Yama teringat kejadian ketika ia berusia 13 tahun. Saat itu, setahun setelah kepergian adiknya—Arinka. Yama yang baru memasuki sekolah menengah pertama membuat keributan dengan teman sekelasnya. “Pak, Bu, Yama itu sepertinya anak yang emosian, dia mudah sekali terpancing emosinya ketika temannya mengajaknya bercanda,” ujar gurunya ketika kedua orang tuanya dipanggil ke sekolah karena ulahnya. Ayahnya langsung menatap dirinya dengan tajam. Yama menundukan kepalanya karena ia merasa terintimidasi. “Maafkan anak saya, Bu. Kalau boleh tau, temannya di rawat di rumah sakit mana? Dan bagaimana keadaannya, Bu?” ucap Mamanya dengan nada khawatir. “Kami akan meminta maaf kepada mereka. Karena ulah Yama, anaknya sampai harus dilarikan ke rumah sakit.” “Aku gak salah! Dia duluan yang mulai,”

