"Kenapa muka kamu pucet banget, Na?” tanya Elis sambil memakan cimol yang sempat ia beli di kantin sekolah. Sekarang, ia dan Tiana tengah berjalan menuju jalan raya untuk naik angkot. Elis merasakan ada yang berbeda dengan temannya itu, karena seharian ini Tiana hanya diam saja dan tak banyak bicara dengannya. Elis jadi bingung. “Kamu ada masalah, Na? Dari tadi di kelas nggak ngomong apa-apa,” lanjutnya. Tiana menatap Elis sejenak, lalu gadis itu tersenyum kecil. “Gak ada kok, Lis, aku baik-baik aja.” “Gak biasanya kamu tuh begini, makanya aku heran. Apa kamu habis dijahilin lagi sama Kak Devi dan kawan-kawannya?” Tiana menggeleng pelan. “Nggak, Lis.” “Syukurlah kalau begitu,” Elis kembali memakan satu cimol ke dalam mulutnya. “Oh, aku sampe lupa, itu tadi berita di mading beneran

