Pagi ini, Tiana sungguh bingung. Ia menatap selembar kain panjang di atas wastafel dengan tatapan nanar. Lalu dirinya menatap ke cermin. Tampak di cermin pantulan seorang gadis yang hanya memakai pakaian dalam dengan perut yang mulai membuncit. Ia menggigit jarinya, sungguh dirinya bingung. Di satu sisi, ia ingin menyembunyikan kehamilannya, tapi di sisi lain ia juga takut jika terjadi apa-apa kepada calon anaknya. Tiana sudah menyayangi janinnya sekarang, makanya ia tak mau jika calon anaknya merasa kesakitan. "Na ... udah belum? Kamu ngapain sih?" tanya Yama dari luar kamar mandi. Tiana memejamkan matanya sejenak. "Iya, ini sebentar lagi udah ..." Pada akhirnya, ia harus melakukan hal itu. Tiana meyakinkan dirinya semua pasti akan baik-baik saja. Menghela napasnya sejenak. Tiana

