Chapter 5 : Gloria sang Maid

1710 Kata
Casey melangkah mantap meskipun dress satinnya--ah ralat, maksudnya dress satin Lexie sobek di bagian depannya. Untungnya Tuan Muda Blaxton yang sekarang berjalan di hadapannya, memberikannya jas untuk menutupi robek gaun yang disebabkan pria itu. Mengingat gaun ini milik Lexie, Casey menarik napas berat, membayangkan bagaimana reaksi gadis pengoleksi gaun itu nanti saat mereka pulang. Casey pasti akan di maki habis-habisan. Casey memekik, saat Sean berhenti di depan sebuah pintu kamar dan karena pria itu berhenti mendadak, Casey hampir menabrak punggung pria itu, jika saja ia tidak memiliki refleks yang bagus. Untung saja ia sudah melatih refleks-nya dengan sangat baik. Sean berbalik menatap Kimmy tanpa topengnya, "Kita sampai. Kau bisa menggunakan kamar ini. Akan ada maid yang membantu mu bernama Gloria. Katakan saja apa yang kau butuhkan padanya, kita akan bertemu lagi di hall setelah Gloria memperbaiki penampilan mu." Ia menatap Casey dari atas hingga bawah, lalu dengan tatapan merendahkan--bagi Casey, ia membuka pintu kamar itu. Casey menggeram dalam hati, dasar pria menyebalkan. Lihat saja jika nanti Casey bisa balas dendam. "Apa yang kau lihat? Cepat masuk." Titah Sean dengan tangan terlipat di perut. Casey hanya bisa menurut meskipun ia sempat menunjukkan ekspresi kesalnya. Dan saat masuk, ia disambut tiga maid yang berdiri sejajar di dekat pintu, lalu menunduk hormat pada Casey. "Selamat datang, Nona. Saya adalh Gloria, saya maid utama yang akan melayani anda." Sapa Maid yang berada di tengah-tengah, sementara Casey bermonolog; ah ini pasti maid yang akan melayaninya. "Saya Cherry, maid yang berada di bawah maid Gloria." Maid yang di kanan memperkenalkan diri. Maid ini berwajah sedikit oriental.  "Saya Della, maid yang juga berada di bawah maid Gloria, untuk melayani anda di pesta ini. Senang bertemu dengan Anda, Nona." Kali ini, maid yang berada di kiri lah yang menyapa Casey. Casey menunduk sopan sebagai bentuk balasan atas sambutan mereka, Casey merasakan canggung, ia biasa melihat para Lady mengangkat sedikit gaun mereka saat memperkenalkan diri, harus kah Casey menirunya? Eh tunggu, apakah mereka melakukan itu hanya pada saat akan berdansa pada pria-pria yang membuat mereka tertarik? "Bukan penampilannya kembali layak, dan antarkan kembali ke hall."  Casey membelalakkan matanya. Ia akan ditinggalkan? Sean membalas tatapan Casey sejenak, sebelum detik selanjutnya ia benar-benar melengos meninggalkan Casey yang mematung di dekat pintu. Tuan muda itu sungguh menyebalkan! Ekspresi dan tatapan sinis itu membuat Casey ingin sekali menusuk dua bola mata itu agar pria itu bisa belajar bagaimana menatap seseorang dengan benar dan sopan. Casey berani bertaruh pasti pria itu dibenci banyak orang. Tidak banyak orang yang menyukai pria sombong dan arogan. "Silakan, ke sebelah sini, Nona." Casey menoleh saat mendengar suara maid Gloria bersamaan dengan dua tangan yang merangkul Casey, dengan hati-hati mereka mengarahkan gadis itu untuk bergerak menuju kursi kayu dengan busa beludru merah di depan sebuah cermin. Casey cengengesan dalam hati. Apakah para Lady sungguh diperlakukan seperti ini? Ia jadi merasa seperti nenek tua yang sedang dibantu untuk berjalan atau yang paling buruk, ia merasa ia seperti wanita penyakitan yang sedang dibantu dua perawat. Casey harus jujur, bahwa perlakuan ini tidak membuatnya nyaman, sama sekali. Casey melepas dengan hati-hati rangkulan dua tangan maid muda yang jika Casey tidak salah ingat bernama Cherry dan Della ini. "Aku senang dengan sambutan dan cara kalian memperlakukan ku, tapi aku hanya suka diperhatikan oleh maid ku sendiri." Bohong Casey dengan tawa hambar di dalam hati karena kebohongannya, maid sendiri? Jika Lexie dan Emma mendengar ini, Casey berani jamin bahwa dua orang itu akan menertawakannya habis-habisan. Dua maid itu bertukar tatapan bingung lalu menatap Gloria seolah meminta pendapat dan perintahnya. "Tujuan kita di sini adalah untuk membantu dan membuat nyaman Nona Casey. Jika Nona Casey tidak merasa nyaman, maka kita akan dipecat. Jadi ikuti semua perintah Nona Casey." Gloria memberi solusi pada dua orang maid iti tanpa terlihat sedikit pun kebingungan. Dalam hati Casey merasa kagum, padahal tiga maid ini--termasuk Gloria sang pemimpin, terlihat cukup muda. Tapi Gloria benar-benar bersikap seperti karakter kepala maid dewasa dalam film yang biasanya diperankan nenek-nenek bawel dan ketus. "Terima kasih, atas perhatian mu, Gloria." Ujar Casey dengan nada sok lembut berusaha semaksimal mungkin, membuat dirinya terlihat seperti Lady. Jika Gloria adalah seorang yang pangkatnya sama dengan kepala Maid, maka Casey tidak boleh setengah dalam aktingnya atau ia akan ketahuan di sini, sekarang juga. Gloria membalas ucapan terima kasih Casey dengan segurat senyum tipis, lalu melangkah mendahului Casey dan dua maid tadi mengikutinya segera. Saat Casey mengekori langkah Gloria dengan ujung nwtranya, Gloria melangkah ke arah lemari, mengeluarkan sebuah korset. Sementara dua maid lain membawa sepatu, dan sepertinya suatu tas berisi makeup. Ah sial, here we go again. With all these stupid things. Casey mengumpat dengan tatapan miris yang berusaha ia sembunyikan. Sementara Cherry dan Della tengah melucuti pakaiannya yang compang camping sekarang. "Jadi ini adalah, satu kamar tamu kediaman Blaxton ya?" Casey yang tengah mengagumi desain interior itu memekik saat Gloria, maid yang membantunya berpakaian menarik korset nya cukup kuat dan secara tiba-tiba. "Bisa kau longgarkan sedikit ikatan korsetnya? Itu mencekik perutku." pinta Casey menatap sang maid melalui cermin yang memantulkan bayangannya di sana. Gloria terlihat terkejut, lalu mengangguk mengerti. "Maafkan saya nona, biasanya para Lady senang jika korsetnya diikat dengan kencang. Saya akan sedikit melonggarkannya." Maid itu kembali menarik tali korset Casey dan melonggarkannya, membuat Casey bisa menghirup oksigen lebih banyak. "Aku cukup unik, aku berbeda dengan Lady lain. Lagi pula aku orang bukan benar-benar murni darah eropa." ungkap Casey. Pelayan itu hanya bisa menunduk lalu melangkahkan kakinya kembali, ke arah satu lemari besar dan mengeluarkan satu gaun berwarna merah namun tidak terang dengan bordir dari bagian d**a hingga pinggang dan bawah gaun yang mekar seperti bunga Dahlia merah yang terbalik. Cukup glamor, namun Casey menunjukkan ekspresi asam saat melihatnya. Ah dress Satin saja sudah merepotkannya, apalagi dress yang lebar dan mekar? Hari ini benar-benar hari sial yang sempurna. "Kau memiliki gaun lain yang berwarna lebih deep dan tidak mencolok? Seperti hitam, biru atau abu-abu? Merah cukup mencolok bagi kum dan aku kurang suka sesuatu yang mencolok." ujar Casey menatap gaun itu dengan tatapan ragu. Ini bukan seleranya. "Saya juga ingin merekomendasikan gaun lain pada anda. Tubuh anda mungil dan warna tua seperti ini kurang cocok. Tapi Tuan Muda memerintahkan saya untuk membrrikan anda gaun berwarna merah Garnet. Katanya itu identitas anda." Casey memutar bola matanya malas, Tuan Muda itu ternyata seorang pesuruh yang sepertinya otoriter. Jelas itu bukan tipe yang diharapkan Casey, dan pria itu malah mengatakan tunangan? untung saja ini hanya pertunangan bohongan.  "Mari kita lihat gaun apa saja yang disediakannya." Casey mengajak tubuhnya untuk membuka lemari pertama dari deretan lemari lain sementara tubuhnya hanya dibungkus korset talinya. "Ti-tidak nona, lebih baik sa-" "Hei, ini pakaian dalam wanita? I-ini lingerie?" pekik Casey saat melihat deretan Lingerie berbagai macam model digantung dengan sangat apik di dalam lemari itu. Parahnya, itu lebih dari satu. "Katakan padaku ini kamar siapa?" tanya Casey masih bereksplorasi dengan semua lemari dikamar itu. "Kamar tamu, Nona. Semua kamar tamu disini dilengkapi dengan fasilitas seperti ini." ujar pelayan itu menghentikan aktivitas buka-membuka lemari Casey dan menarik Caseu untuk mengenakan gaunnya. Sedari tadi Casey hanya berjalan dengan korset berwarna putih gading yang hampir serupa dengan warna kulitnya yang putih. Dan itu membuat tiga maid itu sedikit kesal. "Tolong segera kenakan gaun anda Nona, atau anda berniat membuat saya dipecat?" ungkap Gloria lagi yang membuat Casey tersenyum. Pelayan ini ternyata tidak sesopan seperti di awal, namun Casey justru lebih menyukai pelayan seperti ini, langsung menuju inti tanpa berbasa-basi. Ah, ia seharusnya meminta satu pelayan pribadi pada Tom, ternyata diperlakukan bagai Lady cukup menyenangkan.  "Tentu, tentu." jawab Casey akhirnya mengalah dan menghampiri sang Maid bermata runcing bernama Gloria tadi. "Gloria berapa lama lagi? Tuan muda sudah menanyakan kesiapan Lady Casey Stone." Casey dan pelayan yang ternyata bernama Minseok itu menoleh ke arah pintu saat mereka mendengar suara maid lain yang menyeru dibalik pintu kamar yang ditempati Casey. "Tunggulah Martha, katakan aku membutuhkan lima belas menit lagi." Gloria menjawab malas lalu melebarkan gaun merah Garnet itu memberi isyarat untuk menenggelamkan tubuhnya di gaun itu. Dan Casey menurutinya dengan gerakan cepat. "Aku salut tuan muda mu itu memiliki gaun yang pas untuk tubuhku." ujar Casey mematut tubuhnya didepan cermin. Gloria tak menjawab dan memilih merapihkan rambut Casey lalu menyelesaikannya dengan cepat, setelah memberi touch up terakhir dibibir Casey dengan lipstik merah gelap, deep wine dari tangan Della, Gloria tersenyum simpul meskipun hanya hitungan detik. "Tuan muda menyukai wanita berlipstik deep wine, saya yakin itu pengetahuan dasar untuk menjadi wanitanya. Kali ini maid bernama Cherry yang bersuara. Casey melirik sekilas maid bernama Cheryy tadi, sekilas tersenyum usil, "Tuan mu itu, agresif dan otoriter ya? Kau lihat gaunku? Ia merobeknya."  "Sudah lebih dari lima wanita mengalami hal seperti itu Nona" sahut Gloria. "Dia memiliki banyak wanita?" Casey menahan dagunya dengan tangan, bersemangat untuk mengorek berita. "Tapi ia tidak memiliki wanita simpanan Nona, semuanya hanya untuk hiburan. Anda tak perlu khawatir. Nah, sudah selesai Nona, ayo kita keluar sebelum gaun ini disobek lagi oleh tuan muda." Ujar Gloria seraya melangkah membukakan pintu kamar untuk Casey. Jadi tuan muda otoriter itu senang berganti wanita? Bukan hal yang mengejutkan sih. Orang bergelimangan harta jelas boleh melakukan apa yang mereka mau bukan?  Casey berjalan diikuti oleh Gloria dan Cherry. Maid yang satunya harus tinggal untuk merapikan kamar. "Kau serius dia salah satu kekasih Tuan Sean? Dia lebih pendek dari kekasihnya yang lain." bisik salah satu pelayan itu pada Gloria. dan itu membuat Casey penasaran apakah gadis itu memang sungguh menyindirnya atau ia merasa bahwa gelar kekasih Tuan muda itu lebih cocok untuknya . Gloria terdiam sejenak,"Sebaiknya kau segera mengepaki pakaianmu. Karena sebentar lagi kau akan ditendang dari rumah ini berkat lidahmu yang tidak kau jaga itu. Nona Casey adalah tunangan Tuan muda Sean dan itu akan disahkan malam ini." Gloria berujar dingin namun sukses membuat Casey menganga. Aura Gloria sungguh tak terbantahkan. Wajar ia menjadi pemimpin. "Ma-maaf.. Tolong jangan adukan hal ini pada Tuan-" "Kenapa kau minta maaf padaku? Kau seharusnya meminta maaf pada Nona Casey." Ujar Gloria dengan nafa sinis yang mematikan. "Ta-tapi...." "Sebaiknya kau berdoa, karena sekarang nasib mu berada di tangan Nona Casey." jawab Gloria lagi meninggalkan Cherry yang berjalan dengan wajah pucat pasi. Gloria sungguh luar biasa! Casey sudah menduga bahwa Glorua bukan maid sembarangan. Tapi itu buat Casey sedikit khawatir identitasnya akan diendus Gloria. Apakah ini sungguh-sungguh tidak akan membahayakannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN