Sudah seminggu Tiana menjalani terapi pada seorang psikiater. Dan hasilnya ia merasa lebih ringan dan nyaman, seakan mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya dengan perlahan menghilang dan tak pernah muncul lagi. Ia juga senang karena setiap kali terapi, Yama selalu menemaninya. Tiana semakin merapatkan tubuhnya ke Yama. Ia mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah lelaki itu, semakin Tiana menatapnya, semakin besar pula rasa cinta dan sayang kepada suaminya. Ia menyenderkan kepalanya di pundak Yama, mereka berdua berjalan keluar dari sebuah toko kue. Hari sudah semakin malam. Dan udara dingin membuat kulit mereka meremang. “Aku suka deh, Na.” “Suka apa?” tanyanya. “Kamu nempel-nempel gini,” jawab Yama seraya tersenyum kecil. Tiana mengulum senyumannya. “Aku juga. Wangi Kak Yama enak

