Karena tak kunjung dapat jawaban dari Tiana, Abrar pun mengangkat telepon itu. "Na ... Abrar maksa ke kamar mandi tadi—" "Ini gue, Yam." "Brar, tolong ... bisa gak lu keluar dulu." Dari suaranya, Abrar mendengar suara Yama yang samar-samar. Sepertinya ia juga berbicara dengan pelan agar tak ketahuan siapapun. "Gue minta penjelasan lo, Yam ... sebenarnya lo sama Tiana ada hubungan apa sih?" "Oke ... oke ... nanti gue jelasin, sekarang lu keluar dulu, biarin Tiana di dalam." Abrar kini menatap Tiana yang memainkan kedua jarinya dengan gugup. Sepertinya gadis itu mulai ketakutan. "He'eh, aing ge rek kaluar ieu, pokokna mah, Yam, maneh kudu ngajelaskeun ti mimitina kumahanya!" (He'eh, gue juga mau keluar sekarang, pokoknya mah, Yam, lo harus ngejelasin dari awalnya bagaimana!) "

