"Kau ingin mengintip ku humn?" tanya suatu suara yang Casey tahu sebagai suara Sean! Casey segera mengedarkan tatapan nya was-was.
Ia melirik ke arah ranjang, namun ia tidak melihat siapa pun di sana, ia kemudian menoleh ke arah kiri, juga tidak menemukan apa pun di sana. Jadi di mana pria itu sebenarnya berada? Casey yang berjalan hati-hati memundurkan tubuhnya, tiba-tiba tersentak saat merasakan punggungnya menyentuh sesuatu bersamaan dengan aroma segar yang maskulin.
Casey segera memutar tubuhnya, menatap Sean yang berdiri di sana dengan tatapan campur aduk, ternyata Ia baru saja menabrak d**a Sean! Dan tunggu kenapa pria itu bertelanjang dadaa? Casey tiba-tiba merasa malu, namun untungnya ia bisa segera menguasai ekspresi wajahnya, menunjukkan ekspresi datar berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah.
"Aku pikir kau mungkin sedang bersolo ria karena aku tidak berniat memberimu--ehm satu kata, tiga huruf yang di awali 'S' dan diakhiri kata 'X' . Ingat bahwa disini aku yang dirugikan?" Ungkap Casey memalingkan wajahnya saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Dehaman pelan terdengar dari Sean, Casey menoleh dan menatapi Sean sedang menutup bibirnya dengan tangan seperti seorang yang sedang batuk, namun sorot matanya terlihat menertawakan sesuatu yang lucu.
Dengan tatapan penuh pertanyaan, Casey mempertanyakan apa yang membuat Sean ingin tertawa secara tidak langsung. Namun Sean malah merendahkan kepalanya di hadapan Casey, menatap Casey dengan penuh intimidasi saat tatapan mereka bertemu, Casey hendak memundurkan tubuhnya karena merasa risih saat hidung mereka nyaris bersentuhan. Namun Sean menahannya.
"Kau tidak penasaran dengan seks-? Aku yakin orang tua mu belum mengajarinya." Ujar Sean yang seketika membuat Casey merasa wajahnya memanas.
"A-apa maksud mu?"
Sean tersenyum simpul, "Ragu mengatakan kata kotor, dan memilih mengatakan kata itu dengan bermain tebak kata? Siapa lagi yang bisa melakukan hal konyol seperti iti selain bocah tanggung yang sedikit pun tidak berpengalaman." Sean kembali memangkas jarak di antara mereka, "Aku bisa menjadi pembimbing mu, dan mengajari mu secara langsung."
Casey menyipitkan netranya, lalu mendorong wajah Sean dengan telapak tangan kanannya.
"Tidak, terima kasih. Kau lupa bahwa aku seorang Lady terhormat, polos, murni. Aku anti dengan penjahat wanita seperti mu." Sindir Casey sementara Sean mengusap wajah nya yang tadi di dorong Casey.
"Berakhir menjadi wanita membosankan karena sedikit pun tidak berpengalaman?"
Sebelah alis Casey berkedut, "Aku mempelajari teorinya dari buku dan disempurnakan dengan film Blue." ujar Casey bangga, tak ingin berdebat lagi, ia memilih memutar balik tubuhnya.
Tatapan Sean masih tertuju pada gadis yang menurut nya begitu kekanakan itu, "Mempelajari teori dari buku? Terdengar menarik. Aku mempelajarinya autodidak. Kalau begitu, kenapa kau tidak berbagi ilmu pengetahuan mu itu padaku?" ujar Sean namun bagi Casey itu jelas adalah cemoohan.
"Belajar lah sendiri dari buku, jika aku saja bisa belajar dari buku, bagaimana mungkin kau tidak bisa melakukan hal yang sama? Ah ... kecuali kau tidak mempunyai kecerdasan sedikit pun, sederhananya tidak memiliki otak. Ingin aku mengetuk kepala mu itu untuk memastikan kau masih memiliki otak atau tidak?" Tawar Casey menunjuk kepalanya.
Sean tersenyum geli, gadis ini benar-benar menyebalkan namun ia semakin bersemangat untuk menggodanya.
Casey berjalan ke arah ranjang Sean, ia memutar bola matanya berpikir apakah seharusnya ia kabur saja?
"Aku tidur diatas kasur kau tidur di sofa." ujar Casey lalu melepas sepatunya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang Sean. Masa bodoh dengan gaun dan riasan wajahnya.
"Kalau begitu kau menolak berliannya." ujar Sean seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Casey terperanjat lalu mendudukkan kembali tubuhnya segera, "Aku kira kita sudah setuju bahwa aku menjadi pihak yang dirugikan dan aku mendapat berliannya"
Sean terkekeh, "Sepertinya kau salah menangkap pengertianku. Dengar aku mengatakan bahwa kau harus menjadi tunanganku dan kau memiliki semua berlian, dengan catatan kita bertunangan. Aku harap kau tidak berpura-pura bodoh, ah atau kau memang bodoh?" Sean bertanya dengan nada mencemooh yang sama seperti yang tadi Casey lakukan padanya. Casey menyipitkan netranya, jadi ia berniat balas dendam?
"Dan ya, kita memang bertunangan? Kau tuli tidak mendengar bahwa ayahmu sudah mengumumkan pertunangan kita tadi? Jadi dimana letak masalahnya?" Tanya Casey.
"Kita bertunangan dan ya, kau tahu apa saja yang dilakukah oleh sepasang kekasih yang sudah bertungan?" Sean berbicara seraya melangkah ke arah ranjang.
Menyadari ke mana arah pembicaraan ini, Casey menyilangkan tangannya di atas perut, "Kau gila. Aku tidak menyutujui itu! Aku akan menjadi orang yang dirugikan jika aku memberikan mu mahkota mahal ku sementara aku hanya mendapatakan dua belas berlian?! Astaga! Lebih baik aku membuka kaki ku dihadapan ayahmu dan meminta semua berliannya." ujar Casey melipat tangan diperut. Namun bukannya menjawab, Sean malah terdiam menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Casey jelaskan. Dan sialannya tatapan itu malah membuatnya merinding dan takut bersamaan.
Sean melanjutkan langkahnya pelan ke arah ranjang, membuat jantung Casey terasa meloncat-loncat karena ketakutan. Ianterus beringsut memundurkan tubuhnya ke samping ranjang mengantisipasi apa yang akan dilakukan Sean.
Apakah Sean akan menyergapnya pada pelukan tangan kekarnya? menciumnya paksa, kemudian ia merobek gaun Casey lagi dan memasukkan organ vitalnya pada dirinya, menghujam dan merobek hymen-nya secara paksa?
Oh demi Tuhan Casey tak mau itu terjadi. Rasanya pasti sakit sekali. Ia harus menolak, ia bisa menjatuhkan Sean, meninju atau menendang kebanggaan. Netra Casey bergerilya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan. Lampu? Sepatu? Ah ya ia bisa menendang pria itu. Casey tercekat, melihat ada sebuah hand gun tergeletak di atas nakas tak jauh dari Sean.
Casey merutuk, bagaimana jika pria itu malah menembaknya bahkan sebelum ia melawan? Casey sungguh tidak beruntung. Kenapa ia harus terjebak dengan orang seperti ini?
Casey menghela napas berat, haruskah ia berpura-pura memasrahkan diri saja padanya lalu ia mencekik pria itu hingga pingsan, saat pagi datang, dia kabur?
Casey nyaris saja terjatuh dari samping kiri ranjang karena ia benar-benar sudah berada diujung. Sementara Sean kini telah mendudukkan tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan Casey, dan tak ada hal yang bisa Casey lakukan untuk mencegah kemungkinan terburuk yang akan pria itu lakukan terhadapnya.
Casey merutuk, Ah bodohnya ia tak meminta senjata saat mendapat kesempatan bertemu Tom tadi, tapi selain itu entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa melawan Sean dengn kemampuan bela dirinya pun tidak akan membantu sama sekali.
Ia tengah berada di istana musuh dan ia bukan wonder woman, atau Cat woman, yang bisa melawan puluhan penjaga pria dengan tangan kosong. Itu jelas mustahil. Belum lagi jika ia melakukan tindakan kriminal pada orang yang berpengaruh kemungkinan ia akan ditangkap sangat besar. Terlalu banyak saksi mata.
Casey berjengit saat melihat sean yang sudah berada teramat sangat dekat dengannya, memajukan wajahnya pada Casey, membelai wajah Casey dengan hembusan napasnya dengan aroma mint yang begitu menyeruak.
Casey tidak bisa berkutik, ia hanya bisa memejamkan matanya diantara perasaan was-was, pasrah dan menikmati sengatan sensasi yang Sean timbulkan, menyebalkannya, adalah fakta bahwa sentuhan itu cukup menggoda? Membuat perutnya tergelitik, namun gelitikan yang menyenangkan. Sial! Ini bukan waktu yang tepat untuk memuji pria misterius yang jelas-jelas tengah berada dalam atmosfir ketegangan seksual.
"Kenapa memejamkan mata?"