ma!” ketus Valen.
Miky menatap sekilas Valen, mencari celah alasan kenapa ia membisu. Lalu menoleh ke arah Kaima yang sama sekali nggak notice tentang yang terjadi. Kenapa di antara semua orang nggak ada yang peduli dengan Miky? Kenapa Miky nggak bisa dimengerti?
Hanya membalas dengan kata-kata halus pun, Miky juga bakal seneng kok. Tapi kenapa malah dicuekin, kan Miky malah merasa bahwa hanya dirinya saja yang antusias dalam pertemanan ini.
"Ih, dasar nggak jelas. Miky cuma nanya, jangan dijudesin gitu dong." cibir Miky akhirnya. Ia juga merasa tidak dihargai ketika melihat ketiga sahabatnya tidak menganggapnya.
Padahal kan Miky yang mempersatukan mereka, kenapa juga mereka tidak berterima kasih. Minimal nganggep Miky juga manusia lah.
Yang lebih mengenaskan lagi adalah ketika semua orang itu tidak merespon amarah Miky. Seperti hanya Miky seorang yang begitu obsesif dengan pertemanan ini.
Hidup memang begitu, ia memberikan harapan yang luas kepada manusia tetapi manusia sendiri yang tidak bisa menepati harapan-harapan itu.
•••
Pertengkaran itu tidak berdampak pada Kaima, baik secara sosial ataupun mental. Karena memang sejak awal ia sudah meneguhkan dalam hatinya bahwa semuanya akan hilang pada waktunya. Kaima tidak pernah menaruh hatinya terlalu dalam pada pertemanan yang ia sendiri tidak mengerti maknanya.
Kaima hanya hidup mengikuti alur, tanpa perasaan yang berarti dan itulah kuncinya agar terhindar dari sakit hati yang ia sendiri sudah hindari sejak dulu--tapi jika ditanya bagaimana rasanya sakit hati, Kaima tidak bisa mendeskripsikan itu.
Permasalahan Miky dan Valen masih berlanjut. Meski tidak ada pertengkaran yang membara, namun ada tembok yang membatasi masing-masing dari mereka. Mereka terlibat perang dingin beberapa hari terakhir. Tidak ada lagi komplotan yang mengisi hari Kaima. Mereka sibuk dan mencoba untuk tidak peduli.
Sebenarnya, yang menjauh hanyalah Miky. Sakit hatinya karena perlakuan tidak adil membuatnya membenci Valen, bahkan membenci Kaima yang dirinya sendiri tidak tahu kenapa bisa dibenci. Setahu Kaima, Kaima hanya mencoba untuk tidak peduli.
Hal itu juga yang membuat Kaima tidak membuka terlalu lebar. Untuk apa repot-repot pada orang yang tidak dijamin bisa menjaga diri sendiri.
Kaima mungkin bisa menutupi hatinya terhadap apa yang terjadi dengan Miky, tapi ia tidak bisa kepada Hajwa. Pemuda misterius yang mulai mengelitiki hati Kaima. Kaima mungkin bisa mengelak dengan kata-kata, tapi ia malah tidak bisa memahami hatinya. Sebenarnya apa yang ia mau?
Siang ini, Kaima dengan sengaja datang ke perpustakaan. Padahal ini bukan waktunya ia kesana. Bukannya di siang panas yang seperti ini Kaima lebih senang tiduran di kelas dengan earphone yang menyumpal?
Hal itu terjadi karena Kaima ingin melihat lagi sosok Hajwa. Siapa ia sebenarnya dan seperti apa sifatnya. Dua kali bertemu tidak membuatnya semudah itu mengenal Hajwa.
Di depan perpustakaan, Kaima menanti sosok Hajwa muncul dengan sikap ramahnya. Kaima membayangkan bagaimana Hajwa berlari menujunya.
Tak biasanya Kaima berdiri di sini. Apalagi menunggu seseorang, seperti bukan Kaima. Tapi di sinilah Kaima, berdiri dengan senyum tipis yang mengukir di bibirnya. Dadanya berdebar dan ia tidak mengerti kenapa harus begini?
Sepertinya, tidak seindah apa yang menjadi harapan Kaima. Hajwa tak ada, ia tak ada mampir di perpustakaan. Tak ada sapa hangat yang akan membuat Kaima salah tingkah.
Kaima terbunuh oleh harapnya. Siang itu Hajwa tak datang. Tidak diketahui alasannya, namun yang pasti Kaima merasakan sesak di d**a dan perasaan sedih.
Kaima seperti sedih bahwa itu tak seindah ekspektasinya. Ada sebuah kegagalan dalam harapnya yang membuat kini ia memahami bagaimana perasaan Miky jika hal itu terjadi.
Menjadi seperti Miky ternyata tidak menyenangkan, menyakitkan dan benar-benar tidak nyaman.
•••