Prolog
Wanita berambut coklat itu berjalan seraya menarik gaunnya ke atas dengan kesusahan. Ia sungguh harus menyumpahi Lexie--saudarinya karena memberinya gaun satin biru panjang yang melebihi tingginya. sudah licin, harus menyeret tanah pula.
Ia juga mengutuk Tom, Tua Bangka yang menyusun dan mengatakan bahwa rencana ini sudah disiapkan sejak lama, tapi menurut Casey yang mendapat tugas utama sebagai penggoda dan pencuri, semua rencana ini terlalu mendadak dengan persiapan yang hanya tiga puluh persen. Mungkinkah rencana ini berhasil?
Ia semakin tidak yakin bahwa rencana ini akan berhasil, setelah ia tahu Tuan Blaxton si Taipan kaya itu tidak pernah mempublikasikan wajahnya pada media, klan Blaxton dikenal sebagai keluarga yang tertutup dan memiliki koneksi kuat dengan pemerintah karena memeliki pengaruh besar pada bidang teknologi dan ekonomi. Tak banyak orang yang berani mengusik keluarga ini.
Menurut kabar yang terdengar, hanya orang tertentu yang pernah melihat wajahnya. Lalu bagaimana cara Casey tahu itu tuan Blaxton yang Tom targetkan jika ia bahkan tidak tahu rupanya?
Inilah rencana gilanya, Casey harus menggoda semua pria bertopeng di sini dan memastikan apakah di antara mereka adalah Tuan Blaxton.
Terdengar gila? Asal kalian tahu, bahwa Casey sudah mengumpati Tom sedari tadi bahkan mungkin sedari awal saat Tom mengatakan rencana gila ini. Tapi Casey tak bisa mengeluh, inilah pekerjaannya sebagai pencuri perhiasan. Terkadang, cara ekstrim memang dibutuhkan dan selalu ada hal yang bisa di ujar rencana atau tidak seperti simulasi mereka, menuntut mereka berimprovisasi dan mau tidak mau, siap tidak siap mereka harus bisa membuat keadaan berpihak pada mereka.
Siluet dengan pakaian hitam putih melewatinya, “Wine or whisky Miss?” sapa siluet itu yang ternyata merupakan salah satu waiter yang hendak menawarkan Casey minuman dari nampan kaca yang dibawanya.
Casey menggeleng dengan senyum anggun, meminum alkohol hanya akan mengacaukan rencananya. Tidak lucu jika ia mabuk di tengah acara bukan? karena itu, meskipun terlihat menggoda ia harus menolaknya.
“Adakah minuman yang lebih ringan?” tanya Casey mencari alternatif.
“Ah, kami memiliki mocktail. Dan mocktail ini, merupakan welcoming drink dari Tuan di sana.” dengan lirikan mata waiter itu menunjuk seorang pria yang tengah duduk di salah satu meja bar, pria itu menggunakan topeng hitam yang amat sangat kontras dengan kulit putih pucatnya meskipun dalam cahaya yang relatif remang.
“A-ah….” Casey bingung, haruskah ia menerima minuman ini?
“Silakan, Nona.” Pelayan itu menyerahkan gelas itu pada Casey hingga mau tak mau Casey menerimanya.
“Tuan kami mengatakan, jika Anda menerima minuman ini, berarti Anda menerima undangan untuk bertemu dengannya.” Ujar pelayan itu lagi.
Casey mengatupkan bibirnya terkejut lalu melirik ke arah lelaki yang dipanggil waiter itu dengan sebutan Tuan. Lelaki itu tersenyum seraya mengangkat gelas mocktail yang sama dengan Casey, secara tidak langsung mengatakan bahwa memang ialah yang memberikan minuman itu pada Casey.
Casey mengumpat dalam hati. Oh sial, sudah jelas seharusnya bukan ia yang mendatangi pesta ini. Ia biasa bergerak sebagai the thief dan Lexie atau Emma akan bergerak sebagai Seducer. Ia sudah memperingatkan Tom namun Tom ayahnya angkatnya itu tak menghiraukannya.
Mana ia tahu, cara beradaptasi di tempat orang kaya seperti ini? Ia hanya tikus pengerat yang terbiasa mencuri, bukan kucing persia yang mengeong dan mengibaskan ekornya menggoda lalu bercinta.
Lorong gelap yang sunyi lebih cocok dengannya dibanding ruang terbuka dengan penuh gemerlap yang membuat netranya sakit dengan banyak orang seperti ini. Casey akhirnya menaruh minuman itu kembali di atas tray kaca yang dibawa si pelayan, meninggalkan pelayan itu yang terlihat bingung atas tindakan Casey. Casey berjalan menyeret gaunnya dengan perasaan dongkol yang mengalungi.
Tom bilang, ia hanya harus mencari Tuan Blaxton membuatnya mabuk, dan menggodanya lalu saat waktu sudah dirasa tepat, Casey harus mendesak Tuan Blaxton untuk menunjukkan di mana berlian itu. Sementara Tom di pesta ini bertugas mengalihkan perhatian para tamu dengan permainan judinya yang luar biasa hebat atau tepatnya, licik itu. dan voilla rencana mereka berjalan dengan sangat mulus sepertin yang Tom harapkan, meskipun Casey ragu rencananya bisa berjalan semulus itu.
Casey menghela napas, yang jelas Casey harus mengabaikan pria ini.
Casey terus berjalan lurus seraya sesekali menatap Tom yang tersenyum ke arah setiap tamu di hadapannya. Aktingnya begitu terlihat sempurna, ia seperti pengusaha tua bijak bergelimang harta yang tengah menikmati masa pensiunnya. Tapi, siapa yang akan mengira bahwa meskipun usianya di angka lima puluh, jiwa kerakusan terhadap harta masih menggebu layaknya anak kecil serakah terhadap permen?
Casey hampir saja menjatuhkan topengnya saat ia menabrak d**a bidang seorang pria dengan aroma citrus dan rempah yang menggoda indera penciumannya. Casey enggan untuk menatap sang pria yang ditabraknya itu. Ia hanya meminta maaf pelan lalu melewati pria itu begitu saja. Namun, pria itu menahan tangan Casey dengan menggenggamnya, lalu ia mencondongkan tubuhnya mendekat untuk berbisik di telinga Casey.
“Kenapa begitu terburu-buru My Lady? Tak ingin bercengkerama sejenak dengan sang Tuan rumah?”
Casey segera menolehkan kepalanya, menatap ke arah pria dengan tinggi lebih dari seratus delapan puuluh senti senti itu. Ditemukannya senyum serta topeng hitam yang sama dengan yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Casey terbelalak, dia adalah pria yang duduk di meja bar tadi!
“Jika berkenan, aku ingin kita bisa mengenal lebih dekat. Izinkan aku mengenalkan diri, namaku Sean Archer Blaxton, pewaris Blaxton. Jadi, bolehkah kita sedikit berbincang seraya mengelilingi rumah ini, berdua?” tawar pria itu menarik pinggang Casey yang ramping karena korset yang digunakannya seperti menarik untaian kain.
Casey menyipitkan netranya ke arah pria itu, menelisik. Jadi tuan Blaxton bukan seorang pria tua dengan perut buncit seperti bayangannya?
Pria itu balas menatapnya dari balik topeng, “Jadi kau menolak kesempatan terbaik untuk melihat koleksi berlian keluarga Blaxton yang jarang sekali di pamerkan itu?” Tanyanya dengan kekehan pelan.
Casey terdiam seraya berpikir, benarkah ini tuan Blaxton yang dicarinya? Bagaimana bisa ia percaya bahwa orang di hadapannya ini adalah tuan Blaxton?
Dengan waswas Casey melirik Tom, namun Tom sepertinya terlalu sibuk bercengkerama dengan para tua Bangka pencinta emas lain. Tua Bangka sialan itu, melupakan misinya!
Casey berjengit saat pria itu menariknya ke sudut bar dengan satu gerakan cepat. Casey ingin berteriak, namun pria itu menyumpal bibirnya dengan ciuman panas, sementara satu tangannya membelai pinggang Casey yang terbungkus gaun satin membuat Casey merasa merinding juga berdesir hebat.
“Kau begitu menarik perhatianku dari awal kedatanganmu di balik pintu dengan tubuh indahmu. Semakin mempesona saat kau menolak tawaranku untuk minum bersama di bar itu. Picik sekali” bisiknya serak.
Casey berusaha memundurkan tubuhnya untuk melepaskan diri,
“Beraninya kau melakukan itu!” umpat Casey.
“Kau seharusnya berbangga hati karena kau mendapatkan ciuman pewaris Blaxton tanpa perlu berusaha keras mencari perhatian. Dan kau, sepertinya wanita terhormat? Blaxton tidak pernah meminta ciuman gratis. Baiklah, satu permata kecil itu hadiah atas kecantikan mu.” Ujar pria itu, lalu ia menyelipkan sebuah cincin bandul berlian biru gelap, namun begitu mempesona saat tersiram cahaya. Alangkah terkejutnya Casey, saat menemukan bahwa bandul itu adalah The Blue Moon Of Josephine. Itu adalah permata yang ia incar di misinya kali ini.
Melihat netra Casey yang membuka, pria itu tersenyum, “Seharusnya kini kau percaya bahwa aku adalah tuan Blaxton. Bahkan seharusnya kau menyadari itu dari saat aku memberikanmu welcoming drink. Tapi sepertinya kau terlalu polos untuk menebak.” Ia menarik salah satu lengan Casey dan mengaitkannya pada lengan kekarnya.
“Anda seharusnya tidak bersikap seperti ini. Bagaimana jika ada yang melihat?” bisik Casey dengan nada lembut yang dibuat-buat, ia membiarkan sang Tuan Blaxton itu menggiringnya ke suatu tempat tanpa perlawanan. Mungkin saja Casey akan mendapatkan lebih banyak berlian, bukan?
“Maka dari itu, kita harus bermain halus, sayang.” Bisiknya menuntun Casey menuruni sebuah tangga rahasia dibalik patung Hermest yang berada di sudut ruangan gelap sepi dari para tamu atau pelayan.
Kini keduanya memasuki lorong yang dipenuhi cahaya lampu terang, Casey terhenyak saat ia menemukan puluhan berlian terjejer rapi beralaskan beludru biru anggun di balik etalase kaca yang tebal.
“Oh my Godness!” seru Casey, melihat kilauan di balik etalase kaca tebal.
“Sekarang kau pasti senang menemukan tuan Blaxton yang sedang kau cari, bukan?” Tanya pria itu.
Dalam hati, Casey mengiyakan penuh semangat dan riang, namun detik selanjutnya, tubuh Casey menegang seketika. Alarm bahaya di otaknya berdering keras. Casey tersadar sesuatu, bagaimana pria ini tahu bahwa Casey mencari Tuan Blaxton?
Perlahan Casey memutar tubuhnya, lalu ia menatap pria itu waspada. Namun pria yang mengaku Tuan Blaxton itu tersenyum dengan tatapan yang sulit di jelaskan dan itu membuat Casey takut.
“Ahh … menjebak tikus dengan keju memang paling mudah ya,” lanjutnya lalu ia menyeringai hendak membuka topengnya.
Netra Casey memanas, pria itu menyindirnya. Jadi pria ini sudah tahu bahwa Casey mencari Tuan Blaxton?
“Tapi bagaimana pun, tikus tetaplah hama yang harus dimusnahkan bukan?” Pria itu menyeringai, “Jadi, katakan tikus, bagaimana sebaiknya aku memusnahkanmu?”