Chapter 14 : Rencana Pernikahan?!

1362 Kata
Casey mendengus menatap Sean yang dengan tenang menikmati potongan roti panggang bersama lelehan butter kuning di atasnya dengan khidmat. Setelah membahas rencana tentang the Oppenheimer semalam, dan tentu setelah perang sengit mereka, Casey begitu salut karena Sean bisa bersikap seakan tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Ia begitu tenang, layaknya air sungai yang mengalir ditengah hutan tanpa penghuni. Sementara Casey menjadi sedikit emosi dan kesal karena ia kekurangan tidur, semalaman ia bergadang mencari senjata yang dirasanya pas. Tentu saja ditemani Sean, pria itu menikmati aktivitas lap mengelap senjatanya mengingatkan Casey pada Tom. Mereka memiliki ekspresi dan sorot mata yang sama saat berhubungan dengan koleksi barang berharganya itu. Memuja dan gila. Casey tersenyum miris, jika diingat lagi, sifat menyebalkannya sama. Benar-benar jenis orang yang harus Casey jauhi. Casey tidak ingat jam berapa tepatnya akhirnya mereka tidur, setelah mengarungi waktu malam dengan keterdiaman akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat, benar-benar beristirahat dengan memejamkan mata di kamar yang terpisah. Tapi hal yang menyebabkan tidak berhenti sampai perang sengit mereka semalam. Dengan jam tidur yang sedikit, esoknya Casey harus bangun pagi sekali untuk ikut tradisi keluarga Blaxton yaitu melakukan Break fast bersama. Untungnya kali ini Casey bisa berpakaian kasual dan santai dengan menggunakan Dress baby blue yang telah disediakan Gloria dan Sean bersama kalung sederhana berbandul permata biru yang sesuai dengan dress selutut yang tengah Casey kenakan. Tanpa korset yang mencekik perutnya, tentu saja. Ini adalah pertama kali nya Casey bersyukur karena ia bisa menggunakan pakaian kasual. Kini ia mengerti arti dari menjadi cantik itu sakit untuk para Lady. Meskipun ditawari kemewahan tapi jika Casey harus hidup dengan gaya Lady, jelas Casey akan tetap memilih pekerjaan langkanya menjadi pencuri dari pada menukar kebebasannya untuk menjadi Lady. “Kau hari ini terlihat menawan sekali layaknya bunga yang baru mekar Nona Stone, kau juga nona Liu, warna kuning cerah cocok sekali untuk mu,” tuan Blaxton yang duduk di kursi utama antara Sean dan saudara kembarnya Sky memuji penampilan Casey dan Liu Yunwei dengan senyum teduh khas orang tua, Casey dan Liu Yunwei saling melirik ragu, keduanya terlihat bingung untuk menyapa, akhirnya keduanya memilih untuk saling melempar senyum canggung. “Terima kasih Tuan, anda juga tampak menawan dengan cravat itu.” Balas Casey memuji Tuan Blaxton yang bersetelan bangsawan era eropa, juga melirik Lexie yang tersenyum di balik sendoknya. Casey harus berbangga hati karena ia menghapal jenis-jenis pakaian bangsawan yang diajarkan Lexie. Casey tersenyum puas menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang berbangga hati. “Benar sekali, sangat cocok dengan anda.” Liu Yunwei menimpali. “Dia memang pecinta segala sesuatu yang berbau bangsawan Britain. Ah ya Bagaimana kalian menghabiskan malam kalian Nona Stone?” tanya Sky melirik Casey yang tersedak dengan pertanyaan Sky. Malam kalian, katanya? Apakah ia bertanya tentang urusan ranjang di meja makan keluarga? “Normal. Kami melakukan apa yang dilakukan sepasang kekasih. Haruskan aku menjelaskannya dengan detail?” Jawab Sean mewakili Casey, anehnya ia berbicara tanpa sedikit pun melirik Sky. Membuat Casey menyimpulkan bahwa keduanya benar-benar memiliki hubungan yang buruk. “Aku malah mempertanyakan malam mu. Kenapa kau tertarik pada hubunganku dengan nona Stone? Bukankah sebaiknya kau memikirkan rencana pernikahan mu dengan nona Liu? Jabatan, harta, kau sudah mendapatkan semuanya. Apa yang ingin kau tahui tentang hubunganku dengan nona Stone?” kali ini Sean menatap Sky yang terdiam menggenggam erat garpunya pisaunya namun tidak ada satu pun kata-kata yang keluar dari bibirnya. Sean memotong rotinya dengan potongan daging asap dan sayur, “Oh atau kau ingin belajar dari ku, bagaimana cara memuaskan wanita? Aku akan mengajari mu dengan senang hati.” Sean berbicara dengan nada yang begitu menyebalkan. Sepertinya orang ini memang dianugerahi bibir yang bisa memicu emosi seseorang. “Su-sudahlah. Bukankah tidak sopan membahas hal ini dimeja makan?” ujar Liu Yunwei melirik Sean dan Kai bergantian, mengingatkan. Casey yang juga sedang memegang pisau dan garpunya melirik pada masing-masing orang yang terlibat perang dingin itu. Eh ada apa ini? Apakah mereka mungkin terjerat cinta segitiga seperti dalam novel-novel? Menarik juga. “Di antara pria tidak ada kata sopan tidak sopan nona Liu, kekeke” Tuan Blaxton kali ini bersuara dengan kikikan tapi suara berkharismanya mampu membuat keadaan seketika menjadi hening. Casey kembali bermonolog dalam hati, ia mengakui bahwa orang-orang kaya memang di level yang berbeda dalam berbicara. Mendominasi dan mendominasi di setiap ucapan, mengucapkan kalimat benci dengan cara yang elegan. Casey menghela napas dalam hati, kenapa mereka tidak beradu pisau saja? Itu terlihat lebih seru. Melihat keadaan yang berubah demikian, Tom yang juga duduk diseberang meja Tuan Blaxton yang berbentuk oval panjang itu bersuara berusaha mencairkan suasana. “Jadi bagaimana pesta semalam? Aku begitu mabuk sehingga aku tidak mengikuti rangkaian acara.” Ujar Tom memotong rotinya dengan pisau. Bohong. Jelas bohong. Orang tua itu tidak mungkin tidur cepat, ia pasti berkeliling rumah mewah ini untuk mencari sesuatu, mungkin informasi. Casey berani bertaruh. “Kemenangan yang kosong. Aku menang melawan orang-orang yang bahkan tak mengerti tujuan mereka bermain judi apa,” ujar Tuan Blaxton yang mendapatkan kekehan dari Tom “Lalu mereka pulang?” “Ya, lebih banyak yang memilih pulang setelah acara selesai karena mereka kesal kehilangan banyak uang mereka, tapi ada juga yang menginap. Mereka tidur di kamar yang sudah disiapkan dan sarapan di kamar. Jamuan ini hanya khusus untuk keluarga Blaxton.” Terang Tuan Blaxton membuat Casey mengangguk-angguk dalam hati. Ia pasti ingin membuat keluarga calon tunangan anaknya merasa benar-benar seperti tamu khusus yang istimewa. Casey melirik Liu Yunwei terlihat murung. Ah Casey teringat sesuatu, jika ini khusus keluarga, maka di mana keluarga Liu Yunwei? Apakah tidak bisa datang karena bisnis? “Hmm, berarti aku dan putriku juga akan segera berpamitan, kami sangat senang bisa ada di sini, tapi ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan.” Ujar Tom melirik Lexie yang duduk di samping kirinya. “Tentu, kau bisa pulang kapan pun. Karena aku juga kebetulan harus pergi ke Hongkong hari ini, tapi putri mu? Kelihatannya Sean posesif sekali dengan putri mu itu. Aku tidak yakin ia akan melepaskannya.” Tuan Blaxton melirik Casey yang terdiam namun bersorak dalam hati karena mendengar kata pulang. Akhirnya ia bisa melihat ujung dari kesialan beruntun yang menimpanya ini. Masa bodo dengan the Oppenheimer untuk saat ini yang penting ia bisa lepas dari jerat Sean terlebih dahulu. Saat ia pulang ia bisa kembali ke rumah dan dia akan menceritakan semua rencana Sean pada Tom dengan harapan Tom bisa memberinya solusi agaf ia bisa terlepas dari cengkraman ancaman Sean karena gara-gara obsesi Tom pada Blue Moon of Josephine, kini ia terlibat ide gila seorang mafia kelas dunia seperti Sean- “Aku tidak mengizinkan Casey untuk pulang. Aku masih begitu merindukannya. Selama ini kami menjalani hubungan rahasia, sulit bertemu dan itu membuat jiwa ku menggila setiap waktu karena sulit untuk menemuinya.” Disuapan ke empat Casey, Casey menganga mendengar apa yang dikatakan Sean barusan. Untungnya ia tidak melakukan hal menjijikkan seperti menyemburkan makanannya. Casey segera melirik Sean tak setuju. Sean menangkap tatapan itu, namun yang selanjutnya terjadi, pria itu malah semakin mengatakan hal yang yang konyol dan tidak masuk akal. Sean menepikan garpu dan pisaunya, menarik tisu dan mengusap bibir Casey yang menatapnya dengan tatapan tak terima. “Malah aku dan Casey sepakat bahwa kami akan tinggal bersama di rumah ku sampai kami menikah. Kami terlalu lama menjalani hubungan jarak jauh. Anda tentu tidak keberatan kan, Ayah mertua?” lanjut Sean yang seketika membuat garpu Casey tergelincir dari jarinya menghasilkan bunyi dentingan yang cukup nyaring. Apa? Apakah Casey baru saja mendengar hal yang sedikit pun tidak pernah ia bayangkan? “Aku juga ingin memberi gambaran pada Casey bagaimana saat nanti kami menikah. Pernikahan kami pasti akan bahagia karena kami menikah atas cinta, bukan karena obsesi untuk menguasai harta.” Tambah Sean lalu mengelus punggung tangan Casey, kepalanya menghadap pada Casey, namun Casey tahu kemana tujuan sorot netra Sean yang sesungguhnya. Ia menatap Sky seolah menyindirnya. Apakah hubungan mereka sungguh seburuk ini? Casey semula berpikir bahwa mereka mungkin terjebak cinta segitiga seperti kisah-kisah dalam novel tapi sindiran Sean barusan memberi Casey pandangan lain. Casey tiba-tiba menggeleng samar, kenapa ia malah jadi memikirkan konflik dua bersaudara itu? Ia sedang berada dalam masalah sekarang. Seharusnya ia berpikir cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. “Kau senang, bukan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN