Tiana takut. Ia merasakan perutnya yang keram. Ia bahkan hampir meringis jika tidak mengingat bahwa di sebelahnya ada Elis. Tangan kanannya mencengkram seragam di bagian perutnya. Kening gadis itu mengerut dalam. Perutnya terasa keras dan mengetat secara tiba - tiba. Dan akhirnya, ringisan pelan keluar dari bibirnya. “Na, kenapa?” tanya Elis sambil menatap Tiana bingung. “Ehm, ini ... ini aku ... lagi mens ... iya lagi mens hari pertama ... sakit perutnya.” Tiana berusaha untuk meyakinkan Elis. Elis pun mengangguk mendengarnya. “Sakit banget?? Mau izin ke UKS aja nggak, Na?” Tiana berpikir sejenak. Usulan dari Elis cukup menarik perhatiannya. Mungkin sedikit beristirahat bisa membuat dirinya lebih baik lagi. “Boleh deh, ayok temenin aku, Lis.” Mereka berdua berdiri, lalu berjalan

