"Na, jangan marah ya? Tadi tuh cuma bercanda, aku nggak bener - bener serius," ucap Yama penuh penyesalan. Ia menatap Tiana yang kini sudah duduk sambil menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. "Na, jangan gini dong ..." Tangan Yama meenggenggam tangan kanan Tiana. Tiana menatap kosong ke depan, seakan tidak ada yang dipikirkan oleh gadis itu. Lalu tiba - tiba air matanya mengalir. Gadis itu menangis dalam diamnya. "Na ... kenapa nangis? Na, tolong maafin aku, ya?" lanjut Yama. Ia sangat takut, takut kalau Tiana tidak menerima permintaan maafnya. Ia juga khawatir melihat keadaan Tiana sekarang, gadis itu menangis. Demi Tuhan Yama! Tiana menangis! Dan itu karenamu! "Tiana ... tolong cerita sama aku, kamu kenapa? Kenapa tiba - tiba nangis? Jangan buat aku takut, Na." "Aku ..." Yam

