Awalnya, Yama berpikir bapak mertuanya itu sudah mengetahui segala hal yang terjadi sehingga pria paruh baya itu meneleponnya. Tapi ternyata tidak. Yama bisa menghela napas lega sekarang. Lelaki itu pun mematikan ponselnya lalu menaruhnya di saku celana. "Itu bapak, Kak?" ucap Tiana. Yama mengangguk, "Iya, dia nanyain kamu kabarnya gimana, terus juga disuruh nginep ke rumah udah lama nggak nginep lagi," jawabnya. "Kalau nanyain kabar, Bapak suka telepon aku kok, ini malah sampe Kak Yama juga diteleponin?" Tiana berucap dengan kening yang mengerut. Lelaki itu tersenyum kecil sembari meminum es teh manisnya. "Ya, wajar dong, kamu kan emang udah tanggung jawab aku, Na." Wajah Tiana merona mendengarnya. Setiap kali Yama berkata seperti itu, bagaikan ada gerombolan kupi - kupu yang b

