Mila segera lari ke lantai atas untuk menemui Tiana setelah ia mendapatkan kabar dari seorang polisi lewat telepon. Jantungnya berdetak dengan kencang membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Bahkan tangisnya sudah tak bisa dibendung, rahang bawahnya gemetar. Ia sungguh ketakutan. “Tiana,” panggilnya ketika ia membuka pintu kamar Yama. Dilihatnya gadis itu yang terduduk di atas kasur dengan pandangan kosong seperti orang linglung. “Tiana ayo ikut Mama.” Mila meraih tangan kanan Tiana agar gadis itu berdiri. “Ma ... ini mimpi ya? Ini gak beneran kan?” ucap Tiana pelan. Mila menggigit bibir bawahnya mendengar hal itu. “Tiana sayang ... ayo ikut Mama yuk, kita liat keadaan Yama.” “Ini mimpi, Ma! Ini mimpi! Tolong bangunin aku, Ma,” ujar Tiana histeris seraya menampar waja

